Beranda Mimbar Ide Ojek Online dan Nestapa Driver

Ojek Online dan Nestapa Driver

0
Pegemudi ojol membawa penumpang di Jakarta, Selasa (6/9). Sumber foto : CNN Indonesia/Safir Makki

Oleh : Adam Malik
(peneliti Profetik Institute dan pengurus MAPPS-Online)

Saya pernah menjadi bagian dari sistem itu. Tahun 2018, di Makassar, saya mengendarai motor Supra dengan jaket hijau, menunggu notifikasi yang menentukan apakah hari itu layak disebut produktif atau tidak. Pada masa itu, ojek online sedang berada di fase ekspansi besar-besaran. Orderan ramai, bonus melimpah, dan ada perasaan bahwa ini adalah peluang baru yang menjanjikan. Bahkan banyak orang rela resign dari pekerjaannya demi menjadi driver Ojol.

Namun di jalanan, saya melihat sesuatu yang tidak pernah muncul dalam iklan perusahaan atau narasi media. Banyak driver tidak fokus pada pelayanan, melainkan pada cara mendapatkan bonus. Saya sering mendapati praktik order fiktif. Driver membuat pesanan sendiri, menyelesaikannya secara manipulatif, lalu mengejar insentif harian yang bisa mencapai sekitar dua ratus ribu rupiah.

Di situlah letak masalah yang jarang dibahas secara jujur. Fokus para driver bukan lagi pada kualitas layanan, tetapi pada sistem bonus. Mereka tidak sedang membangun reputasi sebagai penyedia jasa, melainkan berusaha bertahan dalam mekanisme yang mereka sendiri tidak sepenuhnya pahami.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan moral atau etika kerja. Ini adalah gejala dari ketidakseimbangan informasi antara perusahaan dan mitra. Banyak driver tidak memahami bahwa ekosistem ojek online dibangun dengan modal besar dan strategi jangka panjang yang kompleks. Mereka hanya melihat permukaan: order, rating, dan bonus.

Padahal, di balik aplikasi yang sederhana itu, terdapat arus pendanaan yang masif. Perusahaan seperti Gojek dan Grab tidak tumbuh dari keuntungan operasional di awal, melainkan dari suntikan modal investor besar. Dana tersebut digunakan untuk membakar pasar melalui subsidi harga, promosi, dan insentif kepada driver.

Bonus yang diterima driver pada masa awal bukanlah bentuk penghargaan atas kinerja semata. Itu adalah bagian dari strategi akuisisi pengguna. Perusahaan perlu memastikan bahwa layanan mereka digunakan secara luas, dan untuk itu mereka harus menciptakan pengalaman yang menarik baik bagi pelanggan maupun driver.

Driver menjadi bagian penting dalam proses ini, meskipun tidak selalu disadari. Mereka adalah ujung tombak distribusi layanan. Tanpa driver, aplikasi tidak memiliki nilai praktis. Namun, peran penting ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai tentang bagaimana sistem bekerja.

Banyak driver menganggap bonus sebagai hak tetap, bukan sebagai insentif sementara. Ketika skema bonus berubah, muncul keluhan dan rasa dirugikan. Dari sudut pandang mereka, hal ini wajar. Mereka membandingkan pendapatan saat ini dengan masa lalu, tanpa melihat konteks bahwa masa lalu tersebut adalah fase subsidi.

Di sisi perusahaan, perubahan skema bonus adalah langkah menuju keberlanjutan bisnis. Tidak ada perusahaan yang bisa terus-menerus membakar uangg tanpa batas. Investor yang menanamkan modal mengharapkan pengembalian, dan itu hanya bisa terjadi jika perusahaan mulai mengurangi subsidi dan meningkatkan efisiensi.

Bahwa di sinilah terjadi benturan kepentingan. Driver ingin pendapatan stabil atau meningkat, sementara perusahaan harus menekan biaya. Ketika bonus dipangkas atau algoritma diubah, driver merasakan tekanan langsung. Mereka berada di posisi yang paling rentan dalam rantai ekosistem ini.

Ketidaktahuan terhadap struktur pendanaan memperparah situasi. Banyak driver tidak menyadari bahwa perusahaan yang mereka andalkan belum tentu menghasilkan keuntungan dari operasional sehari-hari. Sebaliknya, perusahaan tersebut bisa saja masih bergantung pada investasi eksternal untuk menjaga keberlangsungan layanan.

Ekosistem ojek online tidak hanya terdiri dari driver dan pelanggan. Ada investor, merchant, sistem pembayaran, dan berbagai layanan tambahan yang saling terhubung. Transportasi hanyalah salah satu pintu masuk. Tujuan jangka panjang perusahaan adalah membangun platform ekonomi digital yang terintegrasi.

Dalam konteks ini, driver bukanlah pemilik, melainkan bagian dari operasional. Mereka tidak memiliki saham, tidak terlibat dalam pengambilan keputusan strategis, dan tidak memiliki kontrol atas perubahan kebijakan. Status mereka sebagai mitra memberi fleksibilitas, tetapi juga membatasi perlindungan.

Kondisi ini menciptakan paradoks. Di satu sisi, ojek online membuka akses kerja yang relatif mudah dan cepat. Banyak orang bisa mendapatkan penghasilan tanpa syarat pendidikan tinggi atau pengalaman khusus. Di sisi lain, ketergantungan pada sistem yang tidak transparan membuat posisi driver menjadi tidak stabil.

Praktik order fiktif yang saya saksikan adalah bentuk adaptasi terhadap tekanan sistem. Driver berusaha mencari celah untuk memenuhi target bonus. Mereka tidak melihatnya sebagai pelanggaran serius, melainkan sebagai strategi bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem insentif memiliki dampak langsung terhadap perilaku.

Ketika bonus menjadi fokus utama, kualitas layanan cenderung terabaikan. Pelanggan mungkin tetap dilayani, tetapi bukan dengan orientasi jangka panjang. Reputasi dan kepercayaan tidak lagi menjadi prioritas utama. Yang penting adalah mencapai target harian.

Situasi ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan driver. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab dalam merancang sistem yang mendorong perilaku sehat. Insentif seharusnya tidak hanya berbasis kuantitas, tetapi juga kualitas layanan.

Namun, selama tekanan untuk mencapai profit tetap tinggi, perusahaan cenderung mengutamakan efisiensi dan pertumbuhan. Driver harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang sering kali terjadi tanpa komunikasi yang jelas.

Kurangnya literasi finansial dan pemahaman bisnis di kalangan driver menjadi faktor tambahan. Tanpa pemahaman tentang bagaimana modal bekerja, bagaimana investor berpikir, dan bagaimana perusahaan mengelola biaya, driver sulit melihat gambaran besar.

Mereka hanya melihat hasil akhir, bukan proses di baliknya. Ketika pendapatan turun, mereka merasa dirugikan. Padahal, perubahan tersebut bisa jadi merupakan bagian dari siklus bisnis yang lebih luas.

Kesadaran teentang ekosistem ini penting, bukan untuk membenarkan kebijakan perusahaan, tetapi untuk membantu driver mengambil keputusan yang lebih rasional. Dengan memahami bahwa bonus adalah alat marketing, bukan sumber pendapatan permanen, driver bisa lebih bijak dalam mengelola ekspektasi.

Ojek online adalah produk dari perkembangan teknologi dan kapital. Ia menawarkan kemudahan, tetapi juga membawa konsekuensi. Bagi driver, ini adalah peluang sekaligus tantangan. Tanpa pemahaman yang cukup, peluang tersebut bisa berubah menjadi ketergantungan yang sulit dilepaskan.

Pengalaman saya di tahun 2018 memberikan pelajaran bahwa realitas di lapangan sering kali berbeda dengan narasi resmi. Di balik aplikasi yang tampak sederhana, terdapat sistem yang kompleks dan dinamis. Driver berada di dalamnya, tetapi tidak selalu memahami bagaimana sistem itu bekerja.

Nestapa driver bukan hanya soal pendapatan yang tidak stabil. Ia juga berkaitan dengan posisi yang tidak seimbang dalam struktur ekosistem. Mereka bekerja keras, tetapi tidak memiliki kendali atas faktor-faktor yang menentukan hasil akhir.

Untuk mengubah keadaan, dibutuhkan lebih dari sekadar kebijakan baru. Diperlukan peningkatan literasi, transparansi dari perusahaan, dan kesadaran kolektif di kalangan driver. Tanpa itu, siklus yang sama akan terus berulang.

Ojek online akan terus berkembang, dengan atau tanpa perubahan signifikan dalam sistemnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah sistem ini adil, tetapi bagaimana individu yang berada di dalamnya bisa bertahan dan beradaptasi.

Pada akhirnya, driver harus melihat dirinya bukan hanya sebagai pelaku operasional, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar. Pemahaman ini tidak akan langsung meningkatkan pendapatan, tetapi bisa menjadi dasar untuk mengambil langkah yang lebih strategis di masa depan.

Facebook Comments Box