Beranda Mimbar Ide Kebahagiaan dalam Perspektif Mahzab Sa’adat Hissiyyat

Kebahagiaan dalam Perspektif Mahzab Sa’adat Hissiyyat

0

Oleh: Andi Hendra Dimansa 

(Pengikut Mahzab Sa’adat Hissiyyat)

Apakah masih ada yang membahagiakan manusia selain dari lingkup materi? Pertanyaan ini sesungguhnya bukan sekadar persoalan psikologis, melainkan juga persoalan filosofis yang menyentuh hakikat manusia. Di tengah kehidupan modern, hampir seluruh aktivitas manusia diarahkan untuk memenuhi kebutuhan material. Sejak membuka mata di pagi hari hingga menutupnya kembali pada malam hari, manusia bergelut dengan pekerjaan, persaingan, dan pencapaian ekonomi. Dunia seolah mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah hasil dari akumulasi kepemilikan.

Mahzab Sa’adat Hissiyyat memandang bahwa kecenderungan tersebut merupakan fitrah awal manusia. Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi indrawi (hissiyyat), sehingga kebutuhan material bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi. Tubuh membutuhkan makanan, rumah, pakaian, keamanan, dan kenyamanan. Karena itu, mengejar kesejahteraan ekonomi bukanlah tindakan yang bertentangan dengan kebahagiaan. Justru kemiskinan yang ekstrem sering kali menghilangkan kesempatan manusia untuk mengembangkan potensi dirinya.

Akan tetapi, mazhab ini juga menegaskan bahwa materi hanyalah “media kebahagiaan”, bukan hakikat kebahagiaan itu sendiri. Kesalahan terbesar manusia adalah mengubah alat menjadi tujuan. Ketika materi diperlakukan sebagai tujuan akhir, manusia akan terus hidup dalam keadaan kurang, sebab hasrat material tidak mengenal titik selesai. Setiap pencapaian hanya melahirkan kebutuhan baru, setiap keberhasilan hanya menciptakan standar yang lebih tinggi. Akibatnya, manusia mengalami apa yang dapat disebut sebagai “kelaparan eksistensial”: memiliki banyak, tetapi merasa hampa.

Dalam perspektif “Sa’adat Hissiyyat”, kebahagiaan adalah pengalaman batin yang lahir ketika kebutuhan indrawi dan kebutuhan makna berada dalam keadaan seimbang. Oleh karena itu, ukuran bahagia tidak pernah bersifat universal. Ia selalu mengikuti standar hidup yang dibangun oleh seseorang.

Semakin sederhana standar kebahagiaan seseorang, semakin ringan pula beban material yang harus dipenuhi. Kesederhanaan bukan berarti menolak kemajuan atau memuliakan kemiskinan, melainkan kemampuan mengendalikan keinginan agar tidak menguasai kehidupan. Orang yang mampu menikmati secangkir kopi bersama keluarga, percakapan yang bermakna, kesehatan yang masih dimiliki, atau kesempatan membaca sebuah buku, sesungguhnya telah menemukan bentuk kebahagiaan yang tidak bergantung sepenuhnya pada kekayaan.

Sebaliknya, semakin kompleks standar kebahagiaan itu, semakin besar pula tuntutan materi yang harus dipenuhi. Rumah tidak lagi cukup jika belum menjadi simbol status. Kendaraan tidak lagi dipilih berdasarkan fungsi, tetapi berdasarkan pengakuan sosial. Pendidikan bukan lagi demi ilmu, melainkan demi prestise. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi mengejar kehidupan, melainkan mengejar citra tentang kehidupan.

Mahzab “Sa’adat Hissiyyat” memandang bahwa manusia yang demikian telah kehilangan kebebasannya. Ia tidak lagi menentukan apa yang membuatnya bahagia, tetapi membiarkan masyarakat, media, dan budaya konsumsi menentukan ukuran kebahagiaannya. Akibatnya, ia hidup dalam perlombaan yang tidak memiliki garis akhir.

Karena itu, kebahagiaan menurut mazhab ini tidak diukur dari seberapa besar seseorang memiliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu merasakan makna dari apa yang dimilikinya. Materi memperoleh nilainya bukan karena jumlahnya, melainkan karena kemampuannya menghadirkan ketenangan, memperkuat hubungan antar-manusia, memperluas manfaat bagi sesama, dan membuka ruang bagi pengembangan diri.

Di sinilah letak prinsip regeneratif yang menjadi ciri “Mahzab Sa’adat Hissiyyat”. Kebahagiaan bukanlah kenikmatan yang berhenti pada individu, melainkan pengalaman yang terus diwariskan melalui nilai, keteladanan, dan manfaat sosial. Seseorang belum sepenuhnya berbahagia apabila kebahagiaannya hanya dinikmati sendiri. Kebahagiaan mencapai tingkat tertinggi ketika mampu melahirkan kebahagiaan bagi orang lain. Dengan demikian, kesejahteraan material tidak lagi dipandang sebagai simbol keberhasilan pribadi, melainkan sebagai sarana memperluas kemaslahatan.

Pada akhirnya, mazhab ini mengajarkan bahwa manusia memang hidup di dunia yang membutuhkan materi, tetapi jiwa manusia tidak pernah selesai hanya dengan materi. Tubuh membutuhkan kecukupan, sedangkan batin membutuhkan makna. Ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah kebahagiaan yang utuh (sa’adah): kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh indra (hissiyyat), diterima oleh akal, ditenangkan oleh hati, dan diwujudkan dalam manfaat bagi kehidupan bersama. Dalam pandangan ini, bahagia bukanlah tentang memiliki dunia sebanyak-banyaknya, melainkan tentang menjadikan apa yang dimiliki sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Salam dari warga

Facebook Comments Box