Home Literasi Hatta dan Nalar Maros Kota Literasi

Hatta dan Nalar Maros Kota Literasi

524
0
SHARE
Rizal Pauzi

Oleh : Rizal Pauzi*

“Walaupun di penjara, jika bersama buku aku merasa bebas”

(Bung Hatta)

Hatta Muda adalah pendiri Perhimpunan Indonesia, yang kelak menjadikan pelopor dimulainya pergerakan mahasiswa di Belanda. Organisasi inilah yang menghimpun pelajar  untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hatta pernah memimpin  Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereniging). Selain dikenal sebagai tokoh bergerakan, Hatta juga dikenal dengan kecerdasan serta penulis yang handal. Berbagai tulisannya di berbagai media cetak mampu menggugah semangat kaum muda dan rakyat se nusantara untuk bangkit melawan penjajah. Salah satu tulisan yang poluler dan mampu memantik semangat juang kaum muda yakni essai panjangnya yang berjudul “Indonesia Merdeka”, yang merupakan pembelaan Bung Hatta di muka pengadilan Belanda pada tahun 1928.

Hatta telah memilih masa mudanya diwakafkan untuk bangsanya. Walaupun dijanjikan jabatan di negeri Belanda, Hatta tetap menolak dan terus melanjutkan perjuangan. Sekembalinya di tanah air, dia berjuang bersama – sama dengan tokoh pergerakan lainnya untuk merumuskan persatuan perjuangan dan kemudian memproklamirkan kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 agustus 1945.

Gagasan ekonomi kerakyatan yang ditulisnya sejak masih mahasiswa pun mengilhami sistem ekonomi pancasila yang tertuang dalam Undang – undang dasar 1945 pasal 33. Itu pulalah yang mengantarkannya menjadi bapak koperasi Indonesia. Nama Mohammad Hatta banyak di gunakan dalam forum – forum nasional seperti Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) atau lebih dikenal dengan sebutan Bung Hatta Award adalah ajang penganugerahan penghargaan bagi insan Indonesia yang dikenal oleh lingkungan terdekatnya sebagai pribadi-pribadi yang bersih dari praktik korupsi, tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan atau jabatannya, menyuap atau menerima suap, dan berperan aktif memberikan inspirasi atau mempengaruhi masyarakat atau lingkungannya dalam pemberantasan korupsi. Bung Hatta Award diselenggarakan oleh Perkumpulan BHACA yang berdiri pada 9 April 2003. Penghargaan ini di berikan tiap tahunnya kepada tokoh – tokoh publik yang di anggap memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Nama Bung Hatta sangatlah populer dan di cintai rakyat Indonesia karena gagasannya masih relevan dengan kondisi saat ini. Selain itu, dengan dituliskannya gagasan – gagasannya dalam bentuk tulisan dan buku membuatnya terwariskan secara utuh. Nalar literasi bung Hatta menjadikannya abadi.

Dengan segudang prestasi ini, banyak orang tua yang kemudian memberi nama Anaknya. Tentu dengan niat untuk mengikuti jejak kesuksesan Bung Hatta. Diberbagai pelosok negeri, banyak putra daerah bernama Hatta yang memiliki segudang prestasi. Salah satunya Bupati Kabupaten Maros, Hatta Rahman.

Berbagai prestasi yang telah diraih, seperti penghargaan Inovasi Manajemen Perkotaan Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) Bidang Pelayanan Jasa Perkotaan Tahun 2014 dengan predikat Sangat Baik (juara I) untuk bidang penataan pedagang kaki lima (PKL) melalui penataan kawasan kuliner Pantai Tak Berombak (PTB), abupaten Maros berhasil menggondol penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) tahun 2016, Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Award 2015, dan berbagai prestasi nasional lainnya. Selain itu, perbaikan infrastruktur berupa jalan beton telah menjangkau sampai seluruh pelosok desa yang ada di kabupaten Maros. Penataan kota serta perbaikan kantor – kantor pemerintahan pun membuat Maros terlihat lebih maju.

Baca Juga  Kampanye IYL-Cakka Untungkan Pedagang Kaki Lima

Dengan segudang prestasinya, dengan mudah mampu memenangkan pemilihan kepala daerah di periode keduanya. Jika periode pertama visi kepemimpinan Hatta Rahman adalah pembangunan infrastruktur, maka di periode keduanya lebih pada pengembangan sumber daya manusia dengan tigline Maros lebih sejahtera. Namun dari kemajuan kabupaten Maros ternyata, penyakit sosial pun berkembang pesat. Kota Maros pun mulai menjadi tempat peredaran narkoba, praktek prostitusi online, begal dan sebagainya.

Sebuah daerah tentu bisa maju dengan kemajuan fisiknya, namun jika cara berfikir masyarakat tidak ikut maju. Maka yang terjadi adalah ketimpangan yang mudah memicu konflik sosial dan penyakit – penyakitnya. Olehnya itu, perlu pengembangan kapasitas intelektual masyakatnya. Tentu ini menjadi tantangan bagi Hatta Rahman di periode keduanya, dengan memfokuskan pada pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu yang patut diapresiasi dalam kepemimpinannya adalah bergeliatnya semangat kaum muda untuk mendorong gagasan kota Literasi. Konsep ini menjadi kebutuhan untuk membangun sumber daya manusia bisa berjalan lebih cepat. Bukan hanya pada skill manusia yang siap kerja, tetapi juga dalam segi mindset untuk bergerak lebih maju.

Tentunya, ini menjadi salah satu jalan untuk membangun gagasan besar dalam kepemimpinan Hatta Rahman di Kabupaten Maros. Ini bisa menjadi inovasi percontohan diberbagi daerah jika ide ini bisa direalisasikan. Masyarakat telah bergeliat dan mensupport ide ini, tinggal pemerintah yang harus menjemputnya. Meminjam konsep Steelman (Steelman, 2010:4), Terdapat kondisi ideal yang mendorong pelaksanaan inovasi dari waktu ke waktu. Diantaranya : (a) individu yang termotivasi dan bekerja dalam norma-norma sosial di tempat kerja dan lembaga yang dominan atau budaya organisasi yang mendukung inovasi atau praktek inovatif. (b) struktur yang memfasilitasi aturan yang jelas dan komunikasi, insentif yang mendorong kepatuhan terhadap praktek inovatif, lingkungan politik yang terbuka untuk inovasi, dan kesadaran perlawanan dan langkah-langkah untuk mengatasi, mengurangi, atau menetralisir perlawanan dan (C) strategi untuk membingkai masalah untuk mendukung praktek inovatif, memanfaatkan guncangan atau fokus peristiwa jika terjadi, dan penggunaan inovasi untuk meningkatkan legitimasi.

Olehnya itu,  ide dan gagasan ini harus di sambut dengan program dan dukungan regulasi yang jelas. Serta kinerja aparatur publik yang terbuka terhadap inovasi. Tentu ditangan Hatta Rahmanlah semua ini bisa dilakukan. Masyarakat Maros menantikan itu, khususnya pemuda Maros yang telah berdiskusi panjang untuk mendorong gagasan Maros kota literasi ini.

*) Penulis adalah direktur Public Policy Network dan salah satu inisiator Maros Kota Literasi

Facebook Comments