Home Mimbar Ide Bahasa, Kebutuhan Utama Mahasiswa dalam Persaingan Global

Bahasa, Kebutuhan Utama Mahasiswa dalam Persaingan Global

135
0
SHARE
Muhammad Ardian

Oleh : Muhammad Ardian*

Persaingan global sekarang ini sama sekali tidak lagi dapat dihindari. Mulai dari persaingan antar Negara, persaingan antar Industry, Institusi dan Organisasi dalam bidang-bidang tertentu, hingga antar person dalam hal prestasi. Tentunya persaingan yang dimaksud disini yaitu “persaingan positif” , yang mana menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh pihak dalam melakukan pengembangan untuk diri sendiri, kelompoknya, dan bahkan untuk Negara tempatnya mengabdi.

Nyatanya, tantangan akan persaingan global bagi kaum muda-mudi di Indonesia sudah jelas didepan mata, terkhusus bagi kalangan Mahasiswa. Karena era digital dan pesatnya pengembangan sistem informasi, membuat kita susah untuk menebak kondisi dunia pendidikan dimasa mendatang, maka tidak ada lagi alasan untuk bersantai-santai di seprai zona aman. Bapak Mentri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir telah memberikan ijin paling tidak 10 Perguruan Tinggi Asing (PTA) yang rencananya akan mulai beroperasi dalam proses perkuliahan di Indonesia tahun 2018. Pak Mentri Nasir, mengatakan, “Undang-undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi telah mengatur akses masuk PTA ke Indonesia. Kendati demikian, hingga saat ini belum juga ada PTA yang mendirikan kampusnya di Indonesia. Karena itu, Kemristekdikti akan terus mendorong agar PTA bisa masuk ke Indonesia”. Di tahun 2018 ini, beberapa PTA pun diterima dan diijinkan untuk mulai beroperasi di Indonesia melalui kebijakan baru Menristekdikti.

Tentunya simpang-siur akan isu ini memaksa Menristekdikti untuk meninjau kembali akan kebijakan atas ijin pengoperasian PTA di Indonesia. Maka jelas, PTA nantinya akan dituntut untuk bisa menyesuaikan sistem pembelajarannya dengan kultur, dan kebutuhan para pelajar di Indonesia, agar PTA tidak mematikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang telah berdiri sejak dulu di Indonesia. Karena itu, Patdono, Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti usai konferensi pers di Jakarta Senin (29/1/2018), mengungkap “Nantinya PTA juga akan didorong agar bisa bekerjasama dengan PTS yang telah beridiri. Kerjasama dinilai penting agar bisa mendongkrak kualitas PTS dan minat siswa untuk berkuliah di PTS.

“Yang pasti antusias Perguruan Tinggi diluar negeri untuk membuka kampus cabangnya di Indonesia cukup besar, yang antri banyak. Namun sebagai permulaan, saya akan batasi dulu, cukup sampai 10 dulu,”. Ujar Pak Mentri Nasir di Jakarta, Selasa (30/1/2018). Secara tidak langsung, kebijakan positif pun berlaku.

Beliau juga mengatakan, bahwa perlu ada beberapa hal yang dipertimbangkan agar kualitas dan mutu pendidikan PTA tersebut tetap setara dengan kampus yang berada di Negara asalnya. Selain itu, Kemenristekdikti juga sedang mengatur agar PTA yang datang tidak mematikan PTS dan PTN yang telah berdiri.

Disamping itu, masih ada Universitas ternama luar yang tertarik untuk beroperasi di Indonesia, seperti Universitas Cambridge, Universitas Melbourne, dan juga Universitas Quensland, Pak Mentri Nasir mengungkap ada kisaran 5 hingga 10 universitas asing yang sedang bersiap-siap untuk membuka perwakilan di Indonesia. “Australia sudah minta (untuk bangun kampus di Indonesia). Perguruan tinggi asing yang ingin masuk pun akan diseleksi, tidak sembarangan. Harus diperhatikan betul.” Tegas Pak Nasir.

Dilain pihak, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla juga mengungkapkan alasan pemerintah akan perizinan sejumlah perguruan tinggi asing untuk beroperasi di Indonesia, alasan beliau yaitu untuk mendatangkan perguruan tinggi asing ke Indonesia sekaligus sebagai alternatif agar pelajar Indonesia tidak lagi ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. “Pikirannya sederhana, karena kenapa kita memberikan beasiswa yang mahal-mahal untuk anak-anak kita (ke luar negeri)?” Kata Pak JK saat di tanyai mengenai isu ijin operasi PTA ini. “Mana yang lebih baik, kita bawa sekolahnya ke sini sehingga lebih banyak anak yang bisa sekolah. Sehingga ada juga pembanding. Tentu universitas-univeritas sekitar juga mempunyai manfaat untuk saling belajar,” Ungkapnya memperjelas.

Kehadiran Perguruan Tinggi Asing harus menguntungkan dan bisa dimanfaatkan untuk kemajuan kualitas pendidikan dan riset di Indonesia. Karena itu, alangkah baiknya PTA yang diperbolehkan masuk hanyalah yang mampu membawa inovasi dan perubahan bagi dunia pendidikan kini. Karena tidak bisa dipungkiri lagi, dunia pendidikan di Indonesia memang sedang mengalami goncangan, sehingga susah untuk dikontrol. Maka dengan adanya kebijakan baru ini, diharapkan PTS dan PTN dapat menjawab tantangan ini dengan respon yang positif, yaitu dengan membuktikan bahwa Perguruan Tinggi di Indonesia tak kalah bersaing dengan Perguruan Tinggi Asing.

Terlepas dari pendapat para pejabat pemerintahan, sebagai mahasiswa tentunya mau tak mau harus siap menghadapi tantangan ini. Kebijakan baru ini tentunya akan mendatangkan para penantang baru di Negara Indonesia. Maka, pengembangan kemampuan sebagai pelajar, terlebih untuk mahasiswa, sangat perlu untuk ditingkatkan utamanya dalam pengembangan kebahasaan.

Tentunya menjawab tantangan ini, kebutuhan pengembangan kemampuan dalam penguasaan Bahasa Asing sangatlah perlu untuk disadari mulai sekarang. Utamanya untuk Bahasa Asing yang secara teknis sudah dipakai sebagai Bahasa International, seperti Bahasa Jerman, Mandarin, Arab dan Inggris tentunya. Tidak dapat dipungkiri lagi, nyatanya, meskipun sistem pendidikan di Indonesia sudah mewajibkan pelajar untuk belajar Bahasa Inggris dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), tapi masih saja didapati siswa dan bahkan mahasiswa yang masih kurang, bahkan sangat minim penguasaan Bahasa Ingrisnya. Maka kembali ditekankan akan perlunya meningkatkan kemampuan dalam penguasaan Bahasa Asing ini dalam menjawab tantangan dunia yang semakin hari semakin naik levelnya.

Namun perlu diperhatikan juga agar tidak melupakan Bahasa Persatuan Negara Indonesia, sebagai bentuk penghormatan akan Tanah Air, yaitu Bahasa Indonesia sendiri. Masuknya PTA di Indonesia, tidak harus menggeser budaya yang selama ini dijaga oleh leluhur hingga generasi 2th Century. Maka perlu juga untuk menjaga dan mempertahankan budaya NKRI agar tantangan PTA masuk ke Indonesia, tidak menjadi boomerang bagi masyarakat.

*) Penulis merupakan ketua umum UKM BAHASA PNUP Periode 2017-2018

Facebook Comments