Home Mimbar Ide Masyumi Reborn : Sejarah dan Kebangkitannya

Masyumi Reborn : Sejarah dan Kebangkitannya

0
Ilustrasi

Oleh : Furqan Jurdi*

“Atas berkat Rahmat Allah yang maha kuasa dan di dorong oleh Keinginan Luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka Bangsa Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Demikianlah yang ditulis oleh Haji Agus Salim ketika merumuskan naskah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan naskah Proklamasi Kemerdekaan (tidak jadi dibacakan).

“Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan di dorong oleh keinginan luhur”, kata Haji Agus Salim, telah tersimpul lah dua doa dalam AL-Quran. Yaitu “La Hawla walakuwata illa billah” (tidak ada daya upaya kecuali atas izin Allah) dan “Innalaha la yughaiyiru ma bikaumin hatta yughaiyyiru ma bi anfusihim” (Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri berubahnya).

Itulah Ilham Islam yang pertama bagi kemerdekaan Indonesia. Setelah perjuangan panjang lebih 300 tahun lamanya, umat Islam Indonesia baru merdeka pada tahun 1945 atas berkat Rahmat Allah.

Meski demikian Negara Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, belum diterima oleh Belanda. Karena itulah Belanda melancarkan Agresi Militer Pertama dan Kedua.

Masyumi: Bersatunya Umat Islam

Dalam ancaman agresi terus menerus, pemerintah Indonesia terus mengupayakan gerakan national building dan carakter building. Dalam bidang politik dan demokrasi, pemerintah melalui Wakil Presiden mengeluarkan Maklumat tanggal 3 November 1945. Maklumat tersebut berisi agar segera kelompok-kelompok mendirikan partai.

Dengan dasar adanya Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta sekaligus sebagai tonggak awal demokrasi, maka Umat Islam yang dipelopori oleh Tokoh-tokoh Islam dan organisasi Islam, mengadakan Kongres umat Islam pertama kali pada tahun 1945 bertempat di Gedung Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. kongres menghasilkan keputusan Terbentuknya Partai Politik Islam Masyumi sebagai satu-satunya Partai umat Islam. Dengan demikian umat Islam dapat menyalurkan aspirasi politiknya melalui Masyumi.

Masyumi sebelum menjadi Parpol adalah merupakan federasi dari empat organisasi Islam, yaitu Nadhlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam dan Persatuan Umat Islam Indonesia.

Federasi itulah yang disepakati menjadi Partai Politik Islam Masyumi. Untuk Pertama Kalinya pemimpin tertinggi atau Majelis Syuro Masyumi di pimpin oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) dan Ketua Muda 1 adalah Ketua Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo. Sementar Ketua Umum (Ketua Harian) Pertama dipimpin oleh Soekiman Widjosandjojo.

Adapun tujuan Masyumi adalah “terlaksananya ajaran dan hukum Islam dalam kehidupan orang-seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Illahi.”

Masyumi dan Roem Berjuang Lewat Perundingan

Maka mulailah peran Masyumi dalam negara yang baru diproklamirkan itu. Meski keadaan politik Internal stabil, ditambah lagi Belanda belum sepenuhnya menerima kemerdekaan Indonesia. Keinginan untuk menjajah kembali Indonesia terus terjadi. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua.

Agresi itu hampir saja menghilangkan negara Indonesia. Para pimpinan Republik ditangkap. Berkat Tokoh Masyumi, Sjafruddin Prawiranegara eksistensi Republik Indonesia secara de Facto masih bertahan. Syafrudin membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera. Perang gerilya di bawah komando PDRI dan Jenderal Soedirman di Jawa, memaksa Belanda untuk melakukan perundingan.

Adalah Mohammad Roem (Pimpinan Masyumi) sebagai perwakilan Pemerintah RI dalam perundingan dengan pihak Belanda itu. Akhirnya lahirlah Perjanjian Roem-Roijen yang menyepakati bahwa Belanda akan mengembalikan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya—yang sebelumnya tidak dapat diterima oleh kerjaan Belanda.

Untuk pertama kalinya Belanda mengakui Indonesia sebagai negara merdeka adalah Perjanjian Roem-Roijen. Meski Hasilnya adalah negara Republik Indonesia Serikat, tetapi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Masyumi, Natsir dan Mosi Integral

Namun Negara RIS tidak bertahan lama. RIS itu berakhir dengan sebuah mosi yang paling bersejarah dan melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara RIS yang tadinya adalah negara-negara bagian, meleburkan diri menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia atas dasar Mosi Integral Mohammad Natsir yang dibacakan di depan Palemen kemudian disetujui oleh semua Fraksi termasuk PKI. Mosi Integral adalah konsep genuine dari Tokoh Masyumi.

Lahirnya NKRI adalah merupakan ijtihad ulama dan tokoh Islam dari partai Masyumi yang telah tercatat dalam tinta sejarah Republik Indonesia.

Asa Bafagih, wartawan harian Merdeka, bertanya kepada Bung Karno mengenai siapa yang akan dia tunjuk menjadi Perdana Menteri kabinet pertama di era Negara Kesatuan? Tanpa ragu, Bung Karno menjawab: “Siapa lagi kalau bukan Natsir dari Masyumi. Mereka punya konsepsi untuk menyelesaikan masalah bangsa menurut konstitusi.”

Natsir adalah Perdana Menteri Pertama NKRI adalah Arsitektur NKRI!

Masyumi Berjaya

Pemilu Tahun 1955 adalah pemilu utrademokrasi yang disebut-sebut sebagai pemilu paling jujur dan adil. Tetapi jangan Lupa bahwa Perdana menteri pada Waktu itu adalah Burhanuddin Harahap, tokoh Masyumi.

Pada Pemilu 1955, Masyumi keluar menjadi partai pemenang dan mampu mendudukkan Anggotanya dalam Parlemen sebanyak 57 anggota. Kesuksesan Masyumi dalam pemilu 1955 tidak terlepas dari sikap politiknya yang sabar dan Istiqomah memperjuangkan aspirasi umat Islam dan komitmen menegakkan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun kondisi politik dan pergolakan terus terjadi, petisi dan interupsi selalu terjadi. Sebagai sebuah kekuatan politik terbesar di Republik Indonesia Masyumi tanggap menghadapi masalah-masalah yang terjadi. Tokoh-tokoh Masyumi vokal menyuarakan kepentingan politik umat.

Akibat konsisten dijalan perjuangannya, Masyumi menjadi musuh terberat PKI, sebuah partai yang memusuhi Islam secara konfrontatif. Namun Masyumi harus menanggung risiko besar perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, memang tidaklah mudah. akhirnya karena sikapnya yang jujur, Masyumi dibubarkan dengan cara yang tidak adil.

Masyumi Bubar

Keputusan Presiden Nomor 200 Tahun 1960 akhirnya menjadi ujung dari ikrar persatuan umat Islam. Masyumi dipaksa membubarkan diri tanpa alasan yang jelas. Keterlibatan tokoh-tokohnya dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) menjadi alasan dari pembubaran itu.

Namun, belakangan konsep yang diperjuangkan oleh PRRI menjadi konsep dasar Otonomi daerah setelah reformasi. PRRI bukanlah mendirikan negara dalam negara, namun PRRI adalah alat untuk menyampaikan aspirasi Daerah-daerah yang tidak didengar oleh pemerintah pusat.

*Keluarga Besar Masyumi*

Setelah Masyumi dibubarkan, tokoh-tokohnya ditangkap dan dipenjara tanpa keputusan pengadilan. Di bawah kendali Demokrasi Terpimpin dengan Slogan Manipol-Usdek yang nyaring. Yel-yel revolusi menjadi bising. Republik dioperasikan secara salah.

Dalam situasi itu PKI menjadi partai yang berkuasa dengan lindungan langsung dari Peesiden Soekarno. Setelah Masyumi bubar PKI sudah tidak punya lagi lawan tanding yang paling tangguh.

Keadaan tersebut membuat PKI leluasa untuk melakukan propaganda politik. Permusuhan terhadap organisasi Islam seperti Pelajar Islam Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam semakin garang.

Keleluasaan itu membuat PKI menebas 7 jenderal dan terjadilah Gerakan 30 September 1960 Partai Komunis Indonesia. Keadaan itulah yang membuat bangsa mengalami luka sejarah yang dalam.

Pecah Menjadi Partai-Partai

Setelah berakhirnya rezim orde lama, tokoh-tokoh Masyumi berencana untuk membentuk partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Namun gagal akibat ketidakramahan politik orde baru terhadap Islam.

Karena tidak ada lagi jalan untuk berdakwah di bidang Politik, maka para tokoh-tokoh Masyumi berpolitik di Jalan Dakwah. berdirilah Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Hal itulah yang menjadi wadah bagi tokoh-tokoh Masyumi untuk berjuang di jalan dakwah ilallah.

Ternyata kesabaran, keteguhan hati, Istiqomah dan atas berkat Rahmat Allah, tokoh-tokoh muda Islam yang dididik oleh tokoh-tokoh Masyumi, berhasil melakukan reformasi dan mengakhiri kekuasaan Orde Baru.

Setelah reformasi bergulir maka muncullah partai-partai yang mengadopsi ciri khas Masyumi. Ada partai Umat Islam (Prof. Deliar Noer); Partai Masyumi (Abdullah Hehamahua); Partai Masyumi Baru (Ridwan Saidi); Partai Bulan Bintang (Yusril Ihza Mahendra); dan partai-partai lainnya.

Perpecahan ini tentu memperkecil kemungkinan bangkitnya partai Islam yang kuat seperti Masyumi. Pada waktu itu arah gerakan politik Islam terbengkalai. Inilah perpecahan politik Islam dan pecahnya keluarga besar Masyumi.

Kondisi politik yang semakin suram, bangsa yang semakin kehilangan keteladanan, politik yang tidak bermoral dipertontonkan secara terbuka dihadapan publik. Krisis politik terus terjadi, sementara partai Islam Ideologis yang mewarisi Prinsip perjuangan Masyumi sudah tidak ada lagi.

*Kilas Balik: Masyumi Reborn*

Bukan hanya itu, Dari 1998 hingga tahun 2019 Partai Islam cenderung semakin menurun. Kondisi politik yang pragmatis dan transaksional membangkitkan gairah umat dengan kerinduan yang mendalam terhadap politik Islam yang bersih dan bermartabat.

Kerinduan umat itu tidak terlepas dari kondisi perpolitikan Indonesia yang sedang dalam kemerosotan ini. Kemudian bersamaan dengan itu, muncul solidaritas Islam yang kuat dengan adanya gerakan umat Islam 411 dan 212.

Ada dua realitas yang menjadi keharusan sejarah lahirnya Masyumi. Pertama realitas politik Islam yang terpecah secara internal, bersamaan dengan merosotnya capaian partai politik Islam dari pemilu ke pemilu.

Realitas kedua adalah realitas eksternal, dimana kondisi politik belakangan ini tidak lagi mencerminkan karakter politik yang bermoral. Kemerosotan moral dan integritas politik itulah, Masyumi digagas kembali.

Masyumi lahir bukan sebagai tandingan partai politik Islam yang ada, tetapi menjadi mitra dan pembantu untuk mewujudkan cita-cita politik Islam yang rahmatan lil alamin dan cita negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Untuk itulah Ulama dan tokoh Islam memanggil cendekiawan dan tokoh Islam untuk menyelidiki secara seksama Ideologi, gerakan dan cita-cita Masyumi.

Maka setelah diskusi fakta dan konsep, setelah pertimbangan politik yang matang dan penyelidikan yang menyeluruh, panitia Pembentukan Partai Islam Ideologis (P-411) menyerahkan penyelidikan untuk diputuskan dalam rapat Ulama dan tokoh Islam.

Dalam proses penyelidikan daerah-daerah di berbagai Indonesia sudah membentuk panitia untuk menyelidiki Eksistensi Masyumi di daerahnya. Antusiasme masyarakat akan kebangkitan Masyumi begitu kuat, memori kaum muda akan Masyumi kembali lagi. Meski sudah satu generasi lewat, namun generasi baru masih merawat ingatan akan partai yang menjadi teladan umat.

Karena itulah kebangkitan kembali atau Masyumi Reborn adalah untuk kebangkitan politik Islam, mengikat solidaritas Umat dan meluruskan jalan politik ke arah yang dicita-citakan bangsa Indonesia.

Umat Islam sebagai mayoritas memiliki tugas dan tanggung jawab untuk merawat keteladanan, nilai moral, nilai agama dan nilai kebangsaan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Wallahualam bis shawab

#MasyumiReborn

*) Penulis adalah Ketua Komunitas Pemuda Madani

Facebook Comments