Home Mimbar Ide Dia yang Mencumbuiku

Dia yang Mencumbuiku

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh : Ermansyah R. Hindi*

Kata-kata memiliki hubungan bahasa dalam teks. Kata-kata membuka dirinya dengan segenap kemugkinan bahasa tidak kembali lagi pada orang-orang yang terbebas dari teks. Sesuatu yang tidak terpikirkan dari teks, dimana sisi gelap dan kosong dari pikiran terakhir dibebaskan gambar dunianya menjadi kata-kata baru. Sebagaimana kita memahami, bahwa kesenangan bukan menahan sakit dari tekanan lapar disingkap melalui kata-kata, tetapi dari pikiran kosong yang terperangkap dalam utang suara dari tubuh. Mata menyingkap kedok yang datang dari asal-usul menghilang dalam susunan suara yang berbicara pada sisi gelap. Permukaan bulatan gelap melingkari titik putih dalam mata menjadi saluran darah menukik dalam bahasa ditanggulangi artikulasi dan derivasi. Artikulasi menyediakan muatan pada bentuk verbal dari dalil-dalil yang murni, tetapi masih pinggiran. Kelanjutan gerakan kata-kata melalui di atas permukaan benda-benda dalam teori derivasi untuk tetap dari sumber asalnya. Sedangkan kata-kata yang bergerak keluar dari bawah permukaan obyek ke tubuh melebih bayang-bayang bedak, lipstik, pakaian, buku, rumah, liburan maupun benda-benda lainnya yang tidak nyata menuju kematian pemikiran. Kesenangan atas sesuatu yang masih berada dalam sisi kosong yang meluap-luap tanpa berhenti bergerak lebih jauh dan lebih menantang lagi melalui derivasi, lalu saling bersambung satu sama lain dengan menyusun dirinya sendiri untuk merahi perbedaan artikulasi yang terbuka. Suatu hal masih sulit kita lupakan, pada kemampuan artikulatifnya menerobos jarak, dimana ia bergerak sejauh garis derivasi.

Pergerakan kata-kata menuju titik permukaan benda-benda akan berbalik arah menuju suatu tulisan auto-erotis melalui pertukaran dari jalur pinggiran permukaan benda-benda ke sesuatu yang tidak terpikirkan. Disinilah menjadi lebih jelas, bahwa kata-kata tidak pernah berbicara sesuatupun, kecuali ‘benda-benda’ yang menyisakan pinggiran permukaan ‘yang nyata’ dengan cara mengendalikan daya tarik atau bujuk rayu dari benda-benda ‘yang tidak nyata’ sebagai titik relasinya. Hal inilah menandakan bagaimana kita dapat melihat tanpa jarak dan hirarki terhadap rangkaian ‘gambaran yang tidak terpikirkan’ lagi setelah bentuk-bentuk pengetahuan mutakhir muncul diantara ‘benda-benda terlihat’ secara kasat mata. Daya tarik tidak pernah mengambil cara lain, kecuali pengaruh eksternal dari benda-benda yang tidak nyata yang tertanam dalam pikiran kita, berakhir pada pemenuhan kesenangan fisik melalui rangkaian gambaran kosong. Terdapat dua hal yang berbeda dari pergerakan permukaan benda-benda dan permukaan obyek. Pada satu hal, pertukaran atas ‘permukaan benda-benda’ dan ‘obyek merujuk pada tubuh’. Hal lainnya, permukaan tersebut dari asal-usulnya tidak berkedok pada penampilan luar, melainkan permukaan dirinya sendiri. Tabir tersingkap melalui sisi gelap dan kosong. Pergerakan ganda dari tidak nyata, sisi gelap dan kosong menjadi transisi bagi kesenangan pada yang nyata. Fase transisi memisahkan antara kecanduan dan kesenangan pada sesuatu yang bersifat eksternal. Orang-orang akan melihat gambaran kesenangan dengan apa-apa yang ada dalam benaknya terhadap suatu yang telah mengalami pertukaran obyek sekaligus benda-benda. Hasrat dan nafsu untuk bertindak ada di luar benda-benda atau obyek pikiran. Keduanya berbeda disaat kekuatan untuk kata-kata semakin berhubungan dengan sisi gelap dan kosong dalam pikiran dan fantasi. Bedak atau lipstik tidak dapat dipisahkan dari pertukaran kesenangan antara pikiran dan warna, fantasi dan aroma, hasrat dan suara mendesah dibalik tubuh non organik (pengulangan-simulakra).

Namun demikian, kata-kata yang berhubungan dengan benda-benda yang kosong dan sisi gelap tanpa bentuk dan ruang. Kewaspadaan pada yang kosong dan gelap tidak berarti kesenangan pada dusta. Dalam pikiran dan imajinasi kita, kesenangan pada benda-benda yang kosong dan gelap diidentifikasi sebagai celah dari binatang reptil dan kekuatan jahat yang memiliki kemiripan pada citra yang dihasilkan sinema atau telemedia lainnya. Sekali ditanamkan dalam pikiran dan imajinasi, hasil identifikasi sebagai akibat kesenangan pada dusta menjadi penderitaan yang tidak sia-sia. Citra medium tidak dapat menggambarkan realitas, kecuali hanya sisi gelap dan kosong tanpa cahaya yang memendar antara kata-kata dan bayang-bayang kemiripan. Sisi gelap dan kosong dengan esensinya dan cahaya dengan esensinya sendiri yang tidak mampu menembus lingkaran dusta yang disamarkan dengan kesenangan. Lingkaran dan lapisan dusta dibalik kesenangan akan mengakhiri representasi pikiran melalui ketidakhadiran wujud alami dan wujud virtual, tempat dimana kesenangan ditemukan untuk bergerak antara sisi gelap dan kosong. Kejahatan dan kebaikan menutupi celah demi sisi gelap dan kosong, karena kedua kategori tersebut mengalirkan kekuatannya dengan dukungan pengetahuan tentangnya. Sesuatu ‘yang nyata’ dari kesenangan bergerak antara wujud alami dan wujud virtual untuk mengendalikan sisi gelap dan kosong dibalik dusta.

Dari sisi gelap dan kosong keluar dari ilusi kebenaran, karena kata-kata yang berfungsi secara efektif nampaknya mengalami perubahan menuju mesin ganda, yaitu mesin teks dan mesin pendaur-ulang memasuki kesenangan orang-orang terhadap permukaan. Kata-kata tidak terlepas dari alfabetik atau angka-angka bersama skala numerik menerobos teks-teks yang tidak tertulis. Tidak sekedar mengatasi bentuk dan ruang kosong, tetapi juga produksi non material yang tidak terpisahkan antara benda-benda yang bersifat alami dan artifisial. Sisi gelap dan kosong mengisi dusta, akhirnya menghilang dalam ilusi kebenaran.

Kesenangan itu sendiri tidak eksesif sepanjang kesenangan terbebas dari lingkaran dan hirarki. Fotografi, sinema atau video rekaman menjadi sisi lain dari kesenangan sebagai proses pengingatan kembali. Benda-benda yang tidak nyata mendukung pembentukan nilai materialitas kesenangan sebagai pertimbangan untuk kelangsungan ingatan. Benda-benda yang bersifat material atau teknologi merupakan bagian dari teks yang tidak tertulis dalam kesenangan yang tidak terelakkan. Auto-teks dan benda-benda yang tidak nyata atau tidak tertulis memasuki diskursus lebih mengakar dibandingkan pikiran berlangsung tidak secara psikis, tetapi secara mekanis dalam dunia.

Meskipun tidak berlangsung sepenuhnya pada keseluruhan, tetapi juga sebagian yang lain dari kekuatan bergerak berbolak-balik. Kita juga mencoba memusatkan perhatian pada pembentukan relasi yang bersifat mekanis. Akhirnya, kita perlu melangkah pada hal-hal yang remeh tetapi terberat, dimana kita melihat bukanlah pemisahan antara penderitaaan, dusta dan kebencian, melainkan relasi antara kesenangan, kegemaran dan kecanduan saling bertumpang-tindih atau bercampur-aduk antara satu dengan yang lainnya. Bagi sesuatu hal yang tertunda, kita juga mencoba tidak merampungkan secara teliti terhadap pembentukan relasi yang bersifat mekanis. Dari sebagian dari kekuatan yang bergerak secara tidak linear, mesin produksi tidak memiliki relasi dengan mesin modal mencakup sirkulasi modal-uang, nilai tukar, nilai surplus dan sebagainya. Sementara, mesin analisis seperti auto-geometris, energi non organik-otak komputer atau laboratorium pengetahuan.

Arus pergerakan solid menuju mesin analisis memberi tantangan sekaligus mengakhiri kerja mesin pikiran, sekalipun ia tidak dapat dipisahkan dengan kesalahan identifikasi atau verifikasi. Kata lain, mesin analisis tidak memiliki keterkaitan dengan mesin pikiran dan mesin ingatan. Setelah titik akhir dari auto-kepuasaan, mesin analisis mampu merekayasa sesuatu dibalik gambaran pikiran. Dalam pengetahuan selanjutnya ditemukan suatu ‘mesin pendaur-ulang’ yang beracak dan bertukar menjadi ‘mesin penerjemah universal’ melalui kata-kata.

Sebagian orang berada dalam kesenangan untuk berbicara bebas, berkedok kebenaran dalam keadaan tertentu dengan cara mengeksploitasi kesenangan untuk menghujat subyek, simbol dan kata-kata. Kesenangan dengan tulisan yang menopangnya terpinggirkan tatkala kesenangan itu sendiri disamarkan melalui kecanduan dan kesibukan. Pengaruh eksternal dalam kesenangan bukanlah kausalitas. “Dia berbicara sesuai dengan isi pikirannya”. Dari titik tolak inilah, berapapun jumlah kesenangan yang dilepaskan tidak memengaruhi benda yang tidak nyata. Mungkin kita dapat menghitung berapa jumlah obyek kesenangan seperti mengumpulkan kartu berharga atau berlibur di suatu tempat, tetapi tidak mengukur esensi dari kesenangan itu sendiri. Sebagaimana selera dan hasrat, kesenangan juga mempunyai rahasia tersendiri, sehingga esensi kesenangan berbeda dengan kata-kata yang diucapkan seseorang. Jika kemiripan figur yang berulang sebelumnya dimainkan oleh seseorang yang mencoba mengatur kepuasan dengan memainkan kata-kata dusta atau kebencian, berarti begitu pula cara memainkan kata-kata begitu membius akibat ketidakhadiran mesin pikiran di depan ruang umum dan bebas. Karena itu, dusta atau kebencian tidak lebih dari bagian “mesin bunuh diri” sekaligus cara membatasi kesenangan terperangkap oleh sifat alamiah. Mesin pembunuh dari dusta dan kebencian berkedok kebenaran yang sebelumnya bersifat alamiah berubah menjadi sosok mengerikan. Mungkin tidak ada tempat bagi pikiran tatkala kengerian atas nama kebenaran.

Kesenangan boleh jadi kata-kata permulaan, tetapi ia bergerak tanpa akhir. Meskipun pada derajat tertentu, bentuknya lahir pada permukaan yang berbeda, dimana kemiripannya yang bersifat mekanis memiliki keterkaitan dengan kegemaran dan kecanduan yang terinci dari mesin ketidaksadaran (hasrat, libido) yang melebihi pikiran.

Dari titik tolak permukaan inilah, kata-kata mulai merenggut dan membangun kembali bahasa yang tidak mewakili atau merujuk pada dunia. Satu-satunya jalan bagi teks dan arus kesenangan ditambahkan teks pengetahuan untuk merujuk pada permukaan sebagai tanda lainnya seperti tanda produktivitas. “Anda yang menitip kata-kata menjerumuskan”. “Saya mendengar kata-kata rayuan” merupakan bahasa yang direpresentasikan dari kata-kata itu sendiri.

Kini, kata-kata nampaknya membutuhkan sedikit energi terakhir dari kekuatan retorika spontan yang memberikan umpan-balik bagi kesenangan lainnya melalui huruf demi huruf dan tulisan angka-angka yang tidak memiliki hubungan dengan seni dusta dan kebencian. Berapa jumlah korban kesenangan yang buta atau korban dusta dan kebencian bukanlah cara untuk menyingkap rahasia yang menyelimutinya dengan proses penyatuan dari kedua kekuatan yang berbeda. Kesenangan akan muncul dan lenyap, tetapi bagi prasangka buruk, dusta dan kebencian seperti menguap begitu saja tanpa bekas. Jika kesenangan merupakan bagian dari diskursus, dusta dan kebencian merupakan abortus dari pengetahuan yang tidak dikendalikan dari dalam. Kesenangan dengan segenap rahasia dan paradoksnya datang dari kemampuan mengendalikan lingkaran dan hirarki sebagai sebagai sesuatu yang membatasi pergerakannya, tatapi kesenangan pada yang nyata mencoba untuk keluar dari sesuatu yang tidak nyata.

Kesenangan terhadap yang nyata diantara sisi gelap dan kosong, ia bukan sesuatu yang tidak nyata seperti kekayaan materi dari seseorang. Setiap sesuatu yang mempesona setelah dimaterialisasi akan terjatuh dalam kehampaan. Dari sinilah keterkaitan autoproduksi atas reproduksi untuk mengorganisir dirinya sehingga keluar dari kehampaan. Dibandingkanlah dengan dusta atau kebencian memiliki hubungan dengan kehampaan. Kesenangan menjadi suatu kemiripan dari sesuatu ‘yang tidak nyata’ (imajiner, yang nyata dan simbolik seperti bedak, lipstik, parfum pria-wanita, dan lainnya dari mesin ketidaksadaran). Permukaanlah berupa tubuh yang memengaruhi kita, sehingga begitu kuatnya tubuh, dimana kesenangan yang memberi umpan balik padanya.

Setiap proses produksi berlangsung secara non seks manusia, maka kesenangan tidak lagi membagi sisaan dalam realitas dengan cara mengganti penderitaan menjadi kecanduan dan kegemaran pada sesuatu. Pada saat kita tidak lagi menemukan rayuan yang mematikan sekaligus ketidakhadiran sisaan (residual). Citra modal uang yang ditanam dan disebarkan oleh mesin fantasi dan mesin mimpi melingkari orang-orang tergabung dalam nepotistisme dan oligarki tidak lebih dari energi sisaan dalam masyarakat. Auto-teks secara umum yang dimainkan oleh kaum nepotis dan oligarkis untuk memperebutkan kepentingannya dengan cara dusta sebagai bagian dari kata-kata dalam tingkatan ‘tersembunyi’. Mesin fantasi buta dan mimpi kosong menopang energi sisaan yang dibentuk mesin kapitalis untuk mengisap aroma tubuh modal dan mencium analnya sendiri.

Dalam kesenangan ditopang oleh kata-kata dan diskursus, kedok itu dapat tersingkap. Berkat titik permukaan, sisi kehidupan atau pemikiran manusia berangsur-angsur berubah. Justeru permukaan merupakan sudut pandang yang khas melalui kesenangan seseorang terhadap kata dalam logika-bahasa sesuatu yang membuatnya tertarik. Sejauh bahasa lisan sesuai dengan bahasa tulisan ada dalam pikiran pembaca sekaligus pikiran penulis melalui kesenangan. Arus kata-kata akan mengambang bebas di atas permukaan bergerak dari citra hasrat ke realitas yang diputuskan relasinya dengan kesenangan berada sekitar kita, seperti daun-daun mengambang di permukaan kolam air. Satu sisi, benda-benda terpisah dengan permukaan. Pada sisi lain, titik permukaan menandakan celah dibalik benda-benda yang dapat terukur dan berbicara pada kita, sekalipun orang-orang yang memiliki hasrat untuk menandai tubuh tidak lagi terungkap dalam ketidakbenaran terhadap keindahan. Kata-kata kembali berada dalam ketidakhadiran gaya dan tata bahasa kesenangan. Bentuk dan ruang kosong yang menyelimuti kata-kata itu sendiri. Kata-kata eksis dalam tulisan menjadi titik pergerakan dari satu diskursus ke diskursus lainnya. Diskursus mencoba menggambarkan sesuatu mengenai eksis atau tidaknya (deseksualitas) kesenangan. Jadi, bukan hal-hal besar dari dusta atau ujaran kebencian, melainkan suatu hal yang sederhana bersifat terbuka dan teracak dari kesenangan yang mengalami perubahan terus-menerus.

Tersingkapnya lekuk pikiran yang menubuh nampak dari luar sebagai akibat kata-kata, tuturan, perbincangan, tulisan atau teks itu sendiri di bawah pengendalian institusi bernama rezim kuasa. Boleh jadi kesenagan adalah bagian dari kuasa. Pada saat kesenangan menjadi aparatur kuasa tidak bergerak secara terbuka tanpa memiliki kuasa yang produktif dengan cara mengelola dusta dan ujaran kebencian secara manusiawi. Bukan cara kekerasan atas kekerasan lainnya. Sentuhan kreatif dan manusiawi itulah cara bekerja kesenangan melalui tubuhnya sendiri berlangsung melalui rezim diskursus yang sebagian pihak tidak ingin dimanifestasikan dan dikonsolidasikan menjadi rezim kuasa. Suatu hal, bahwa pemikiran berputar di sekitar kuasa atas tubuh dan kuasa itu sendiri dalam kaitannya dengan sesuatu yang produktif dan kesenangan dibalik kuasa dan tubuh itu sendiri. Ia tidak melihat, bahwa kesenangan dapat saja teracak dan tertukar tatkala kegemaran pada sesuatu begitu beragam yang membuat kesenangan hanya mengejar bayangannya sendiri, sekalipun tubuh menjadi aparatur sekaligus titik memantulkan bayangannya. Pikiran, fantasi, mimpi, dan citra yang dipantulkan melalui tubuh menjadi lapisan pertama dan benda-benda yang bersifat lahiriah menjadi lapisan kedua bayangan bagi kesenangan.

*) Penulis adalah ASN pada Bappeda Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments