MataKita.co, Bone — Penerapan pertanian cerdas melalui Program Mannennungeng mulai menunjukkan hasil di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Panen perdana lahan percontohan yang dikelola Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin (Unhas) menghasilkan 5,3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.
Capaian tersebut melampaui target program sebesar 5 ton GKP per hektare. Dibandingkan dengan produktivitas sebelumnya yang sekitar 3 ton per hektare, hasil panen meningkat 2,3 ton atau sekitar 76,7 persen.
Produktivitas lahan tersebut telah diverifikasi melalui metode ubinan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone di lokasi panen.
Program Mannennungeng mengintegrasikan empat pilar pengelolaan pertanian, yakni Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’. Keempatnya mencakup pengelolaan air, pemanfaatan limbah, pengendalian hama, serta pengaturan pola tanam.
Uwai Tuo mengoptimalkan pengelolaan air melalui teknologi irigasi presisi berbasis internet of things (IoT). Penerapan teknologi tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 25 persen.
Pabbura mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik untuk memperbaiki kualitas dan kesuburan tanah. Sementara itu, Warani diterapkan sebagai sistem pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.
Adapun Garisi’ digunakan untuk mengatur pola tanam dan rotasi varietas unggul. Integrasi keempat pilar tersebut diarahkan untuk membangun sistem produksi pertanian yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026 Fadel Muhammad S. mengatakan, hasil panen perdana menunjukkan bahwa pendekatan pertanian terintegrasi dapat diterapkan di tingkat desa.
“Panen perdana ini membuktikan bahwa pendekatan melalui Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’ efektif. Kami tidak hanya menghemat air dan memperbaiki tanah, tetapi juga menekan risiko hama serta mengoptimalkan pola tanam,” ujar Fadel.
Ia menyampaikan apresiasi kepada BPS Kabupaten Bone yang telah melakukan pengukuran dan verifikasi terhadap produktivitas lahan percontohan tersebut.
Ketua Umum UKM KPI Unhas Aydil Fitra Mulya menilai capaian itu memperlihatkan bahwa inovasi mahasiswa dapat memberikan solusi terhadap persoalan pertanian di tingkat masyarakat.
“Inovasi mahasiswa dalam pengelolaan irigasi, pengolahan limbah, pengendalian hama, dan pengaturan pola tanam mampu memberikan manfaat nyata. Capaian 5,3 ton per hektare menjadi bukti bahwa pendekatan terintegrasi dapat meningkatkan produktivitas petani,” kata Aydil.
Peningkatan hasil panen juga dirasakan petani binaan. Ketua Kelompok Tani Mabbiri’ sekaligus Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Lamellong, Burhanuddin, mengatakan produktivitas lahan sebelumnya hanya sekitar 3 ton per hektare.
“Selama bertahun-tahun, hasil panen kami hanya sekitar 3 ton per hektare. Setelah mendapat pendampingan mahasiswa dan menerapkan teknologi Mannennungeng, produktivitasnya meningkat menjadi 5,3 ton,” ujar Burhanuddin.
Panen perdana tersebut menunjukkan potensi penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas pertanian di desa. Keberlanjutan program dan perluasan penerapannya menjadi langkah berikutnya agar manfaat inovasi dapat dirasakan oleh lebih banyak petani.








































