Home Berita Akademik Serambi Madinah, Sebagai Perwujudan Pengembalian Falsafah Kota Gorontalo.

Akademik Serambi Madinah, Sebagai Perwujudan Pengembalian Falsafah Kota Gorontalo.

0

Matakita.co (Gorontalo) – Banda Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, maka Gorontalo dikenal sebagai Kota Serambi Madinah. Menjadi Provinsi termuda di Indonesia ternyata tidak membuat Provinsi Gorontalo kalah bersaing dengan daerah lain, karena memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri.

Provinsi yang terletak di Pulau Sulawesi ini, juga dijuluki sebagai kota ‘Serambi Madinah’ yang memiliki Keragaman budaya dan adat istiadat yang selalu menjadi magnet utama dan membuat Gorontalo dinobatkan sebagai kota ke-9 dari 19 kota adat di Indonesia.

Provinsi Gorontalo selama ini dikenal sebagai Kota Serambi Madinah.Sebab,  tradisi mayoritas masyarakatnya yang mengacu pada ajaram Islam. Bahkan dalam semboyan budaya Gorontalo dikenal dengan istilah Adati hula-hula to syaraa, syaraa hula-hula to quruani, yang berarti adat bersendikan syara, syara bersendikan Al-Quran.

Herianto Thalib mengatakan, Sejauh ini julukan serambi madinah yang terletak di kota gorontalo terus diperbincangkan dikalangan publik, hanya saja yang menjadi pertanyaan besar, dimana letak budaya yang di kenal dulu hingga gorontalo dijuluki sebagai kota serambi madinah.

“Semisalkan beleuta atau cadar yang menggunakan kain bate atau batik sebagai penutup kepala yang sering digunakan dalam penjengukkan orang yang sedang sakit, pemakaman orang meninggal dan lain sebagainya, dahulunya adat itu terus dipertahankan hingga dijuluki nama tersebut, namun dengan kecanggihan tekhnologi adat itu mulai hilang.” Tutur Aleg Kota Gorontalo

Mirisnya adat itu kemudian telah memudar di tanah gorontalo, kini orang lebih suka menggunakan pakaian terbuka hingga celana pendek bagi kaum perempuan, dan sudah barang tentu ini menjadi sebuah tugas dan tanggung jawab kita bersama sebagai generasi gorontalo, untuk mengembalikan adat itu, sehingga serambi madinah tak hanya sekedar nama atau slogan belaka.

Lanjut Mantan Aktivis itu, Untuk mengembalikan serambi madinah seperti sediakala secara meluas tentunya agak sulit, karena melihat posisi gorontalo yang memiliki 6 kabupaten kota. Sehingganya, kita harus ambil skala kecil dulu, semisalkan wilayah religius yang ada digorontalo terus kita kembangkan dan kembalikan adat-adatnya.

Foto : Ist

Pusat kota serambi madinah di kota gorontalo tentunya terletak pada kawasan mesjid hunto, karena kawasan tersebut dikenal sebagai pusat pengembangan islam dan bangunan – bangunan yang bersejarah, tempat dimana Raja Amai menikahi putri seorang raja palasa hingga dirinya masuk dalam agama islam serta menyebarkan islam ke beberpa wilayah di gorontalo.

Dengan lebih dihidupkan suasana religius yang berada di kawasan mesjid tersebut, tentunya orang akan lalu lalang dengan menggunakan cadar dan gamis, ketika hal itu tercipta, maka suasana religius begitu terasa, seperti suasana yang berada di tanah madinah tentunya.

“Kita kembalikan lagi pakaian beleuta atau pemakaian cadar di kawasan tersebut, dengan dikembalikannya, tentu suasana serambi madinahnya lebih terasa dan tidak hanya sebatas slogan saja”. Tuturnya.

Lanjutnya, Untuk menghidupkan kembali suasana itu yakni harus ditopang dengan penjualan accesoris islamic disekitar kawasan mesjid tersebut, sehinga ketika orang ingin melihat kawasan serambi madinah, mereka bisa mengunjungi mesjid hunto yang memiliki nuansa muslimnya yang sangat pekat.

“Dengan adanya pembaharuan mesjid bersejarah tersebut saya yakin dan percaya masyarakat yang ada di kelurahan biawu, tepat dikawasan Masjid Hunto dengan sendirinya akan berubah karakternya”. ujar Herianto Thalib. Minggu (18/8/2019)

Dengan budaya muslimnya yang terus dipelihara, tentu kota serambi madinah tersebut akan lebih nampak. “Saya berharap kedepannya ada salah satu rumah yang di bebaskan lahannya agar dijadikan sebagai lahan parkir oleh orang-orang yang nantinya akan mengunjungi mesjid hunto itu. saya sepakat apabila dikawasan masjid Hunto Sultan Amay dapat di tata, di poles dan dikelola dengan baik, sehingga dapat dibangun lapak-lapak yang nantinya akan dijadikan sebagai tempat usaha atau penjualan acesories muslim dan kuliner khas Gorontalo.” tutur anggota DPRD Kota Gorontalo.

Herianto menambahkan, ketika terwujud hal itu, tentunya tidak lepas dari sinergitas antara masyarakat, lembaga – lembaga serta pemerintah. maka kedepannya saya akan membuka akademik serambi madinah di kawasan tersebut. Yang tentunya menjadi wadah kajian islam, berupa pembelajaran dakwah bagi generasi muda, serta pembekalan – pembekalan yang akan memberikan kesadaran bagi masyarakat.

” adanya hal tersebut saya meyakini, prostitusi hinggga kriminalitas yang menjadi fenomena saat ini di gorontalo dengan sendirinya akan berkurang, hingga tidak ada sama sekali. Serta falsafah adat bersendikan syarah dan syarah bersendikan kitabullah itu bisa kita nampakkan. Tentunya dengan adanya strategi ini nantinya akan menjadi contoh bagi daerah lainnya”. Tegas anggota dewan yang baru dilantik itu.

Facebook Comments