Home Literasi Berpisah Lagi

Berpisah Lagi

0

Oleh : Haidir Fitra Siagian*

Diantara keadaan yang paling berat dalam hidup ini adalah pada saat dimana perpisahan tak dapat dielakkan. Berpisah karena keadaan yang tidak dapat dihindari. Ada juga berpisah karena menjadi pilihan hidup. Itulah yang terjadi pada saya. Dalam usia 15 tahun lebih, saya sudah harus berpisah dari orang tua dan para keluarga. Meninggal mereka di Sipirok merantau ke Ujung Pandang, 29 tahun lalu.

Dengan demikian, perpisahan sudah terbiasa bagi saya. Akan halnya dalam hidup berkeluarga, perpisahan tempat tinggal sudah agak lumrah bagi kami. Bahkan boleh dikatakan bahwa tiada saat dalam waktu panjang tanpa adanya perpisahan. Bagi kami, perpisahan sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kami.

Sejak awal pernikahan tahun 2003, saya dengan nyonyaku kerap berpisah tempat tinggal. Saat itu saya masih menetap di Makassar, mengabdi di Kantor Muhammadiyah Sulawesi Selatan sambil menyelesaikan studi S.2 di Universitas Hasanuddin. Sedangkan beliau bekerja dan menetap di Polewali Mandar, Sulawesi Selatan kemudian menjadi Sulawesi Barat. Berpindah dari satu Klinik, ke Pustu, dan ke Puskesmas.

Jadi saya harus bolak-balik ke Polewali sejauh 250 km, selama hampir lima tahun. Kadang naik motor seorang diri dengan jarak tempuh lima hingga enam jam. Kadang pula motornya dinaikkan ke dalam bus Sumber Tani atau Karya Tani dengan membayar sewa tiga kali lipat. Kemudian saya tak kuat lagi bawa motor, apalagi ibu mertua pun melarang. Akhirnya naik bus atau panther. Berangkat ba’da Isya tiba di Pokko atau Pelitakan tengah malam.

Setelah saya diterima sebagai dosen di UIN Alauddin Makassar, nyonyaku minta dipindahkan ke Makassar. Dia memilih ikut saya. Jadi dosen pula. Setelah melewati proses yang panjang dan penuh dinamika, tahun 2008, beliau resmi pindah ke Makassar. Artinya kami sudah dapat tinggal bersama. Tak berpisah lagi.

Ternyata itu tidak berlangsung lama. Hanya tiga tahun bersama satu kepulan asap dapur. Tahun 2011 perpisahan dimulai lagi. Saya harus berangkat ke Malaysia untuk melanjutkan sekolah. Dan tak lama kemudian dia berangkat ke Australia dengan tujuan yang sama. Sementara anak-anak tinggal di Gowa dengan Ompung dan Bujingnya. Jadilah keluarga kami memiliki tiga dapur di tiga negara yang berbeda.

Tahun 2013, dia kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan sekolahnya. Saya sendiri belum selesai. Dua tahun kemudian barulah saya kembali ke Makassar setelah merampungkan penulisan disertasi. Ini baru kami mulai lagi hidup bersama walaupun dalam kenyataannya saya masih sering kesana kemari dalam waktu yang cukup lama.

Kebersamaan dengan keluarga harus terpisah lagi. Tahun 2016, anak pertama kami yang harus sekolah. Dia memilih tinggal di pondok, belajar Al Qu’an, pedalaman Bissoloro Kab. Gowa. Tahun berikutnya, 2017, putri kami pun memilih pesantren di Bela Bori Parangloe Gowa, sebagai tempat menimba ilmu. Dan pertengahan tahun 2018 lalu, kembali nyonyaku yang harus pergi sekolah ke Australia mengambil program doktor dalam bidang kesehatan masyarakat.

Tidak berhenti di situ. Pada hari ini, dua orang putri kami yang harus meninggalkan saya. Keduanya ikut ibunya ke Australia, sama-sama melanjutkan sekolah hingga tiga setengah tahun ke depan. Satu sekolah tingkat SD satunya tingkat SMP. Sementara putra pertama, masih tinggal di pesantren sambil menunggu ujian nasional tingkat SMP beberapa bulan lagi.

Artinya, pada hari ini keadaan justru terbalik. Mereka semua “meninggalkan” saya. Jadilah saya tinggal di rumah tanpa mereka. Inilah pilihan hidup. Bagaikan roda yang berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Dulu sering meninggalkan mereka sekarang justru mereka yang meninggalkan saya. Mohon maafkan kami dan doa restunya. Semoga semua ini ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya. Wallahu’alam.

Wassalam

Bandara SHIA Maros, ba’da Subuh
Ahad, 17 Februari 2019

*) Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments