Home Mimbar Ide INTELEKTUAL “STEMPEL”

INTELEKTUAL “STEMPEL”

0
Syarifuddin Jurdi

Oleh : Syarifuddin Jurdi*

Dalam sejarah peradaban manusia dikisahkan seorang yang sangat pintar dan pandai (kini kita menyebut kaum intelektual) bernama Haman, ia merupkan pemikir dan ahli dalam merancang bangunan pencakar langit, menjadi konsultasn politik pemerintah berkuasa, pada masa Fir’aun ia diminta untuk membuat gedung yang tinggi agar bisa melihat TuhanNya Musa, hal itu tergambar dalam Al-Quran “Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu; yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian (QS Al-Mu’min [40]: 36-37).

Haman bukanlah sembarang intelektual, selain memiliki keahlian dalam membuat gedung-gedung pencakar langit, ia juga intelektual yang sangat setia pada penguasa, ia siap melayani penguasa politik dan pengusaha ekoonmi dengan legitimasi ilmunya, dengan kata lain, Haman merupakan intelektual yang setia “mengabdi” sepenuhnya kepada majikannya. Kesetiaan inilah yang menyebabkan dirinya menjadi sosok yang sangat dihargai oleh penguasa.

Intelektual seperti Haman di era modern ini menjamur dalam kehidupan politik dan ekonomi modern masyarakat, banyak intelektual yang mengabdi kepada penguasa dan pengusaha, membenarkan apa yang dilakukan oleh penguasa dan pengusaha dengan argument teoritik terhadap kebijakan mereka yang berkuasa dan ekspansi bisnis pemilik modal, meskipun itu tidak sesuai dengan harapan dan aspirasi masyarakat.

Para intelektual yang mendirikan “industri” jasa atas nama ilmu pengetahuan, itu dapat dimasukkan dalam konteks praktek ala Haman atau kita menyebut Haman modern. industri jasa intelektual dalam banyak bentuknya merupakan praktek nyata Haman di era modern, pengabdiannya bukan pada pengembangan ilmu melainkan perbendaharaan capital dan kuasa. Wallahu a’lam

*) Penulis adalah Komisioner KPU Sulsel dan Akademisi UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments