Home Literasi Opini: Tangan-tangan Tersembunyi dalam Organisasi Pergerakan

Opini: Tangan-tangan Tersembunyi dalam Organisasi Pergerakan

0

Opini: Tangan-tangan Tersembunyi dalam Organisasi Pergerakan

Oleh: Mukhtar Kamal (Kordinator Departemen Kajian Strategis KAMMI Daerah Makassar)

MataKita.co, Opini – Ketika kita membahas mengenai organisasi pergerakan, maka kita juga akan membicarakan mengenai independensi dan perjuangan melawan kebatilan. Boleh dikata istilah – istilah ini selalu menjadi paket komplit dalam tiap bahasannya. Organisasi pergerakan lahir dalam lingkup civil society sehingga perjuangannya selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat. Tak heran keberadaannya memberikan secercah harapan bagi kaum proletar yang selama ini selalu menjadi korban dalam arus modernisasi. Di masyarakat bawah, kita mendapatkan ketulusan mengenai rasa persaudaraan dan gotong royong tanpa iming – iming transaksional berupa materi dan kekuasaan. Apalagi mengenai rasa keadilan yang mungkin masih di anggap langka dalam kehidupan kesehariannya. Atas kondisi yang terjadi, maka dalam masyarakat sipil muncul perlawanan yang diawali dengan rasa keprihatinan atas cara pemimpin mengelola negara. Sehingga masyarakat mulai membentuk sebuah kelompok perjuangan, salah satunya adalah organisasi pergerakan.

Dalam negara, rakyat sebagai elemen kuat dalam menghadirkan gelombang perubahan. Penguasa kerap kali keteteran dalam membendung gelombang itu. Hadirnya fenomena ini akibat rasa sepenanggungan yang sama di antara mereka. Organisasi pergerakan hadir dalam rangka menyuarakan kepentingan rakyat. Bahkan kalau kondisi di dalam negara sudah amat memprihatinkan, kerap kali ia mengkonsolidasi kekuatan rakyat untuk melawan penguasa. Di Indonesia, peran organisasi pergerakan amat sangat dirasakan pada masa orde lama dan orde baru. Yang saya maksud adalah pada periode akhir orde tersebut, selalu ada pergolakan dan perlawanan. Tentunya situasi itu juga ada campur tangan elit didalamnya namun tanpa ada kontribusi dari organisasi pergerakan, perjuangan itu tidak berdaya.

Pada akhir periode orde baru tentunya sangat membekas bagi masyarakat Indonesia. Karena pada saat itu rakyat melawan tirani yang sudah sejak lama dirasakan. Kondisi negara sudah tidak stabil akibat pemimpin mengelola negara dengan cara ugal – ugalan. Di tambah lagi pemimpin yang otoriter membuat rakyat gerah akan situasi tersebut. Rasanya hari – hari tidak lagi bersahabat dengan rakyat. Disitulah muncul perlawanan dari rakyat yang di konsolidasi oleh organisasi pergerakan yang banyak dihuni oleh mahasiswa. Karena mahasiswa adalah agen perubahan yang memiliki intelektualitas dan energi besar untuk melakukan perbaikan. Pada era itu memunculkan berbagai macam organisasi pergerakan sebagai wadah perjuangan untuk menghimpun kekuatan besar dalam memperjuangkan kebenaran. Perlawanannya tidak sia – sia, akhirnya memaksa Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai presiden. Setelah itu hadirlah era baru yaitu reformasi sebagai antitesis dari orde baru.
Pada tulisan ini saya akan membahas mengenai fenomena yang terjadi pada organisasi pergerakan, yaitu adanya tangan – tangan tersembunyi didalamnya. Acap kali tangan – tangan ini bisa bermain dan memanfaatkan organisasi untuk kepentingan pihak tertentu. Bahkan bisa menjadi bumerang bagi organisasi itu sendiri sehingga bisa menghambat pergerakannya. Seperti yang saya katakan diawal bahwa pembahasan organisasi pergerakan selalu beriringan dengan membahas independensi. Karena independensi adalah modal bagi organisasi pergerakan dalam menjalankan misi luhurnya. Organisasi yang tidak independen kadang bisa dimanfaatkan pada kepentingan lain dan kadang pula bisa mencederai perjuangan organisasi itu sendiri. Mengapa saya katakan demikian? Karena ada tanggung jawab moral pada aktivitas kegiatannya. Makna independen disini yang saya maksud adalah bertindak atas dasar kesadaran dan pemahaman, bukan tekanan dari pihak manapun. Karena kalau independen dimaknai untuk melahirkan sentimen pada pihak lain, saya tidak sepakat. Karena apabila kepentingan kita dengan pihak lain itu sama dan bisa berdampak baik pada kehidupan masyarakat, tentunya kita bisa berkolaborasi.

Adanya demokrasi membuka peluang besar tiap elemen untuk bersinergi dalam memperjuangkan sesuatu yang baik. Hal ini didukung karena adanya kebebasan berserikat dan berpendapat di depan umum. Tidak ada lagi tirani yang harus diterobos untuk bisa melaju kedepan. Sehingga ada koherensi antara demokrasi dan organisasi pergerakan. Sekarang yang menjadi masalah adalah, demokrasi di Indonesia melahirkan multi partai. Walaupun saya sendiri sepakat dengan sistem multi partai karena itu juga sebagai wadah perjuangan, sehingga didalamnya ada pertarungan ide yang nantinya melahirkan gagasan besar untuk membangun negara. Tetapi pada faktanya ada juga partai yang didirikan pada awalnya bukan berawal dari ide besar. Kembali pada pembahasan mengenai organisasi pergerakan. Disinilah kadang ada penyelewengan mengenai kerja – kerja dari organisasi itu. Biasanya ada organisasi pergerakan berkedok menyuarakan kepentingan rakyat, padahal sebenarnya ada kepentingan lain didalamnya. Entah itu kepentingan politik, ideologi, dan sebagainya. Kita tidak menutup mata mengenai kehadiran partai politik itu biasanya membawa misi ideologi. Yang menjadi masalah ideologi itu bertentangan dengan cara kita beragama. Organisasi pergerakan itu hadir tentunya harus berdasarkan keprihatinan yang mendalam atas kondisi sosial yang buruk. Bagaimana bisa kita menyuarakan kebenaran, tetapi awal didirikannya sebuah organisasi pergerakan tidak berdasarkan pada kejujuran dan ketulusan. Pada sisi lain juga ada anggapan bahwa organisasi pergerakan digunakan sebagai sayap sebuah partai politik. Tentunya pada kenyataannya terjadi. Disini saya berpendapat bahwa hal seperti itu boleh saja. Karena seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, kalau kita bisa berkolaborasi untuk mewujudkan kebaikan, mengapa tidak. Organisasi pergerakan di dirikan bukan untuk membatasi hak anggotanya. Seperti berpartisipasi dalam politik praktis. Namun yang menjadi masalah adalah, ketika sudah ada campur tangan pihak lain dalam rumah tangga organisasi. Itu sesuatu yang fatal.

Rumah tangga organisasi adalah sesuatu yang harus dibersihkan oleh campur tangan pihak lain. Independensi sebagai struktur penyangga akan goyah bilamana telah disusupi intervensi pihak eksternal. Saya sangat miris ketika dalam proses pemilihan ketua organisasi pergerakan, terjadi transaksi dibalik layar. Ada titipan – titipan gelap dari tangan – tangan tersembunyi, yang membuat kompetisi menjadi tak sehat. Sehingga bisa menimbulkan konflik, dan bahkan sering kali organisasi bisa terpecah karena adanya kubu – kubu. Utilitas dari organisasi pergerakan dipertanyakan. Selama ini mereka gencar menyuarakan kebenaran bahkan menentang feodalisme, tetapi dalam internalnya sudah tidak merdeka dalam memutuskan sesuatu. Organisasi pergerakan boleh dikata sebagai miniatur pengelolaan negara. Apabila dalam skala kecil saja kita sudah gagal menjaga nilai – nilai moral, apalagi kalau nantinya kita dipercaya untuk mengelola hal besar yaitu negara. Ditengah krisis moral yang terjadi pada era sekarang ini, organisasi pergerakan adalah salah satu harapan rakyat dalam menyuarakan kepentingan mereka. Dalam tulisan ini saya juga akan mengutip ungakapan dalam bahasa latin yaitu “Vox Populi Vox Dei” yang artinya suara rakyat adalah suara Tuhan. Saya mengutip ungakapan ini supaya kita bisa meresapi mengenai esensi perjuangan. Makna suara rakyat adalah suara Tuhan selama ini hanya kita pahami secara tekstual. Makna sebenarnya dari ungkapan itu adalah apabila suara rakyat itu disampaikan dengan landasan yang baik, maka akan melahirkan kebenaran. Dengan demikian, betapa pentingnya kita menyuarakan kepentingan rakyat. Organisasi pergerakan hadir dalam rangka memperjuangkan kepentingan rakyat. Akan sangat memprihatinkan apabila ada permainan tangan – tangan tersembunyi yang memengaruhi independensi dalam tubuh organisasi.

Kekhawatiran mengenai organisasi pergerakan akan dimanfaatkan oleh pihak lain, dalam rangka memperjuangkan kepentingan yang tidak ada sangkut pautnya dengan misi perbaikan tentunya beralasan. Apalagi selama ini banyak terjadi fenomena campur tangan politik dalam organisasi pergerakan. Politik itu sendiri pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang baik. Namun yang menjadi adanya penyelewengan pada tataran prakteknya. Apabila penyelewengan itu terjadi maka akan menimbulkan antagonisme politik. Inilah yang membuat organisasi pergerakan terciderai nilai – nilai perjuangannya. Karena antagonisme ada, maka harus ada usaha untuk menghilangkannya. Apabila tidak dihilangkan akan sangat merusak tatanan kehidupan sosial. Sebab didalamnya ada motif terselubung yaitu hanya mementingkan kepentingan pribadi. Organisasi pergerakan dimanfaatkan karena memiliki basis massa, sehingga mereka menggiring massa itu pada permainan kotor mereka.

Kaum liberal menolak paham tentang ketidaksamaan alami di kalangan kelompok sosial atau ras. Mereka melihat perjuangan politik sama seperti perjuangan ekonomi. Di dalam suatu masyarakat di mana tidak ada cukup benda – benda konsumsi untuk memuaskan permintaan umum, ada persaingan yang konstan diantara manusia, di mana setiap orang mencoba mencari keuntungan yang sebesar – besarnya bagi dirinya dengan merugikan orang lain. Memegang posisi kekuasaan memberikan seseorang keuntungan yang sangat besar. Disini homo politicus tidaklah berbeda dengan homo economicus. Dalam organisasi pergerakan akan muncul manusia ekonomi yang mencari keuntungan diri sendiri dan merugikan orang lain jika praktek kotor dianggap lumrah terjadi di dalamnya.
Kita bisa membedakan dua jenis sebab – sebab individual di dalam pergolakan politik. Pada satu pihak, perbedaan di dalam bakat alami di kalangan manusia berarti bahwa ada manusia yang lebih berbakat daripada yang lain dan cenderung berada di atas angin, dengan kata lain untuk menjamin kekuasaan. Di pihak lain, tergantung daripada kecenderungan – kecenderungan psikologis, individu – individu tertentu lebih cenderung daripada yang lain kepada dominasi atau kepatuhan. Yang pertama berusaha untuk memerintah yang terakhir, dan yang terakhir kurang lebih menerima keadaan di taklukan.

Organisasi pergerakan selama masih memakai teori struktural fungsional. Dimana teori ini mengesampingkan konflik didalamnya. Padahal pada kenyataannya kita tidak bisa menafikan bahwa akan selalu ada konflik dalam setiap interaksi sosial. Anggapan dasar teori struktural fungsional terlalu menekankan pada peranan unsur-unsur normatif dari tingkah laku sosial, khususnya pada proses perorangan yang diatur secara normatif untuk menjamin terpeliharanya stabilitas sosial (Sutaryo, 1992). Teori struktural konflik memiliki tiga asumsi utama yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan, yaitu: (a) manusia memiliki sejumlah kepentingan – kepentingan asasi, dan mereka senantiasa berusaha untuk mewujudkannya; (b) power (kekuasaan) di samping merupakan barang langka, juga terbagi secara tidak merata sehingga merupakan sumber konflik dan memiliki sifat memaksa; (c) ideologi dan nilai – nilai merupakan senjata yang digunakan oleh berbagai kelompok yang berbeda untuk meraih tujuan dan kepentingan mereka masing-masing. Dengan demikian, organisasi pergerakan harus memperhatikan dua teori ini dalam setiap aktivitasnya. Kita tentu mengharapkan akan ada perbaikan dalam tubuh organisasi pergerakan, karena disanalah calon pemimpin di tempa untuk bisa mengelola sesuatu yang besar seperti negara.

Facebook Comments