Beranda Mimbar Ide Masihkah Relevan Gelar Sarjana dan IPK di Era Portofolio?

Masihkah Relevan Gelar Sarjana dan IPK di Era Portofolio?

0
Afrilia Eka Ananda

Oleh : Afrilia Eka Ananda*

Saat ini, dunia kerja sedang mengalami pergeseran tren yang cukup drastis. Banyak penyedia lowongan tidak lagi bertanya, “Apa gelarmu?” atau “Berapa IPK-mu?”, melainkan “Apa yang sudah pernah kamu buat?”. Fenomena ini menjadi tanda bahwa portofolio mulai menyaingi peran ijazah dalam menentukan masa depan pelamar kerja.

Di industri kreatif dan teknologi, misalnya, sebuah tautan menuju GitHub atau desain di Behance seringkali lebih “berbicara” daripada selembar kertas ijazah. Perusahaan kini lebih mementingkan bukti nyata daripada janji kompetensi yang tertulis di atas transkrip nilai. Pandangan serupa juga pernah disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti bahwa era dunia kerja sekarang, yang dituntut sebenarnya adalah kompetensi. Pemenuhan sertifikasi dalam pengertian ini ijazah itu memang penting tetapi tidak segala-galanya. Hal ini memicu perdebatan: jika semua keterampilan bisa dipelajari melalui kursus singkat atau otodidak di internet, lantas untuk apa kita menghabiskan waktu empat tahun di bangku kuliah?

Namun, jangan sampai situasi ini membuat kita berpikir bahwa gelar sarjana kehilangan relevansinya sama sekali. Kuliah bukan sekadar proses mekanis untuk mendapatkan ijazah, melainkan sebuah laboratorium mental. Di kampus, kita dilatih untuk membentuk pola pikir (mindset) yang terstruktur.

Dunia profesional tidak hanya membutuhkan hard skill teknis yang bisa usang dalam hitungan tahun. Kita membutuhkan kemampuan berpikir sistematis, ketahanan mental saat menghadapi deadline, kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter orang, serta problem solving yang kuat. Hal-hal ini adalah “otot intelektual” yang dibentuk melalui diskusi kelas, penelitian yang melelahkan, hingga dinamika organisasi mahasiswa.

Lantas, mana yang harus dipilih? Jawabannya bukan salah satu, melainkan keduanya. Portofolio tanpa landasan teori yang kuat akan terasa dangkal, sedangkan gelar tanpa bukti karya akan terasa usang. 

Idealnya, kita harus menjadi mahasiswa “hybrid”. Kita tetap menuntaskan kewajiban akademis untuk mengasah ketajaman berpikir, namun di saat yang sama, kita juga aktif menjemput bola di luar kampus. magang, proyek sampingan (side projects), hingga kompetisi adalah cara untuk menerjemahkan teori dari buku teks menjadi solusi nyata. Pada akhirnya, kebutuhan dunia kerja modern cenderung menuntut seseorang yang memiliki kedalaman pengetahuan pada satu bidang tertentu, namun tetap memiliki kemampuan umum untuk berkolaborasi, beradaptasi, dan memahami bidang lain. Dalam konteks ini, gelar sarjana berfungsi sebagai fondasi intelektual, sedangkan portofolio menjadi bukti konkret atas penerapan kompetensi tersebut di dunia nyata. 

Dalam kondisi pasar kerja yang berubah cepat, seseorang tidak cukup hanya menguasai satu kemampuan teknis secara sempit. Dunia kerja mulai membutuhkan kombinasi antara kedalaman kompetensi dan fleksibilitas lintas bidang. Hal inilah yang dimaksud Gita Wirjawan dalam banyak podcastnya, terhadap perdebatan menjadi spesialis atau  generalis. Dunia perkuliahan mengarahkan linear yang bermuara pada spesialisasi tapi saat lapangan pekerjaan tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan, menjadi generalis dapat memitigasi resiko jangka panjang. 

Gelar sarjana tidak akan mati, ia hanya sedang berganti peran. Ia bukan lagi “tiket emas” yang menjamin pekerjaan, melainkan sebuah “fondasi”. Sedangkan portofolio adalah “bangunan” yang kita dirikan di atas fondasi tersebut. Dengan memiliki pengalaman yang komplit, baik dari dalam maupun luar kampus. kita tidak hanya sekadar menjadi pelamar kerja, tetapi menjadi profesional yang memiliki nilai tawar tinggi di era yang serba cepat ini.

*) Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Handayani Makassar dan Wakil Rektor di Komunitas Kampus Gagasan

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT