MataKita.co, Takalar — Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) melanjutkan pengembangan budidaya rumput laut Ulva lactuca melalui teknologi pengkayaan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil budidaya.
Memasuki tahun kedua, pengembangan dilakukan melalui Program Hilirisasi Riset Budidaya Rumput Laut bertajuk “Model Akuakultur Ulva lactuca Berbasis Immuno-Culture untuk Optimalisasi Produktivitas Skala Industri”. Kegiatan berlangsung di kawasan budidaya rumput laut Desa Punaga, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Jumat (14/8/2026).
Ketua Tim Pelaksana Dr Marlina Achmad SPi MSi mengatakan, program tersebut merupakan kelanjutan dari pengembangan bibit rumput laut jenis Ulva. Pada tahun pertama, tim berfokus menemukan model pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan budidaya.
Memasuki tahun kedua, fokus diarahkan pada peningkatan produksi dengan tetap mempertahankan kualitas rumput laut. Pengembangan tersebut sekaligus menjawab persoalan mitra terkait kuantitas dan mutu hasil budidaya.
“Pengembangan Ulva ini kita menggandeng mitra yang sudah siap untuk mengekspor,” ujar Marlina.
Menurut Marlina, Ulva memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas meskipun jenis rumput laut tersebut belum sepopuler komoditas rumput laut lainnya di kalangan pembudidaya.
Karena itu, program ini diharapkan dapat memperkenalkan Ulva sebagai salah satu alternatif komoditas budidaya rumput laut di Indonesia, terutama di Kabupaten Takalar. Peningkatan kualitas dan produktivitas juga diharapkan membuka peluang pasar yang lebih luas hingga ekspor.
Perwakilan mitra dari PT Celebes Berkah Niaga, Muhammad Idris, berharap kerja sama pengembangan Ulva dapat berlangsung dari tahap awal hingga menghasilkan produk yang memenuhi standar pasar ekspor.
Ia juga berharap hasil program dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan serta memberikan nilai ekonomi bagi mitra dan masyarakat yang terlibat dalam rantai budidaya rumput laut.
Sementara itu, Kepala Desa Punaga Syarifuddin Dg Sore menilai peningkatan kualitas menjadi bagian penting dalam mendorong nilai jual rumput laut masyarakat. Selama ini, menurut dia, perhatian pembudidaya terhadap kualitas hasil produksi masih perlu ditingkatkan.
“Mudah-mudahan dengan adanya program ini, masyarakat bisa lebih sadar dan bisa memaksimalkan bagaimana cara agar pengelolaan rumput laut bisa lebih bersih dan harganya bisa lebih tinggi,” kata Syarifuddin.
Melalui pengembangan teknologi budidaya tersebut, peningkatan produksi rumput laut tidak hanya diarahkan pada jumlah, tetapi juga kualitas produk. Dengan demikian, rumput laut yang dihasilkan diharapkan memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.







































