Home Mimbar Ide Diskursus Kegilaan atas Terorismoe

Diskursus Kegilaan atas Terorismoe

0
Ermansyah R. Hindi

(Refleksi Peringatan Serangan 11 September 2001)

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Tidak bermaksud mengungkit-ungkit tragedi kemanusiaan yang dibunuh melalui serangan teroris terhadap Twin Towers-World Trade Center (WTC), Kota New York, 11 September 2001. Saya dan mungkin Anda adalah salah satu yang tidak berdiri di dekat ‘Menara Kembar’-WTC di saat peristiwa itu terjadi yang diliput oleh televisi. Pada saat itu, saya dan mereka tidak menjadi tema perbincangan mengenai orang tua yang terpisah dari anak-anaknya. Mereka yang terdampar di sekolah-sekolah mereka di pinggir kota, dan dari suaminya dan orang-orang yang melarikan diri dari serangan di Menara Kembar. Mereka tidak pernah melupakan berdasar sudut pandangnya, bahwa ‘hal-hal yang tidak terpikirkan’ terjadi pada suatu pagi di akhir musim panas yang agung, yang entah bagaimana berubah menjadi sesuatu yang dekat bahkan tidak dapat membayangkan datangnya hari kiamat. Boleh jadi, kita yang hanya menonton televisi dan mengenang di hari ini, dimana keadaan kota mengalami keterputusan komunikasi: telepon dan internet, ditambah tidak ada transportasi umum, bandara ditutup, hingga stasiun kereta api dan jembatan tidak berjalan sebagaimana biasanya. Tidak dapat juga dipungkiri, orang-orang di bagian dunia lainnya, mereka tidak menyaksikan tragedi yang terjadi di televisi, karena mereka sendiri tidak melihat langsung dengan mata telanjang. Kita tidak mengetahui, karena di luar cakrawala pengetahuan tentangnya, bahwa mereka nyata-nyata berada di sekitar lima puluh blok dari rumahnya; banyak orang yang melompat dari sembilan puluh lantai menuju ke kematiannya. Mereka yang berada di sana masih mengingatnya, di saat beberapa orang memegang tangan dan sendirian berusaha menyelamatkan dirinya. Peristiwa tragis itu sesungguhnya melampaui analisis di awal era Milenium Ketiga. Apa efek paling besar dari keruntuhan WTC, tidak lain adalah keruntuhan atas kemanusiaan berarti keruntuhan kebenaran bertubi-tubi menjadi keruntuhan diskursus ilmiah melebihi peristiwa yang lebih terbuka. Sehingga, akhir dari Hari Peringatan Serangan teroris 11 September 2001 berbeda dengan akhir dari kehidupan atau akhir dari Hari Pembalasan.

Dalam diskursus filosofis, peristiwa 11 September memberi kesan pada kita sebagai wujud dari “peristiwa besar”. Tetapi, kita dan sebagian besar di sini yang tidak berada di saat peristiwa tragis terjadi di sana, kita tidak memperbincangkan secara gegabah tentang salah satu peristiwa sejarah paling penting yang akan kita saksikan dalam hidup kita. Apalagi bagi mereka yang tidak pernah hidup melalui perang dunia. Jadi, bukan berarti permasalahan setuju atau tidak.

Sebagaimana telah diungkaplan di masa silam, kesepakatan bahasa mengenai 11 September tidak digiring lagi pada pertanyaan yang sama. Disaat kita tidak mempermasalahkan kesepakatan bahasa “11 September”, berarti mereka tidak mengundang lagi untuk memperbincangkan seputar peringatan akan bahaya dari serangan teroris telah merampas ruang bebas, bahkan ia menghantui dan merengggut kehidupan pribadi kita. Dari peristiwa tragis yang menghantui, meletakkan Hari Peringatan sebagai jejak-jejak baru yang datang dari ingatan kolektif yang merangsang kita.

Begitu dahsyatnya peristiwa besar itu, mereka tidak mengingat lagi batas-batas pertentangan bahasa dan logika pengulangan. Lebih dari satu atau dua ungkapan, kita sulit menghindari suatu tanggal dalam sejarah. Karena itu, 11 September menandai tanggal, menandai peristiwa paling penting agak sulit dilupakan. Tatkala peristiwa paling penting begitu dahsyat dan bergema lebih dari satu generasi, melintasi satu zaman dan peristiwa pengetahuan, disitulah menandai guratan peristiwa paling membekas dan berdampak paling menghentak dari apa yang paling dirasakan secara nyata menjadi peristiwa sesungguhnya merebut tandanya kembali yang nyaris hilang dari peristiwa besar lainnya. Saya tidak mengatakan harus merasakan, memikirkan dan melihat secara langsung di hadapan peristiwa besar. Saya juga tidak mengatakan “berdampak langsung” atau “merenggut langsung perasaan” kita dari tempat yang berbeda nan jauh, yang terlepas dari proses pengingatan kembali melalui citra virtual. Paling penting dari peristiwa besar adalah betul-betul peristiwa paling nyata. Ingatan kita, perasaan sangat membekas dan paling menghentakkan kita tidak lagi dibangun dan disebarkan melalui mesin politik dan metamorfosis ‘mesin lainnya’.

Apapun diskursus yang kita bangun diantara puing-puing sejarah ilmu pengetahuan modern, ia tidak menandai sejarah lagi, memberi jejak-jejak bagi masa depan kita. Saya tidak mengandai-andai tanggal sejarah, saya tidak membayangkan monster pikiran saya sendiri, tetapi saya berlari dari satu bayangan ke bayangan lainnya hingga saya menemukan diri saya ditengah kata-kata atau proposisi-Cartesian yang tidak dikalkulasi sebelumnya: “Saya tidak merasakan serangan teroris 11 September 2001”, “Saya ada karena berhasrat untuk melupakan terorisme”, “Anda ada karena Anda mendanai teroris”. Dunia ini benar-benar tidak aneh, malahan suatu keajaiban; teks yang memanggil kita dalam kenikmatan dibalik serangan teroris. Tidak menandai sejarah berarti kita tidak mengenali, menganalisis, mengidentifikasi, dan menentukan jalan hidup kita. Peristiwa bukan pertama dan terakhir kali terjadi dalam kalender terorisme. Ia lebih sehat dari kesehatan otak kita akibat sel-sel atau jaringan sirkuit otak kita telah disibernetisasi ‘lebih nyata’ dari wujud alamiahnya. Jaringan teror ada didalamnya, dalam “Saya membunuh, maka saya bahagia”, “Saya mencium aroma musuh, maka saya ada”. Dalam fantasi para teroris dan terorisme, tidak ada lagi istilah “menjadi binatang”. Kekuatan aksioma bagi teroris dalam memenuhi terorisme tidak lebih dari aliran cahaya terang yang keluar dari aura kekerasan konsep, kekerasan nalar atau kekerasan hasrat. Di mata teroris dalam menunaikan terorisme tidak mengenal wujud universalisme ganda, yaitu kalender universal dan nilai universal. Kedua-duanya tentulah lenyap lebih dahulu sebelum yang lainnya sebagai kenikmatan atas kenikmatan berbeda. Ia menjadi ‘kenikmatan kreatif’. Apa bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kaum teroris, bahwa dalam perhitungan jumlah korban serangan bom atau bentuk lainnya, mereka tidak mengkalkulasi jumlah korban dari sudut pandang kuantitatif apalagi secara kualitatif. Baik kalender universal maupun nilai universal bagi tindakan terorisme internasional dan terorisme negara (apabila kedua bentuk terorisme disetujui) hanyalah bentuk kekerasan konsep yang harus ditinggalkan. Kembali pada peristiwa besar, tidak ada cara lain, kecuali langkah ‘bunuh diri filsafat’, bahwa bukan hanya kita memiliki konsep dan doktrin sebagai prasyarat pergerakan terorisme menjadi pergerakan yang terorganisir, terhitung, terskenario, dan terpencar mengikuti kenikmatan menerobos tubuh para teroris itu sendiri.

Mereka tidak memiliki perasaan belas kasih, yang ada hanyalah ritual kenikmatan, dimana kita tidak melihatnya sebagai permulaan dari akibat-akibat pengetahuan yang dangkal. Insting dan intuisi tanpa konsep nampaknya sulit dibedakan, sekalipun ia dianggap nyata dibanding dari ilusi dan halusinasi dalam makna dan ruang yang telah hancur melebihi perasaan kita. Sesuatu memang telah terjadi tanpa perasaan waswas mendahului mantra ritual pembunuhan yang tidak terbayangkan. Pergerakan teroris 11 September, sebelum dan mungkin sesudahnya merupakan politik “tarian kematian”, “industri hiburan”, “puisi cinta”, dan “nyanyian rindu” dari sesuatu hal yang sulit diperbincangkan, ditengah tema-tema baru menjadi rangkaian permainan retorika dan logika ekonomi hasrat sebagai kisah nyata kegilaan yang tidak berbahaya dan terkutuk lagi.

Kisah nyata dari peristiwa besar tidak memiliki efek dan tidak terbantahkan; mereka laksana dan tidak ada tiruan; mereka benar-benar nyata antara ‘manusia mesin’ dan ‘setengah manusia’ berpikir instan seperti kematian yang instan. Dari hal-hal remeh temeh meletakkan efek serangan teroris yang tidak terbantahkan sebagai sesuatu tanda-tanda paling dekat dengan kita yang tidak diperhitungkan. Sesungguhnya tepat, sekiranya kita masih menyaksikan dunia ini dala perayaan baru dan pengulangan tarian kematian yang berdaya pikat besar melalui serangan teroris dengan wajah yang berbeda, dalam nalar dan hasrat yang lebih menantang lagi. Pengulangan peristiwa 11 September merupakan hari-hari dimana telah lama ditunggu oleh sekian banyak calon korban serangan teroris sesudahnya. Apakah itu meningkat jumlahnya dua atau tiga kali lipat korban serangan teroris atau tidak? Bagaimana pengulangan peristiwa serangan 11 September sesegera mungkin menyulap ilusi dan mimpi menjadi ‘lebih nyata lagi’ sebagai jalan hidup kita? Benda-benda dan kata-kata, ujaran dan tulisan dalam pengulangan dimainkan kegilaan para teroris yang tidak pernah menginap di rumah sakit orang gila, mereka tidak pernah berada diluar pengulangan peristiwa, antara kelahiran dan kematian “pikiran” yang tidak mengurusi teror, karena ia adalah perangkap munculnya terorisme lainnya. Pengulangan peristiwa teror sekalipun ditandai dengan peristiwa besar membentuk pengulangan baru yang produktif tanpa kenetralan, tanpa permulaan dan kelahiran yang terakhir. Ia akan mengintimi pergerakan traumatisme meluap-luap sebelum melewati citra virtual yang mengakhiri perbincangan melulu yang tidak berujung pangkal. Kita patut mengetahui sejauh mana terorisme berkembang biak dalam ilusi kebenaran yang benar-benar mereka tidak menyesal sedikitpun pelaku teror. Pada akhirnya kita bungkam seribu bahasa. Kita dibungkan fenomena bahasa kenikmatan atau hasrat untuk mengetahui betapa pentingnya terorisme dijalankan dalam kesenyapan yang tidak tertandingi. Kita dan mereka tidak menyesal karena buat apalagi kita menghitung kembali jumlah kekerasan demi kekerasan sebagai hasrat yang menubuhi sentuhan kematian yang indah dibalik terorisme. Sekali lagi, mungkin kita tidak benar-benar yakin seperti yang pihak lain lakukan mengenai jumlah orang yang tewas, bukan korban jiwa sebagai akibat serangan teroris 11 September atau momentum lainnya, tetapi akibat dari kekerasan konsep, kekerasan nalar atau hasrat untul membunuh tanpa mengenal cermin dan jumlah korban dan jumlah kecanduan dan fantasi yang sesungguhnya juga berlipat ganda dalam ketidaksadaran. Tidak kelirulah, bahwa jumlah orang yang tewas sebanding dengan jumlah hasil perhitungan mesin ketidaksadaran yang merasuki kaum teroris dalam setiap serangannya.

Kita perlu lebih banyak waktu untuk bercengkrama dengan irama kematian yang indah tanpa kehadiran para teroris. Bukankah kita calon atau pelaku teror setidak-tidaknya dalam pemikiran atau konsep yang lain yang sebelumnya tidak dainggap berbahaya dan terkutuk? Kita tidak akan menyertakan tubuh kita secara langsung sekalipun tubuh sangat membantu kelancar hasrat dan pikiran untuk menciptakan kekerasan dalam kesenyapan kita sendiri. Benarkah ada terorisme internasional dan terorisme negara? Adakah seseorang yang mampu maju ke depan tanpa rasa takut sedikitpun untuk menjawab bahwa dirinya adalah seorang teroris sejati, bukan orang lain yang ditangkap atas tuduhan teroris? Kekerasan konsep melawan dirinya sendiri, melawan suatu bayangan baru dalam kekerasan konsep yang sama.

Marilah kita tidak serta merta menerima konsep atau hipotesis sejenis itu, lebih baik kita ada untuk pengulangan peristiwa teror dibandingkan berkedok atau bersembunyi dibalik kebenaran yang lancung. Namun demikian, konsep tidak dipertaruhkan dalam kekerasan, bukan pula dalam pengalaman hidup sehari-hari yang dangkal. Cukuplah tidak lebih sekali pengulangan peristiwa 11 September. Berkat pengulangan, kelahiran tidak dinantikan oleh permulaan, tetapi titik nadir dari sesuatu yang tidak terduga persis serangan teror yang tidak terduga. Cobalah kita ingat atau kita sendiri tidak mampu membayangkan kembali, tatkala serangan bom bunuh diri teroris sesuai dengan bom waktu atau bom seks yang berdaya ledak tidak teremehkan menjadi peristiwa besar. Apa alasan kita sehingga kita mengatakan ‘peristiwa besar’ 11 September? Hal ini masih sulit terungkap karena satu alasan trauma besar-besaran, terutama yang mengalaminya lebih memiliki efek besar dari peristiwa besar. Ia menanam, menumbuhkan dan menyebar seperti citra artifisial yang membujuk rayu hingga traumatisme tidak dapat diukur, kecuali jumlah korban. Kata lain, bahwa kata “besar” sepintas memiliki ‘ukuran’ atau ‘berat’ yang tidak dapat dipikul dengan rasa beban berat tragedi yang tidak terbayangkan secara kuantitatif. Begitu meneror peristiwa itu sehingga saya sendiri tidak mengerti mengapa melibatkan politik, sejarah, media, dan termasuk psikologi, polisi dan militer hanya untuk melihat reaksi, tanggap dan rangsang atau tidak. Dalam peristiwa besar, perbedaan kuantitas dan kualitas korban serangan teroris sudah jelas tidak dapat dibandingkan dengan trauma berkepanjangan, sekalipun jumlah korban jauh lebih banyak.

Kita tidak habis berpikir, mengapa melibatkan filsafat sekan-akan ia digiring atau menggring kita dalam suatu diskursus tertentu tanpa taklid buta terhadap perbedaan gagasan mengenai batas, kategori, perbedaan, dan pertentangan dalam etika dan diskursus politik. Kita hidup lebih jelas dalam pengulangan yang berbeda dengan Socrates, Spinoza, Hegel, dan Nietszche hingga teori kritis dari mazhab Frankfurt. Melanjutkan dari perbincangan tadi, bahwa bukan jumlah korban yang dibandingkan, melainkan pengulangan peristiwa terorisme yang tidak dapat dibandingkan secara kuantitatif dengan traumatisme atau jumlah korban yang jauh lebih lebih besar sebelum dan sesudah peristiwa besar. Tanah, gedung, satelit, media, dan sebagainya menjadi aparatur dari kecerdasan. Sampai disini, dalam diskursus akan keluar dari pandangan yang mengatakan suatu pertentangan antara kejahatan dan terorisme tidak dapat dielakkan. Saya berbicara bukan atas nama siapa, tetapi saya berbicara mengenai terorisme sejati muncul bukan karena kejahatan atau kesalahan, melainkan dari kecerdasan, kegairahan dari terorisme muncul dari kekayaan, bukan dari kemiskinan dunia. Penggiringan opini melawan pelibatan filsafat yang tidak dapat dibangun dengan leksikon kekerasan, terorisme, perang atau kejahatan. Jenis opini apapun, ia akan lenyap dalam penggringan yang berlapis-lapis yang diidentifikasi secara keliru dan dangkal. Kita akan mengetahui permasalahan yang berbeda dalam perbedaan tidak bertahan lama antara teror dan terorisme, ketidakadilan dan terorisme. Ketidakadilan tidak memiliki keterkaitan dengan bentuk terorisme internasional dan negara, kecuali dua, yaitu ketidakadilan dan kecerdasan. Teror tidak identik dengan kecerdasan atas kejahatan. Terorisme dibangun di atas ritual pemikiran atau mitos nalar yang tidak memiliki lagi pesona dunia.

Tugas kita mencakup aparatur hermeneutika yang memainkan perbedaan atas penafsiran dunia simbol, jeratan simbolik atas tatanan dunia, fesyen bunuh diri-semu, dan penghancuran diri sendiri. Peristiwa besar bukan berarti kata-kata bertentangan dengan benda-benda. Misalnya: “x tidak akan meneror y”, “x membunuh x itu sendiri”. “y1 tidak trauma oleh serangan teroris x1, “y1 yang trauma oleh terornya sendiri”. Terorisme tidak identik juga dengan ‘keterasingan’. Mereka muncul karena ekses dan pengecualian dari ‘kelimpahan pengulangan’, bukan dari perbedaan. Begitulah paradoks terorisme dalam peristiwa besar. Bukanlah teroris yang membawa bom, akan tetapi orang-orang yang berada dalam kesadaran. Ketidaktampakan musuh datang darinya, bukan dari mesin ketidaksadaran yang memainkan kecerdasan para teroris. Dari sinilah, kita berbicara mengenai peristiwa yang meyakinkan kita kembali demi tanggapan dan diskursus filosofis atas apa-apa yang saya tidak ketahui mengapa peristiwa besar dikatakan dengan kata-kata atau benda-benda untuk membangkitkan kita dari “tidur dogmatisnya”-Kant dan membebaskan diri kita dari “tidur antropologisnya”-Foucault yang sesungguhnya tidak memiliki keterkaitan dengan leksikon kekerasan atau retorika kenikmatan akan terorisme. Suatu saat, tidak ada lagi “perang melawan terorisme”, seluruh kata-kata itu akan menghilang dalam ‘ejakulator diskursus’ melalui diskursus kegilaan yang benar-benar tidak gila secara psikis, tetapi dalam pemikiran tentang teka-teki dan seluruh hal-hal yang saya tidak ketahui.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments