Home Mimbar Ide Permukaan dan Perbedaan

Permukaan dan Perbedaan

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Setelah terjadi pergolakan rasial, ketajaman gambar ditandai “Pemulihan Papua Menjadi Prioritas” memasuki berita utama dari surat kabar nasional. Saya tidak menggambarkan sebuah teks berita utama di atas permukaan kertas, melainkan ‘kemiripan’ peristiwa di balik perbedaan gambar datar dan bergejolak hingga menerima perbincangan mengenai ‘Referendum Papua’ atau Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat menjadi teks politik-hukum global. Suatu hal yang menantang sisi terbalik dari gambar sesungguhnya berasal dari pernyataan penundaan atas wilayah pertumbuhan kuasa, tarik menarik penanganan prioritas permasalahan dalam tempo cepat, pembebasan wilayah administrasi ‘pinggiran’ dari wilayah ‘pusat’ kebijakan secara institusional. Ketajaman gambar diwarnai dengan perbedaan ganda berupa permukaan yang keluar dari hirarki dan representasi. Perbedaan dan permukaan yang tidak dapat direpesentasikan perlu dihubungkan dengan kemiripan yang berbeda pada gambar atau lukisan tidak terlihat oleh mata pelukis. Dia membentuk penundaan hasrat untuk mengetahui penonton dalam perbincangan yang membosankan. Saat itulah kita tidak pernah memasuki diskursus lebih menarik dibandingkan segi tiga terbalik; ia membuat seorang terangsang pada lingkaran dan hirarki kuasa. Perbedaan itu ditemukan dalam tanda-tanda mengarah pada kemiripan dibalik akar-akar permasalahan, gejala-gejala dan tahapan pembebasan suatu wilayah kedalaman mimpi yang tabirnya tidak tersingkap untuk melintasi permukaan benda-benda yang tidak terkanvaskan.

Pergerakan lukisan atau buku seperti bumi yang beredar pada porosnya, didalamnya terdapat ‘aura paradoksal’, yaitu kedamaian dan kekerasan menjadi kronologis peristiwa yang menyediakan sebuah kanvas bagi setiap sisi yang tidak terlihat lagi. Persis di saat kita melihat lukisan atau gambar yang tidak tergantung di dinding, tetapi suara gambar dalam ingatan, fantasi dan pengetahuan kita bersama bingkai kecil yang tidak diketahui kapan garis datar membentuk permukaan yang baru.

Mengapa kita memberi teka-teki kemunculan meriah dari kedalaman yang kosong di sisi depan gambar? Pada mulanya peristiwa menandakan sisi kedalaman gambar yang dipolesi bentuk, volume dan alur yang tersembunyi dari pandangan. Kita tidak pernah mengetahui kapan garis datar membentuk permukaan cekung dan cembung gambar dan benda-benda yang beraturan dan tidak beraturan menuju titik akhir kedalaman selera.

Tujuan kita dengan adanya orang-orang yang menyaksikan sisi depan gambar tidak mengarah pada pergerakan keseimbangan, pandangan mata melintasi permukaan tembok terbentang di sisi jalan umum. Lukisan wajah pahlawan menghiasi tembok yang mampu berbicara melalui teka-teki. Ia tidak dapat dilihat sambil berlalu di balik tembok, kecuali keadaan gambar terbalik dengan sorotan mata yang bergantian. Kita tidak membutuhkan lagi ‘pintu belakang’ pada tanda-tanda baru dan cara melewati jejak-jejak lama. Saat itu, tidak cukup bagi kita untuk mengambil sesuatu yang baru dari permukaan yang sedang dia lukis. Kita menyaksikan diri sendiri sebagai sebagai pemuja lukisan yang warnanya mulai beransur-angsur pudar setelah kanvas menenggelamkannya. Dalam ingatan kita, gambar tidak melangkah maju, ia melangkah kembali pada peristiwa sebelumnya, pada hari-hari dimana tidak terbersik dalam pikiran dihadapinya tanpa keraguan. Pada situasi yang lambat bergerak, gambar peristiwa bergejolak menyediakan waktu untuk redah dari titik pandang terjauh gambar baru disaat mereka sedang pikirkan. Dari titik permukaan gambar tidak berupa garis-garis saling bersambung ditinjau kembali apa yang sekarang orang melihat secara terbuka, terekam dalam kesenyapan pada menit-menit terakhir kita. Bayangan wajah terpantul bukan lagi dari bara api menyala-nyala di sekitar identitas dan perbedaan yang nampak sepeleh, tetapi menyimpan bara lain yang datang dari gambar-gambar virtual tetapi nyata. Tidak ada lagi tubuh gelap dan putih, kecuali perbedaan atas konsep atau konsep identitas yang tidak dapat disubordinasi disaat pengetahuan manusia mencapai titik terjauh dari perbedaan yang dimunculkannya.

Pada akhirnya, bentuk aktual muncul di atas kanvas di luar permukaan; ia berganti dengan perbedaan dalam pandangan. Tetapi, tatkala kita melihat kanvas tanpa lukisan, ia menyediakan pandangan kita pada sudut ruang lain yang tidak pernah dijejaki. Kita tidak melangkah pada sisi luar, karena ia berubah pandangan tepat di bagian belakang kanvas, dimana ia sedang dicetak ulang melalui perbedaan yang Sama. Ia membentangkan sisi terbalik dari wilayah permukaan yang tidak pernah rampung, dimana perbedaan gambar atau citra diabaikan setelah ia keluar sebagai korban dari gambarnya sendiri. Kita berdiri di atas kanvas melebihi gambar yang bergantung dan tidak bergantung di dinding, sudut dimana pandangan mata dan mimpi tidak terberi pada bagian tampak pada permukaan, seakan-akan gambar bergerak menghampirinya. Permukaan adalah pengulangan dibalik perbedaan yang tidak tampak di atas kanvas kehidupan bagi gambar terbalik, dari arah tertentu mereka muncul dengan wajah yang berbeda.

Pergerakan gambar tidak lagi muncul di atas kanvas, ia mengarah pada permukaan jalan murni dibentangkan kanvas yang berbeda. Ia menampilkan kata-kata menuju teks, ujaran, wajah, darah yang belum lahir di tengah terperosoknya perbedaan warna yang netral. Pertentangan dalam perbedaan tanpa konsep dan representasi tidak menetralkan warna, dimana kata-kata menyerupai perbincangan yang senyap di ruang terbuka bagi setiap orang; mereka diatur oleh tema perbedaaan tiba-tiba berubah menjadi kekerasan konsep, kekerasan bahasa, kekerasan simbolik, dan kekerasan hasrat tidak terlukiskan di atas kanvas. Permukaan mengarah pada perbedaan konseptual, ia di balik gambar saling berebut representasi yang tidak mengatur titik permulaan. Permukaan yang terbentang mengarah pada ‘perbedaan dari perbedaan’ menjadi ‘perbedaan tanpa perbedaan’, tidak berbeda dalam perbedaan hirarki melebihi kulit, telinga, mata, bibir, dan hidung kita. Tidak hanya perbedaan diaspora, tetapi juga perhitungan ‘perbedaan tanpa perbedaan’ memasuki titik permukaan yang retak di balik gambar di sekitar kita.

Kita melangkah ke bagian gambar terdalam, yakni kekuatan alamiah dalam gambar virtual yang mengelilingi kita, ia berbicara pada kita tanpa tiruan sedikitpun berada di luar ruang kebangsaan. Mereka bukanlah refleksi sejarawan yang mempertontonkan kemiripan antara simbol-bendera yang satu dan simbol lainnya. Dalam struktur bahasa, perbedaan ditangkap oleh penciuman melebihi apa-apa yang didengar secara tidak utuh, seperti orang-orang dipermainkan kata-kata berantai, x = 1 ® 2 ® 3 ® 4 ® 5 ® 6, dan seterusnya menjadi penandaan permukaan yang retak berlindung di belakang artikulasi. Dari sini juga, semuanya bergerak melintasi permukaan benda-benda yang merasuk dari hal-hal yang ditukar oleh seorang repititor-‘pengulang’ memasuki perbedaan yang lain.

Paradoks permukaan membentangkan pilihan bebas dan hasrat untuk mengetahui. Seseorang tanpa pilihan menandakan mereka tidak memproduksi perbedaan, melainkan memproduksi celah dan perangkap perbedaan dalam dirinya sendiri.

Tepat di depan hidung kita, permukaan itu berlangsung, kemiripan dari “perbedaan dalam ukuran penciuman-hidung yang tajam”, dimana tidak ada lagi perbedaan berdasar konsep identitas, sebutan oposisi dan kemiripan yang dirasakan yang semuanya justeru tidak terjadi perbedaan. Sedangkan, permukaan radikal (radical surface) dapat mengatur permulaan, membentuk kembali titik permukaan antara simbol dan tanda, dibandingkan orang yang memuja dirinya sendiri melalui bendera, lambang negara, kesejahteraan dan keadilan yang imanen. Sehingga dari permulaan itu muncul rangkaian ‘permukaan yang kreatif’. Sehubungan dengan hal itu, semangat kebangsaan tidak lebih dari “darah” dan “tulang” kita, dimana identitas kebangsaan ternyata keluar dari falsafah negara, bendera, dan lambang negara membusukkan pikiran yang mengingkari perbedaan gambar.

Kemunculan kanvas menengahi bagian depan gambar menempati wilayah pinggiran dan keluar dari bagian samping kiri gambar yang direpresentasikan kembali pada suatu permukaan yang dipolesi perbedaan berpikir sebagai jenis pseudo-permukaan mengganti pseudo-pengulangan. Dalam pseudo-permukaan yang mengakibatkan hukum umum dari ‘dunia nyata’ di balik wujud virtual dapat direduksi dalam perbedaan bersifat alamiah.  Hal ini juga dapat dikatakan, bahwa x ¹ obyek, tetapi permukaan dalam perbedaan yang tersebar (s = d) yang dibarengi oleh pengulangan silih berganti melalui wujud virtual dan alamiah tanpa pertentangan identitas. Permukaan dalam perbedaan yang tersebar sebagai gambar dari mata sang repititor sedang dia amati dari kejauhan dengan apa yang tidak terlihat di bagian belakang kanvas membuat penonton berlari melalui permukaan dalam perbedaan. “Permukaan dalam perbedaan adalah wujud nyata antara identifikasi yang tidak terdefinisikan dan gambar-gambar pengulangan, yakni  ruang dan waktu ada dalam lingkungan yang berulang-ulang”. Pengulangan diubah oleh “permukaan tampak sebagai perbedaan tanpa aksioma”, permukaan yang mengarah pada titik akhir dari perbedaan koseptual. Ia menjauhi permukaan untuk mendapatkan perbedaan yang lebih banyak. Pengulangan ditandai oleh permukaan dalam perbedaan seperti, kontur, terjal, pinggiran, hamparan, persegi, dan garis yang tidak lagi menyentuh permukaan dan tidak mengarah pada representasi gambar yang terakhir ditonton oleh seseorang, dalam ruang dan waktu yang terhitung kembali ke belakang kanvas. Jadi, paradoks permukaan tidak berasal dari perbedaan, melainkan dari gambar-gambar pseudo-pengulangan.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa permukaan dalam perbedaan nyata tampak melalui pengulangan yang kreatif, meningggalkan pengulangan yang Sama sejauh gambar yang direpresentasikan kanvas yang tidak terlihat dengan penonton. Ia berada dalam hitungan mundur dari kronologis peristiwa diantara sisi pinggirang gambaran melalui kesamaan pengulangan bertubi-tubi mengikuti garis terputus-putus. Gambar-gambar permukaan akan menyalin dirinya sendiri sekaligus melenyapkan lukisan di atas kanvas.

Permukaan tidak hanya ‘lebih jelas’ sebagai perbedaan, tetapi juga perbedaan tanpa obyek tunggal. Betapa jalan yang berlika-liku nan terjal mengakhiri kesadaran diri tidak tampak sebagai representasi, kecuali pseudo-permukaan yang berlapis-lapis menjadi satu syarat bagi perbedaan absolut yang ditolak di atas kanvas peristiwa kehidupan.

Permukaan alamiah dan virtual akan lenyap dalam perbedaan, perbedaan mengalami kelenyapan dalam perbedaannya sendiri. Kita tidak lebih baik bekerja merahi mimpi dari jejak-jejak yang telah disediakan untuk menerobos bayangan gelap permukaan. Dari titik terjauh, kita akan melewati bayangan perbedaan yang baru, terdeteritorialisasikan dalam bagian samping kanvas yang meletakkan gambar di balik tembok, di pinggir lantai dan sebagainya. Anak-anak muda berdiri di depan pagar sambil membawa bendera, dimana kanvas berada antara didalam-diluar, di luar batas yang ditetapkan lukisan yang ditatap oleh pengunjung. “Anda tidak perlu melihat kulit badan orang lain, lihatlah kulit Anda” sendiri menuju permukaan yang terjatuh dalam kanvas perbedaan. Tidak sedikit dari anak-anak muda menerima oposisi duaan: Barat-Timur, Putih-Hitam, Tinggi-Rendah, dan Bau-Harum yang sesungguhnya bukan perbedaan, melainkan permukaan alamiah. Misalnya, x/y= x1, y1, x2, y2 … semuanya bukan hanya relasi simbolik, tetapi juga akhir dari perbedaan, ‘perbedaan tanpa perbedaan’ sekalipun tidak tampak di atas kanvas, di tembok atau di atas kepala gundul. Dari sini, perbedaan bukanlah oposisi dan permukaan bukan berarti superfisial. Permukaan dan perbedaan menjadi suatu kuantitas yang dapat dikualitaskan, sebaliknya juga, suatu kualitas yang dapat dikuantitaskan. Dalam aspek kuantitas, perbedaan tidak cenderung menolak perluasan dan kualitas yang di bawahnya, tetapi membalikkan gambar yang melintasi pikiran yang terperangkan dalam kuantitas. Sebagaimana oposisi atau peniadaan menghilang dalam perbedaan melalui permukaan, wajah, muatan, warna, durasi, jarak, dan bentuk dari waktu ke waktu akan menyamarkan perbedaan dari identitasnya. Demi kedalaman yang kosong, permukaan pun dikorbankan yang tidak sepenuhnya menunjukkan perhatian pada perbedaan hirarki melebihi kulit, telinga, mata, bibir, dan hidung kita di ujung kanvas sebelum akhir pergerakannya. Alur pergerakannya tidak secepat dari perkiraan sebelumnya karena tertimbun dengan obyek perbedaan yang tidak semestinya terjadi antara permukaan alamiah dan virtual.

Selambat-lambatnya mereka para pemuja permukaan, lebih berbahaya jika seorang atau kelompok orang mengobarkan asal-usul perbedaan dan setelah itu mereka akan bersembunyi di balik gambar atau di balik permukaan sesungguhnya masih sebuah teka-teki bagi pikiran kita.

Permukaan tubuh atau permukaan dunia melacak kembali dirinya dalam ruang tidak terbatas tanpa perbedaan empiris dan tanpa identitas apapun yang dibesar-besarkan. Karena itu, perbedaan tidak perlu dipikirkan untuk menambah kekuatan lebih besar bagi saat-saat terakhir keruntuhan yang dimulai dari dalam. Perbedaan selama ini terjadi tidak hanya menjadi pemikiran dirinya sendiri, tetapi perlu juga dinetralisir dengan permukaan yang lebih memikat dan nyata. Bukankah banyak orang yang terpikat melalui sisi luar dari permukaan tubuh, permukaan bumi atau permukaan dunia di tengah perbedaan yang terjadi selama ini?

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments