Home Lensa Gandeng Balai Riset Perikanan Air Payau,WWF Gelar Kemah Konservasi di Maros

Gandeng Balai Riset Perikanan Air Payau,WWF Gelar Kemah Konservasi di Maros

0

MataKita.co, Maros – Program Akuakultur WWF-Indonesia bekerjasama dengan Balai Riset Perikanan Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros menyelenggarakan Kemah Konservasi dengan tema, “Saya Menanam Mangrove, Saya Memilih Bumi”. kegiatan ini berlangsung pada Sabtu-Minggu, 21-22 September 2019.

Kegiatan ini melibatkan sekitar 70 peserta, dari berbagai komunitas pecinta lingkungan yang ada di Makassar, Maros, dan Pare-Pare. Selain itu, melibatkan adik-adik dari  SUPM Bone yang kebetulan lagi ada kegiatan di Instalasi Penelitian Budidaya Air Payau Maranak, Maros, yang merupakan lokasi kegiatan acara. Komunitas yang tergabung : Aquaculture Celebes Community (ACC), Kompas, Garda Mangrove, Maribunta, Rescue Celebes, Takpala Umi, Asas Makassar, Komunitas Mangrove Lantebung, dan Lapak Buku Maros.

Idham Malik, Aquaculture Staff WWF-Indonesia kepada Matakita.co mengatakan bahwa Kemah Konservasi ini mengambil tema “Saya Menanam Mangrove, Saya Memilih Bumi”, sebab, kegiatan ini mengharapkan peserta kegiatan dapat memposisikan dirinya sebagai bagian dari penyelamat bumi. Peserta dapat memaknai kegiatan yang ditawarkan, dalam bentuk pembibitan mangrove dan penanaman mangrove merupakan langkah kecil tapi berdampak besar. Sebab, ketika sudah memposisikan diri, akan terus menerus melakukan aktivitas berfikir yang condong mengarah ke perbaikan lingkungan, dan terus menerus melakukan aksi yang berhubungan dengan perbaikan lingkungan.

“Kemah Konservasi ini juga mendorong adanya komunikasi antara lembaga pecinta lingkungan, untuk lebih mengakrabkan diri, serta adanya kerjasama ke depan antar lembaga untuk perbaikan lingkungan. Pelaksanaan kegiatan masing-masing organisasi yang melibatkan banyak pihak, tentu berdampak positif, seperti kerja lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak melibatkan banyak orang, serta pengaruh positif yang bersifat multiple effect ke masyarakat luas. Efek langsung dapat terjadi dalam kegiatan Ini yaitu hadirnya  semangat kolektif komunitas pecinta lingkungan, yang dapat berefek pada munculnya ide-ide baru dalam pemecahan masalah lingkungan, serta munculnya beragam jenis tindakan perbaikan lingkungan yang diinisiasi oleh para pecinta lingkungan, yang terinspirasi dari kegiatan Kemah Konservasi” Jelas Alumni Unhas ini.

Idham menambahkan, Misalnya pasca Kemah Konservasi, muncul banyak pemikiran dari para peserta untuk menyelenggarakan kegiatan penanaman mangrove serta pendidikan terkait rehabilitasi ekosistem mangrove. Salah satunya dari Rescue Celebes, yang mengusulkan adanya kerjasama dengan WWF-Indonesia untuk penyelenggaraan kegiatan penanaman mangrove pada hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2019. Juga ada usulan dari Komunitas Lapak Baca Maros, yang menginginkan kegiatan survei ekosistem mangrove di Maros. Begitu juga dengan SUPM Bone, yang berharap ada kerjasama penanaman mangrove di Kabupaten Bone. Sementara damapknya bagi BPBAP3 Maros pun semakin bersemangat untuk menjadikan Instalasi Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maranak sebagai lokasi pendidikan anak-anak muda serta sebagai pusat pembibitan mangrove, yang dapat dimanfaatkan oleh para pemuda komunitas pecinta alam di Sulawesi Selatan.

“Secara umum, kegiatan Kemah Konservasi ini berupaya untuk mengenalkan prosedur pembibitan mangrove bagi para peserta, serta prosedur penanaman mangrove untuk daerah pesisir mangrove. Para peserta mengetahui teknik untuk memilih bibit mangrove (propagul) yang sudah siap untuk dibibitkan, yaitu bibit yang sudah jatuh dari pohon, atau siap jatuh dari pohon, ditandai dengan warna kekuningan di bawah tudung propagul. Sembari memilah bibit dan dikumpulkan sebanyak 10.000 propagul, sebagian peserta mengisi sedimen yang merupakan limbah hasil tambak tradisional dan tambak supra intensif. Limbah hasil tambak mengandung bahan organik tinggi, dalam hal ini ammoniak, fosfat, serta kandungan lainnya, yang dibutuhkan oleh tumbuhan, khususnya bagi bibit mangrove. Bibit mangrove juga dapat menyerap limbah organik tambak, sehingga kandungan limbah organik tersebut dapat berkurang. Selanjutnya limbah sedimen yang dimasukkan ke dalam gelas plastik bekas tersebut ditempatkan dalam kolam tambak tradisional, yang sengaja dijadikan lahan pembibitan mangrove. Penggunaan gelas plastik bermanfaat agar gelas plastik dapat tergunakan kembali (reuse) serta gelas plastik dapat menahan sedimen agar tidak terburai keluar. Propagul mangrove kemudian dari ditancapkan ke dalam wadah bibit, lalu diikatkan pada ajir, agar propagul tersebut tidak jatuh karena terdorong oleh air pasang” Jelas Idham.

Idham  menambahkan, kegiatan penanaman 3000 mangrove (500 bibit dan 2500 propagul) yang dilaksanakan di Dusun Binasangkara, Desa Ampekale, Kec. Bontoa, Kab. Maros, peserta diharapkan mengerti landasan berfikir dari metode penanaman mangrove yang berjarak pendek, yaitu hanya 20 centimeter pertitik tanam. Penanaman dengan jarak pendek, diharapkan bibit tetap kuat dan tidak tersapu ombak. penanaman model seperti itu, mampu memecah pasang ataupun ombak. Selain itu, peserta dapat memahami kenapa penanaman mangrove yang dipantai tidak menggunakan ajir (patok bibit). Sebab, ajir sudah tidak dibutuhkan jika penanaman berjarak pendek. Ajir dapat berdampak negatif, sebab pada ajir selalu ditumbuhi teritip maupun tiram, teritip pun pada akhirnya akan mengganggu bibit mangrove dan dapat menyebabkan kematian pada bibit mangrove.

Facebook Comments