Beranda Literasi Pandemi Geng Motor, “Siri” Yang Terdistorsi Atau Situasi Yang Anomi? 

Pandemi Geng Motor, “Siri” Yang Terdistorsi Atau Situasi Yang Anomi? 

0
Moch. Fauzan Zarkasi, S.H., M.H.*
Moch. Fauzan Zarkasi, S.H., M.H.*

Oleh: Moch. Fauzan Zarkasi, S.H., M.H.*

Membangun kota itu mudah. Tinggal gelontorkan anggaran, lalu beton-beton akan tumbuh menjulang. Flyover berdiri. Mal bertambah. Kafe-kafe baru bermunculan setiap bulan. Kota pun terpoles menjadi etalase modernitas yang berkilau. Tapi membangun manusia? Nah, itu perkara lain.

Lihatlah Makassar hari ini. Mentereng. Kafe-kafe di kawasan “hewan-hewan” selalu penuh sesak. Konser musik nyaris ada setiap pekan. Di Trans Studio Mall, orang-orang sibuk memamerkan gawai terbaru sambil tertawa riuh. Dari kejauhan, kota ini terlihat makmur. Seolah semua orang sedang ikut menikmati pertumbuhan yang sama. Padahal tidak.

Di balik lampu-lampu kota yang gemerlap itu, ada lorong-lorong yang menyimpan keresahan. Ada anak-anak muda yang tumbuh sambil menyaksikan kemewahan dari luar pagar. Dan ketika malam semakin larut, pesta kemakmuran itu memperlihatkan wajah aslinya.

Raungan knalpot brong mulai memecah jalanan. Busur melesat tanpa ampun. Ketakutan mengambil alih kota yang beberapa jam sebelumnya sibuk tertawa di dalam mal. Di situlah ironi kota ini: ekonomi tumbuh, tetapi rasa aman justru runtuh. Kita membangun gedung tinggi, tetapi perlahan kehilangan kendali atas generasi mudanya sendiri.

Perut yang Lapar di Tengah Kota yang Pamer

Pejabat boleh bangga memamerkan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen. Secara statistik, Makassar memang tampak menjanjikan. Tapi coba tanya para orang tua di lorong-lorong kawasan utara maupun selatan: berapa persen dari pertumbuhan itu yang benar-benar mampir ke piring makan mereka? Jangan-jangan, pertumbuhan itu cuma angka cantik di atas berkas laporan, sementara sejumlah warga harus megap-megap bertarung dengan kenaikan harga.

Masalahnya, ekonomi kita hanya berlari kencang di sektor padat modal. Mal tumbuh, kafe premium launching setiap bulan, tapi lapangan kerja buat remaja yang cuma punya ijazah dan keterampilan seadanya itu terkesan masih minim. Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih bertengger di kisaran 9.6 persen (tertinggi di Sulawesi Selatan) dan mayoritas korbannya adalah anak muda. Alhasil, di layar ponsel mereka disuguhi kemewahan tanpa jeda, namun di dunia nyata, mereka hanyalah penonton yang gigit jari di pinggir jalan.

Kenyataan pahit ini makin terkonfirmasi jika kita membedah Indeks Gini Makassar yang kerap bertengger di angka 0,39. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahwa “kue” pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir orang di puncak piramida.

Saat si kaya sibuk mengantre di resto “All You Can Eat”, anak-anak di lorong sebelah justru pening memikirkan cara agar tetap terlihat “keren” saat nongkrong. Di sinilah titik ledakannya: kemiskinan di kota ini bukan sekadar soal perut yang lapar, tapi soal harga diri. Dan bagi mereka yang tak punya akses ke kemakmuran, amarah menjadi satu-satunya jalan untuk merasa setara.

Jeratan Anomi: Mencari Nama Lewat Busur

Dalam kacamata sosiologi, fenomena meresahkan ini bukanlah sekadar kenakalan remaja, melainkan sebuah kondisi Anomi yang akut. Émile Durkheim, sang peletak dasar teori ini, menjelaskan bahwa anomi terjadi ketika perubahan sosial berjalan terlalu cepat sementara norma-norma lama sudah rontok sebelum nilai baru sempat mapan. Makassar adalah ruang laboratorium dari teori ini.

Kota ini dipaksa berlari kencang menuju modernitas, namun ia terkesan ngos-ngosan menyediakan “jangkar” moral dan sosial bagi mereka yang tertinggal di barisan belakang. Akibatnya, muncul situasi tanpa arah. Sebuah kekosongan jiwa di mana hukum tak lagi memiliki wibawa di mata mereka yang merasa dianaktirikan oleh keadaan.

Ketimpangan ini kian diperparah oleh apa yang disebut Robert K. Merton sebagai ketegangan antara tujuan budaya dan sarana yang tersedia. Masyarakat kita, lewat layar media sosial terus memompa hasrat anak muda untuk hidup mapan, gaul, dan konsumtif. Namun, sistem ekonomi seakan mengunci pintu bagi mereka. Ketika jalur legal untuk memuaskan hasrat tertutup, terjadilah apa yang Merton sebut sebagai “Inovasi yang Menyimpang”.

Geng motor adalah cara mereka menciptakan “panggung” sendiri. Jika mereka tidak mampu membeli pengakuan di ruang kafe atau outfit yang mahal, maka mereka akan merebut pengakuan itu di atas aspal dengan mata uang berupa nyali dan kekerasan.

Busur yang melesat dari kegelapan lorong itu sebenarnya adalah sebuah “teriakan” eksistensi. Bagi remaja yang terjerat anomi, identitas sebagai anggota kelompok yang ditakuti jauh lebih berharga ketimbang menjadi warga yang patuh namun tak dianggap.

Mereka mencari “nama” lewat teror karena merasa jalur prestasi sudah mustahil untuk digapai. Busur bukan sekadar senjata, ia adalah alat kompensasi atas rasa rendah diri yang dipicu oleh kemewahan kota yang hanya bisa mereka tonton dari balik layar.

Namun, yang paling mengerikan dari situasi anomik ini bukanlah sekadar hilangnya rasa aman, melainkan bagaimana ia merusak identitas mendasar putra Makassar. Ketika struktur sosial retak dan kompas masyarakat kehilangan arah, nilai adiluhung yang selama ini kita agungkan sebagai harga diri, perlahan mulai mengalami distorsi yang membahayakan.

Siri’ yang Salah Alamat

Di sinilah letak tragedi kebudayaan: saat nilai Siri’ mengalami disorientasi. Dalam falsafah Makassar, Siri’ adalah puncak martabat, sebuah rem moral yang membuat seseorang lebih memilih mati daripada berbuat nista. Ia seharusnya menjaga harmoni, namun dalam ruang anomik ini, Siri’ justru kehilangan kompas. Ia tidak hilang, melainkan “salah alamat”, dicuri dari akarnya yang luhur dan dipaksa tunduk pada hukum rimba jalanan.

Distorsi ini tampak terang di ruang digital. Media sosial berubah menjadi arena gladiator tempat kelompok-kelompok saling lempar provokasi lewat video pendek berlatar musik jedag-jedug. Satu kalimat tantangan segera dianggap serangan terhadap harga diri, yang dalam sekejap bermutasi menjadi aksi kekerasan nyata di atas aspal.

Maka, busur pun melesat. Senjata ini menjadi alat validasi demi “reputasi” di layar ponsel. Malu tak lagi muncul saat melukai warga tak berdosa, melainkan saat mereka dicap “tumbang” dalam adu provokasi ruang digital.

Memanusiakan Kembali Manusia Lorong

Tulisan ini tidak sedang memberi pembenaran sedikit pun bagi mereka yang menebar teror. Saya tetap mengutuk kekerasan tersebut dan menaruh empati sedalam-dalamnya kepada para korban yang trauma atau terluka akibat lesatan busur yang salah sasaran. Namun, kita harus sadar bahwa patroli polisi atau penangkapan massal hanyalah perihal memadamkan api tanpa pernah menutup keran bahan bakar.

Lapas atau LPKA mungkin bisa mengurung raga satu-dua remaja, tapi “pabrik” anomi akan terus memproduksi ribuan pasukan busur baru selama ketimpangan tetap menganga dan ruang aktualisasi bagi mereka yang tak berduit tetap hampa. Kita tidak bisa terus-menerus menuntut ketertiban dari orang-orang yang merasa tak pernah memiliki andil dalam kemajuan kota ini.

Makassar butuh lebih dari sekadar aspal mulus dan gedung pencakar langit. Ia butuh kehadiran negara di meja makan para orang tua di lorong-lorong sempit atau di sepanjang pemukiman area kanal. Dan di saat yang sama, para orang tua juga harus memberi perhatian yang berkualitas sebelum anak-anak mereka merasa lebih “diperhatikan” oleh kawan-kawan geng motornya.

Kita perlu memulihkan kembali fungsi keluarga sebagai pelabuhan pertama bagi jiwa yang gelisah. Jangan biarkan mereka merasa lebih “hidup” saat mengangkat ban motor dengan ugal-ugalan daripada saat duduk bercerita di dalam rumah sendiri. Siri’ harus dikembalikan ke tempatnya yang terhormat: sebagai tameng moral yang melindungi martabat, bukan bahan bakar ketersinggungan dari postingan konten media sosial.

Sudah saatnya kita berhenti memuja angka pertumbuhan ekonomi yang mentereng di atas kertas. Sebab, apa gunanya ekonomi tumbuh selangit jika warga harus tetap gemetar setiap kali pulang malam?

Geng motor bukan sekadar urusan kriminalitas. Ia adalah simptom bahwa jiwa kota kita sedang sakit dan itu harus diakui dengan bijak. Jangan sampai kita terlalu sibuk mendandani raga Makassar menjadi metropolis yang gemerlap, namun di saat yang sama kita kehilangan kendali atas anak-anak sendiri. Mereka yang akhirnya kehilangan jiwa di atas aspal mulus yang begitu kita bangga-banggakan.

*) Penulis adalah Pemerhati Kriminal, Alumnus Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Kelas I Makassar

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT