Home Mimbar Ide Hindari “Mencari-Cari Atap yang Bocor”

Hindari “Mencari-Cari Atap yang Bocor”

0

Oleh :  Fory Armin Naway
Dosen FIP Universitas Negeri Gorontalo

Judul di atas terinspirasi dari Buku “Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Masalah Besar” karya Richard Carlson, yang diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama (Mei 2019). Nampaknya judul ini cukup menarik dan relevan untuk ditelaah sebagai bahan renungan bagi siapapun kita dalam menggapai kehidupan yang lebih bermakna. Istilah “mencari-cari atap yang bocor” menurut Richard Carlson adalah terkait dengan gangguan kehidupan yang tenang. Istilah ini merupakan metafora untuk menjelaskan salah satu kecenderungan kita yang paling neurotik dan enggan bersyukur.

Seperti halnya kita ingin menjaga rumah kita dari musim hujan dengan mencari-cari retakan, genteng bocor dan segala sesuatu yang rusak, kita juga dapat mencari-cari apa yang rusak dalam hubungan kita, bahkan hidup kita. Intinya, mencari-cari atap yang bocor berarti kita sedang berada pada keadaan mengamati dengan cermat apa yang butuh diperbaiki. Dengan kata lain, mencari-cari keretakan dan kekurangan hidup, juga berusaha membetulkannya, atau paling tidak menunjukkannya pada orang lain.

Kecenderungan ini tidak hanya akan membuat kita merasa tidak nyaman, juga akan mendorong kita untuk berpikir apa yang salah dengan hidup ini dan orang lain yang tidak kita sukai. Jadi bukannya menghargai hubungan dan hidup kita, sikap mencari-cari atap yang bocor, ujung-ujungnya akan memunculkan pemikiran bahwa hidup ini tak lain adalah sesuatu yang kacau. Tak ada apapun yang pas di tempatnya.

Dalam hubungan kita, mencari-cari atap yang bocor, memilki ciri khas memainkan perannya semisal, kita bertemu seseorang dan semua baik-baik saja. Namun tidak berapa lama kemudian, kita mulai mengamati kebiasaan khas teman kita, sahabat kita tersebut, mencari-cari dan memikirkan apa yang tidak kita sukai dari orang itu, atau sesuatu yang tidak baik yang membuat kita harus mengoreksinya dan selalu saja memprotesnya hanya agar kita menjadi nyaman dalam hubungan.

Lebih jelasnya lagi, mencari-cari kelemahan orang lain dalam tataran ideal sebenarnya tidak berguna. Semakin jarang, atau ketika kita tidak mau mencari-cari kesalahan orang lain, atau mencari-cari celah kelemahan teman kita sendiri, maka kita sebenarnya sudah menemukan betapa sangat indahnya hidup ini.

Menghindari mencari-cari atap yang bocor, berarti kita tengah meniti jalan untuk hidup tenang, tidak perlu repot-repot memperbaiki hidup orang lain, jangan pusing dengan urusan orang lain, pusinglah dengan urusan sendiri agar kita jangan sampai terjebak pada ungkapan yang mengatakan, “Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”. Kita hanya berusaha memperhatikan, mengurus kesalahan dan kelemahan orang lain serta ingin memperbaiki kesalahan dan kelemahan orang lain itu, sementara kelemahan kita, kekurangan kita, kesalahan kita menjadi buyar dari pengamatan kita sendiri. “Carilah atap yang bocor di rumah sendiri, jangan mencari atap yang bocor di rumah orang lain”.

Dalam ranah yang lebih mendalam lagi “Mencari-cari atap yang bocor” dapat diterjemahkan sebagai tindakan mencari celah kesalahan dan kelemahan orang lain hanya untuk memuaskan diri dari keinginan untuk membicarakan kesalahan maupun kelemahan orang lain. Memang dari aspek tertentu, membicarakan kelemahan orang lain adalah sesuatu yang terkadang “menyenangkan” apalagi jika ada dendam, kebencian dan ketidak senangan kepada orang lain yang telah “bersemayam”, biasanya akan ada kepuasan tersendiri, jika kesalahan dan kelemahan orang yang dibenci itu diketahui oleh orang lain pula.

“Mencari-cari atap yang bocor” kecenderungan dilakukan oleh orang yang “tidak nyaman” dengan kondisi kehidupannya, entah karena ketidakbahagiaan dalam hidupnya atau ketidakbahagiaan melihat kesuksesan dan kemajuan yang diraih oleh orang lain. Kecenderungan “Mencari-cari atap yang bocor dilakukan oleh orang yang mengalami gejala penyakit hati yang memiliki “kadar iman” yang rendah yang lupa terhadap hakekat hidup yang sesungguhnya.

Orang yang mencari atap bocor hidupnya senantiasa salah kaprah, yakni mengkritisi siapapun dan apapun yang tidak sesuai dengan keinginannya secara tidak konstruktif, selalu berusaha menggambarkan kepada khalayak, bahwa ia jualah yang terbaik. Sementara orang lain, sehebat apapun prestasinya tetap dipersepsikan sebagai orang yang biasa-biasa saja.

Tidak heran jika tindak-tanduknya memiliki kecenderungan melabrak etika, senantiasa menebar fitnah dan segala bentuk ungkapan yang ia lontarkan bernada provokatif. Targetnya adalah ambisi dan naluri yang hendak membangkitkan dan memulihkan eksistensi dirinya yang terkadang berlebihan.

Namun bila belajar dari realitas dan pengalaman dalam hidup dan kehidupan ini, maka satu hal yang dapat diambil hikmahnya, bahwa orang yang selalu mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain yang seakan menunjukkan bahwa dia saja yang benar dan orang lain yang salah, biasanya akan redup dan tumbang dengan sendirinya seiring bergulirnya waktu.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi dalam ranah lokal Gorontalo, dimana terdapat 3 daerah yang akan melakukan Pemilihan Kepala Daerah pada tahun 2020 mendatang, maka gejala munculnya fenomena orang yang “mencari-cari atap yang bocor” mau tidak mau, suka tidak suka akan turut mewarnai perhelatan politik. Disinilah kecerdasan masyarakat sangat dibutuhkan, yakni bagaimana kepekaan dan kejelian kita dalam melihat dan mencerna fenomena yang menggejala di tengah masyarakat sehingga tidak mudah terseret dan terjebak pada pola dan manuver maupun gerakan yang cenderung mengabaaikan nilai-nilai etika dan moral.

 

*) Penulis Salah Satu Bunda Baca Kabupaten Gorontalo

Facebook Comments