Matakita.co, Bogor — Teras Kebinekaan menggelar forum diskusi nasional bertajuk Hypatia School #07 di Parung, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/5/2026). Forum tersebut membedah buku “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Menggali Pokok-pokok Pikiran Abdul Mu’ti” dengan menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar pendidikan.
Diskusi berlangsung dalam format roundtable discussion dan membahas berbagai persoalan pendidikan, mulai dari konsep deep learning, metode pembelajaran di kelas, hingga tantangan psikologis peserta didik di era digital.
Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan, Dr. Moh. Shofan, menilai berbagai konsep pendidikan yang ditawarkan dalam buku tersebut masih berada pada tataran normatif dan belum sepenuhnya menyentuh praktik pembelajaran di ruang kelas.
“Membaca buku ini, saya melihat konsep-konsep seperti deep learning, meaningful learning, dan joyful learning masih berada di level paradigmatik, belum membumi secara metodologis di ruang kelas,” ujar Shofan.
Ia menyoroti ketimpangan sarana pendidikan di daerah terpencil, seperti Bone dan sejumlah pulau di Maluku. Menurutnya, proses pendidikan di wilayah tersebut masih dapat berjalan karena dedikasi guru yang tetap hadir di tengah keterbatasan.
“Problematika utamanya adalah sarana prasarana yang sangat tidak memadai. Namun proses edukasi di sana masih bisa berjalan karena adanya presence atau kehadiran fisik serta pengorbanan dedikatif para guru,” katanya.
Staf Ahli Kemendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., yang hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, menegaskan bahwa konsep deep learning bukanlah kurikulum baru.
“Kementerian berkomitmen penuh untuk menghindari adagium lama ‘ganti menteri ganti kurikulum’. Deep learning adalah pendekatan untuk kedalaman berpikir, bukan penggantian dokumen kurikulum,” kata Biyanto.
Menurut dia, sekolah yang saat ini menggunakan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka tetap dapat menjalankan sistem yang ada tanpa perubahan mendasar.
Sementara itu, akademisi Universitas Sanata Dharma, Prof. Johanes Haryatmoko, menawarkan sejumlah metode operasional pembelajaran untuk melatih kemampuan berpikir reflektif, kritis, dan kreatif siswa.
Ia menyebut kualitas berpikir siswa dapat diukur menggunakan Taksonomi SOLO melalui pendekatan seperti design thinking, logika abduksi, dan computational thinking.
“Tujuan besar kita adalah deep learning, dan kualitas kedalaman berpikir siswa tersebut harus diukur secara terstruktur menggunakan Taksonomi SOLO,” ujarnya.
Pandangan kritis juga disampaikan Co-founder Yayasan Mulia Raya, Prof. Musdah Mulia. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan pendidikan bermutu hanya sebagai slogan tanpa perubahan struktural yang nyata.
“Narasi pendidikan bermutu untuk semua akan menjadi slogan moral belaka jika pemerintah tidak berani melakukan transformasi struktural untuk membongkar ketimpangan kelas sosial, wilayah, dan kasta sekolah favorit,” kata Musdah.
Ia juga mendorong pemerintah menyusun peta jalan pendidikan nasional jangka panjang agar arah kebijakan tetap konsisten lintas pemerintahan.
Dari perspektif pengalaman siswa, Inayah Wahid menilai sistem pendidikan saat ini masih memiliki jurang antara teori dan kebutuhan nyata di kehidupan sosial.
“Kita tidak pernah diajari bagaimana cara berpikir kritis, menumbuhkan empati, memelihara rasa penasaran, hingga cara berdebat sehat tanpa harus mengamuk,” ujar Inayah.
Diskusi yang dipandu Ayu Arman itu juga menghadirkan Anggota Dewan Pengarah BPIP, Rikard Bagun. Ia menilai sistem pendidikan saat ini terlalu menekankan hafalan sehingga melemahkan kemampuan berpikir kritis generasi muda.
“Hafalan itu penting, tetapi jika seluruh energi habis di sana, kita hanya akan mengulang-ulang hal yang sama. Dampaknya, kapasitas reflective dan critical thinking generasi kita menjadi lemah,” katanya.
Melalui forum tersebut, Teras Kebinekaan berharap berbagai gagasan dan kritik yang disampaikan para narasumber dapat menjadi rekomendasi konkret bagi kebijakan pendidikan nasional yang lebih inklusif, adil, dan humanis.









































