Home Literasi Perempuan Payung Telah Menjadi Hujan

Perempuan Payung Telah Menjadi Hujan

25

Hari ini, hujan pertama kembali menyapa Oktober. Ana duduk di teras rumahnya. Mengurai rintik hujan yang telah menjadikannya manusia. Ia mengingat cerita Ibunya, tentang kelahirannya di bulan Oktober, tepat saat hujan pertama membasahi tanah-tanah kering yang dijajah kemarau. Kata Ibunya, Ana mengiak-ngiak ketika hujan memukul-mukul atap rumah. Lalu, dukun beranak berkata, “Sepertinya, anakmu diciptakan dari hujan.” Dari cerita itulah, Ana selalu mengira, dirinya akan kembali menjadi hujan.
Ana terus mengurai rintik hujan dengan matanya. Baginya, hujan berasal dari rahim awan, berbutir-butir bak selonsongan peluru yang menyerang. Bersebaran mencari mangsa, namun terjatuh ke bumi, ditarik gravitasi. Sayangnya, saat menyentuh tanah, hujan tidak mau lagi menjadi hujan. Dipilihnya menyatu dan menjadi air, lalu bergegas menuju sungai, menempuh perjalanan panjang ke muara, dan bersatu dengan rekannya di lautan.
Hujan sangat benci berada di bumi yang panas. Hujan tak ingin mendidih. Itulah sebabnya, saat matahari kembali bersinar, hujan-hujan memohon agar dirinya dikembalikan ke rahim awan.
Mengurai hujan, sama halnya mengurai kenangan yang bentuknya seperti hujan. Berbutir-butir bak selonsongan peluru yang menyerang, tepat di dada. Perih. Begitulah Ana. Ketika ia kembali mengingat pertemuannya dengan seorang lelaki. Lelaki yang selalu meyakinkannya tentang tangisan bulan yang berubah menjadi hujan. Jika Ana kembali mengingat hal tersebut, sesak di dadanya tak tertahankan. Tetapi bukanlah kenangan jika telah terlupakan.

###

Lelaki muda, berkumis tipis, berbadan tegap, umurnya sekira dua tahun lebih tua dari Ana, datang dalam serangan hujan di suatu sore. Ana tak bergeming, hanya memandangi lelaki itu saat sedang memeriksa barang bawaannya yang basah terserang hujan. Setelah memeriksa, lelaki itu menyapa dengan senyum, Ana membalasnya dengan senyum pula. Mereka hanya berdua di tempat itu, teras rumah milik seseorang.
“Mengapa Nona berteduh saat ini, padahal telah membawa payung?” tanya lelaki itu. Ia heran melihat Ana berteduh sambil memakai payung.
“Ini adalah benteng pertahanan saya,” Ana menjawab sekenanya. Lelaki itu mengernyitkan dahi.
“Iya, saya tahu. Payung adalah pertahanan tiap manusia agar tidak terserang hujan. Ibarat kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Begitukan? Tetapi maksud saya, mengapa tidak berlalu saja, kan punya payung. Saat sore usai, hari akan menjadi gelap. Kamu tidak takut?”
“Saya lebih takut hujan, ketimbang gelap,” Ana menjawab dan memandang mata lelaki itu sambil tersenyum.
“Perempuan takut hujan? Saya baru dengar hal semacam itu. Biasanya, perempuan lebih suka hujan, sebab lebih romatis,” Lelaki itu mencoba bergurau dan mengakrabkan diri.
“Hujan-hujan ini, ingin menjemputku. Mereka ingin, aku kembali menjadi hujan,” Ana memberi penjelasan sambil tersenyum. Lelaki itu bingung, tidak percaya apa yang ditangkap oleh gendang telinganya. Ingin rasanya ia memperjelas maksud perempuan yang berada di sampingnya itu. Namun, hujan telah berhenti, Ana pun telah berlalu.
Lelaki itu berteriak dan meminta Ana berhenti sejenak. Ia memburu. “Siapa namamu?” tanyanya setiba di dekat Ana. “Tragedi Oktramuliana, dipanggil, Ana. Kamu?” Ana menjawab dan balik bertanya.
“Saya Rusli. Bisakah kita berjalan bersama?”
“Boleh. Mampir ke rumah juga boleh. Rumah saya, di ujung lorong ini. Saya lihat kamu kedinginan. Biar saya buatkan teh panas,” Ana menawarkan. Lelaki itu, sempat berbasa-basi untuk menolak, namun dalam benaknya, ia ingin Ana mempertahankan tawarannya. Dan betul, Ana menawarkan lebih dari dua kali, ia pun mengiyakan. Keduanya berjalan beriringan dalam satu payung.
“Tadi kamu bilang, Hujan ini akan menjemputmu,” lelaki itu memulai percakapan saat teh diletakkan di meja.
“Iya. Itu panjang ceritanya,” ucap Ana.
“Betulkah, kamu akan menjadi hujan? Sayang, perempuan secantik ini, berubah menjadi hujan” Lelaki itu menelisik sekaligus mengeluarkan kalimat gombal.
“Mungkin saja. Saya belum tahu persis. Tetapi, ibuku menceritakannya dengan sangat yakin, berdosalah saya ini, bila tidak percaya dengan keyakinan ibu,” kata Ana.
Lelaki itu mendesak Ana untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Ana pun bersedia. Diceritakanlah perihal kelahirannya. Persis yang diceritakan oleh ibunya.
Saat hujan pertama bulan Oktober membasahi tanah yang dijajah kemarau, Ana mengiak-ngiak dan hujan memukul-mukul atap. Mereka ingin menjemput perempuan hujan pertama itu. Dukun beranak pun memberi titah, “Mandikan anakmu dengan air yang mendidih untuk menghilangkan zat hujannya. Jika tidak, hujan akan membawa anakmu pergi.”
Sejak itulah, hujan takut berlama-lama di bumi yang panas. Panas bumi akan mendidihkan hujan ataukah dipanasi oleh ibu Ana, dan hujan tak ingin mendidih. Hujan lebih memilih ke laut, memohon kepada matahari agar dikembalikan ke rahim awan.
Lelaki itu takjub dengan cerita Ana. “Jadi kamu betul-betul akan kembali menjadi hujan? Lalu apa fungsi payung itu?” Lelaki itu semakin penasaran.
“Ini adalah benteng pertahananku. Agar hujan tidak menyentuhku. Jika hujan menyentuhku, boleh saja dia akan membawa sedikit demi sedikit kulitku, hingga pupus menjadi air, lalu membawanya ke laut dan siap untuk dikembalikan ke rahim awan. Dan, matahari telah bersekongkol dengan hujan. Boleh jadi, bila sinarnya menyapa di siang hari, ia akan menguapkanku tiba-tiba dan mengembalikannya ke rahim awan. Olehnya, saya akan selalu memakai payung saat terik matahari dan hujan,” ungkap Ana. “Itulah sebabnya, warga sekitar sini memanggilku, perempuan payung,” sambungnya.
“Matahari bersekongkol dengan hujan? Perempuan payung? Aneh. Lalu, bagaimana jika banjir hujan? Kamu tidak akan melangkah ke mana-mana?”
“Jika hujan telah menyentuh tanah, dia bukan lagi hujan. Ia telah menyatu dan menjadi air. Tetapi, jika ia tidak dipanasi sebelum sampai ke laut, maka ia akan kembali menjadi hujan di rahim awan. Lalu kembali ke sini, mencariku. Semuanya berkat bantuan matahari yang mengangkatnya kembali,” katanya. “Selama saya masih ada di bumi ini, maka hujan akan terus menyerang. Ia akan datang berbutir-butir bak selonsongan peluru. Beterbangan mencari mangsa dan gravitasi bumilah yang akan menariknya ke tanah, hingga ia menjadi air kembali” Ana menyambung. Kali ini dengan nada sesal. Air matanya menetes.
“Saya akan melindungimu,” ucap lelaki itu seketika.
“Tidak. Tidak. Tidak ada yang bisa melindungi. Cepat atau lambat, saya akan menjadi hujan,” Ana menangis sedih.
“Akan saya buktikan, jika saya mampu menjadi benteng pertahananmu untuk memerangi hujan,” lelaki itu meyakinkan Ana.
###
Hari ini, hujan pertama kembali menyapa Oktober. Ana duduk di teras rumahnya. Mengurai rintik hujan yang telah menjadikannya manusia. Ia mengingat cerita Ibunya, tentang kelahirannya di bulan Oktober, tepat saat hujan pertama membasahi tanah-tanah kering yang dijajah kemarau. Saat itu pula, ia mengigat tepat setahun pertemuannya dengan lelaki yang siap melindunginya dari serangan hujan. Lelaki yang kerap menceritakan kisah-kisah tentang hujan, salahsatunya kisah tentang tangisan bulan menjelma jadi hujan.
Konon, telah hidup sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka telah berkomitmen untuk saling setia, apapun yang terjadi. Namun, suatu saat lelaki meminta izin untuk meninggalkan kampung halaman ke negeri seberang, untuk mencari penghidupan yang layak, jika telah ia dapatkan, maka lelaki itu akan kembali dan meminang perempuannya, berniat hidup dengan bahagia.
Sebelum pergi, lelaki itu berpesan, jika perempuannya hendak mendengar kabarnya, bertanyalah pada angin di sore hari, niscaya angin tersebut telah dititipkan kabar tentangnya. Dan, jika perempuannya hendak melihat dirinya, tataplah bulan yang bersinar sempurna, nicaya bulan akan memantulkan segala tentangnya. Pesan itu, dijunjung kuat oleh perempuannya.
Namun, lama juga perempuan itu menunggu kabar dari angin sore dan gambaran lelakinya dari bulan sempurna. Jenuh dan geramlah perempuan itu dalam menunggu. Ia berusaha ingin menangkap angin. Karena takut, angin berlari begitu kencang dan berhasil lolos dari geramnya perempuan itu. Kesal, tidak mendapatkan angin. Perempuan itu membuat tangga bambu yang sangat tinggi hingga menjangkau bulan. Ia menaiki anak tangga satu persatu, terus dan terus, naik dan naik, tinggi dan tinggi. Tiba-tiba dia menengok ke bawah, ke bumi. Diliatnya lelakinya sedang berdua dengan perempuan lain. Ia sangat kecewa, angin tidak mengabarkan hal demikian dan bulan tak mengambarkan hal demikian. Ia melanjutkan perjalanan, menapaki anak tangga yang tersisa. Lalu, tibalah ia di hadapan bulan, ditamparnya bulan hingga menangis, dan tangisan bulanlah menjelma hujan.
Setelah bercerita hal demikian, lelaki itu berkata kepada Ana, “itulah sebabnya, jika hendak hujan, angin berhembus keras. Karena, mereka masih mengingat ketika perempuan itu memburunya.” Berulang kali Ana diceritakan hal tersebut, namun, Ana tidak pernah merasakan benih kepercayaan tumbuh terhadap cerita itu. Baginya, dirinyalah hujan yang sesungguhnya, dan cerita itu hanyalah dongeng yang dibuat-buat untuk mengambarkan kesetiaan palsunya.
Buktinya, lelaki itu telah tiada. Ia tidak lagi membuktikan bahwa dirinya siap menjadi benteng pertahanan untuk Ana terhadap hujan. Ia telah pergi, merantau ke negeri tetangga. Sebelum kepergiaannya, Lelaki itu menceritakan kembali tangis bulan yang menjelma hujan kepada Ana, lalu berjanji akan memberi kabar kapan pun dan apa pun caranya. Namun, hingga kini kabar tentangnya belum juga datang.
Di teras rumah, Ana bangkit. Ia telah letih mengurai rintik hujan yang telah menjadikannya manusia. Mengurai hujan, sama halnya mengurai kenangan yang bentuknya seperti hujan. Berbutir-butir bak selonsongan peluru yang menyerang, tepat di dada. Perih.
Ia beranjak meninggalkan rumahnya tanpa payung. Ia ingat di sebelah utara kota ada jembatan, di bawahnya ada sungai yang mengarah ke muara. Ia berjalan menuju jembatan itu. Sesampainya di jembatan, tanpa pikir panjang, Ana meloncat. Orang-orang yang melihatnya kaget dan berlari melihat sisi-sisi jembatan. Menanti Ana, muncul ke permukaan.
Hujan belum juga berhenti. Air sungai meluap, menjadi banjir dan menghanyutkan beberapa rumah-rumah warga sekitar. Ana bersamanya. Bersama air, menuju muara, dan menyatu di lautan. Ombak memukul-mukul keras merayakan kemenangan. Soal rekannya yang telah kembali. Mereka menunggu hingga matahari bersinar, mengupkannya, mengembalikan Ana ke rahim awan.

Tentang Penulis
Esye Yusuf Lapimen. Nama asli dari Supratman Yusbi Yusuf. Lahir di Kabupaten Bone 8 Januari 1989, Anak pertama dari enam bersaudara ini. Sehari-hari bergelut dalam komunitas menulis LAMARUDDANI, serta telah ikut membukukan tulisannya dalam komunitas tersebut. Dapat dihubungi melalui Nomor Handphone 082194282141 atau melalui e-mail pimen.cika@gmail.com.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here