Home Mimbar Ide Manusia Makhluk Potensial

Manusia Makhluk Potensial

1
ADVERTISEMENT

Oleh : Abd Ghani*

Manusia makhluq yang diciptakan dengan dua tugas, pertama untuk mengabdi, kedua sebagai wakil Tuhan di Bumi, tak boleh dipilih salah satunya puas dengan ibadah saja dalam bentuk ritual, tapi lupa terhadap tugas sebagai khalifah dalam bentuk tanggung jawab sosial kemanusiaan, atau urusan sosial saja tapi mengabaikan ketuhanan, kedua-duanya haruslah berdampingan.

jangan sibuk mengtuk Adam karena dosa asal yang akibat perbuatannya kita terlempar dari surga. Hidup ini disini, di bumi, bukan disurga sana. adapun rangkaian peristiwa itu hanyalah sebagai skenario ilahi agar mausia menempati bumi dan mengelolanya dengan segenap akal dan hatinya, dunia untuk dijemput dan dihadapi jangan dijauhi apalagi ditinggalkan.

ADVERTISEMENT

Jika orang yg mengaku baik cuek terhadap tugas kekhalifahan, maka tugas itu akan diisi oleh mereka yang tak peduli dengan nilai kebaikan, oleh para penjahat dan sejenisnya. Ini menjadi logika paling mendasar yang harus dihayati, karena realitas hidup senantiasa berdialegtika, bahasa praktisnya ialah hidup senantiasa berkompetisi dalam hal apapun.

Kompetisi hidup Manusia sebagai makhluq potensial dapat dilihat pada nalurinya, tiap individu selalu punya hasrat berkuasa Dan mendominasi yang lain, itu tak boleh dihakimi karena pada dasarnya dalil agama meminta kita berkompetisi dengan berlomba dalam kebaikan, bukan bersembunyi,

Bahkan mereka yang bersembunyi diam_diam selalu menunjukan hasrat ingin mendominasi, ingin dilihat paling, menuntut untuk selalu diperhatikan dan dibenarkan, selalu ada hasrat untuk menaklukan.

Org belajar punya misi menaklukan kebodohan, orang berdebat punya ingin menguasai lawan bicara, seorang pengkhotbah ingin diperhatikan oleh audiens, sampai posting status pun mengandung makna ingin diperhatikan karna pada dasarnya disitulah potensi kekhalifahan terkandung, pada hasrat untuk menjadi dan terus menjadi yang tak pernah berhenti, dan itu baik bagi kelangsungan hidup manusia, harus didukug tak boleh dikutuk.

Yang perlu diluruskan adalah pandangan hidup yang sudah merasa cukup dengan keadaan, hinga ia mati sebelum mati, diam tak berkembang. Memelihara cara pandang tersebut menjadi salah satu faktor kemunduran dalam peradaban ummat islam yang menganggap dunia sebagai ladang dosa hingga berpaling darinya, padahal tugas sebagai khalifah di bumi menugaskan manusia untuk menanganinya bukan meninggalkannya.

Sadarkanlah diri bahwa manusia bukan sebagai objek kutukan atau rahmat, melainkan sbg individu yg bertanggung jawab atas dirinya.

Manusia adalah mahluq merdeka, dengan Akal dan hatinya ia dipersilahkan untuk menciptakan makna atas hidup, tidak puas hanya dengan makna yang direkayasa oleh orang lain, tidak menjadi ekor tapi menjadi kepala, sekurang-kurangnya adalah menjadi kepala atas dirinya sendiri.

Apa yang dituduhkan Friedrich Wilhelm Nietzsche sebagian bisa dibenarkan juga, bahwa orang-orang besarlah yang merekayasa nilai sementara dunia kerumunan menganggapnya sebagai kebenaran yang harus dita’ati. Padahal yang menciptakan standar nilai atas kehidupan yang kita jalani ini adalah manusia juga. adapun interpertasi dalam agama ialah sebagai hasil subjektivitas para pemukanya. Dalam keyakinan islam, agama islam mutlaq benar, tapi lahirnya interpertasi atas islam merupakan penafsiran manusia, buktinya adalah beragam mazhab fiqh dan ormas yang berbeda-beda sebagai hasil subjektivitas para pendirinya dengan perbedaan latar belakang pemikiran sebagai bentuk kemerdekaan befikir, siapa paling benar dan siapa yang salah itu urusan Tuhan dalam menilai.

Mereka yang telah menegaskan individualitasnya melahirkan gagasan-gagasan besar, begitulah pula dalam tata-kehidupan, apakah itu undang-undang, norma, moral, adalah adalah ciptaan manusia, karena manusia itu relativ, terbatas, dan sangat mungkin salah lantas mengapa Kita tak menegaskan individualitas kita juga dalam memberi arti terhadap hidup ini, tidak ikut arus dan juga tak ditinggalkan arus. Tidak terombang ambing tidak pula ditelan sejarah. Betapa pedihnya manusia merdeka yang hidup dalam makna yang direkayasa orang lain, padahal ia adalah makhluq Tuhan paling kreativ dengan potensinya.

Urusan dengan Tuhan cenderung sederhana, bila berbuat dosa, maka mohonlah ampunan dengan segenap jiwa, atas kehendaknya dosa-dosa itu akan diampuni oleh yang maha pengampun, tapi soal urusan tanggung jawab diatas bumi yang dipijak, tak akan selesai hanya dengan berdoa lalu duduk berpangku-tangan.

potensi sebagai khalifah adalah kehendak untuk menjadi besar, dan tugas untuk tetap menghamba sekaligus kesadaran sebagai makhkuq yang kecil, kenapa kok terdengar kontradiktif ? Sesunghuhnya tidak, hanya saja perlu ditempatkan sesuai tempatnya. Dalam filosofi china kita diperkenalkan Yin dan Yang, keseimbangan hidup, kapan kita harus pasif dan kapan harus aktiv, jangan over aktiv disaat kita harus pasif, atau pasif disaat kita harus aktiv. Kenali diri lalu berbuatlah.

*) Penulis adalah Aktivis IMM. Narasi ini ditulis dibawah dinginnya kabut-kabut Malino, Kabupaten Gowa.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT

1 COMMENT

Comments are closed.