Home Mimbar Ide Nabi Tak Adil dalam Kualitas Cintanya?

Nabi Tak Adil dalam Kualitas Cintanya?

0
Abdul Gani
ADVERTISEMENT

Oleh : Abdul Gani*

Tulisan ini berangkat dari adanya pertanyaan karena tulisan saya sebelumnya yang diberi judul “Analisis Hermeneutic Terhadap lagu Aisyah Isteri Rasulullah” yang menanyakan keadilan Nabi dalam cintanya, karena adanya penggunaan kata “Ter” yang disandarkan pada Aisyah dengan konotasi tertinggi dari isteri yang lain, sementara dalam hokum poligami mengharuskan adanya keadilan. Sehingga apa ia Nabi tidak adil.?

Dua poin dalam pertanyaan diatas. pertama, Teks secara leksikal. makna asli yang terdapat dalam teks (nyanyian tersebut), ada unsur ketidak adilan karena penggunaan kata “Ter” memarjinalkan isterinya yang lain. Kedua, makna yang dibawa oleh teks secara eksistensial betulkah Nabi tidak adil, kan Beliau Nabi ?ini akan memberi reaksi emosional

ADVERTISEMENT

Kalau kita naik lagi ke level ontologis, bahwa author dari teks ini bukan Nabi tapi produsen Teks (penyanyi). Pada bagian akhir akan mengarahkan reader ke tahapan eksistensial yaitu penyatuan author dan reader dalam menangkap makna.

Kalau kita mengarahkan jawabannya ke Teks dan penuturnya, maka makna yang tertangkap ada unsur ketidak-adilan secara leksikal. Tapi karena yang dinilai disini adalah objeknya, maka kita perlu melakukan pendekatan sosio-historis bagaimana kehidupan Nabi dan isteri-isterinya dalam sejarah. Walau hasilnya akan memberi corak pandang yang beragam.

Surah an-Nisa ayat 129 pada kata ‘wa lan Tastati’u an ta’diluu baina an-Nisa’i (kamu tidak akan dapat berlaku adil) ada yang mengatakan ayat ini sebagai kecenderungan Nabi kepada Aisyah, sehingga diberi kesan ada ketidak adilan. Tapi kata tersebut (‘wa lan Tastati’u) adalah bentuk jamak, bukan ditujukan kepada satu orang melainkan universal bagi banyak laki-laki yang memiliki banyak isteri (Orang arab memaknai banyak kalau lebih dari dua, indonesia dua pun sudah banyak) sehingga kurang tepat dijadikan sebagai parameter Nabi dianggap tidak adil karena itu adalah seruan universal.

Pertanyaannya kemudian, Nabi kan bagian dari manusia juga? Apa Beliau tidak termasuk oleh ayat ini.? Ini sekilas mengarahkan kita untuk memilih sikap dengan berpendapat Nabi adil atau tidak dalam kualitas Cintanya. yang dituntut oleh pertanyaan ini adalah kualitas cinta dan pembuktiannya sebagai ukuran keadilan. Sampai disini kita tahan dulu, Mari sejenak kita keluar dari komparasi pertanyaan ini dan melakukan pendekatan lain.

Cinta, Adil, dan Setara. Tiga kata ini coba kita elaborasi terlebih dahulu.

Cinta. Dalam tulisan sebelum-sebelumnya, saya pernah mengulas soal kualitas dan kuantitas dengan menggunakan konsep mitologi Roland Barthes (silahkan baca bukunya Mitologi) pada bagian kuantifikasi kualitas. Yaitu istilah untuk menjelaskan peristiwa yang ingin mereduksi sesuatu yang sifatnya intelek menjadi hal yang ekonomis. Contoh, kebahagiaan seseorang tak bisa diukur dari seberapa banyak ia mengoleksi perabotan rumah tangga, boleh jadi mereka yang sederhana secara material batinnya jauh lebih tenang dari mereka yang punya segudang materi, mungkin saja mereka punya kualitas kecerdasan emosional yang baik sehingga hal-hal material tak merobohkan pondasi kebahagiaan yang dibangun. Sebaliknya, mereka yang sudah kaya-raya masih banyak yang korupsi, itu sebagai bentuk ketidak-ketenangan batin, tak tenang kalau ini dan itu hanya dibiarkan tanpa dicuri padahal bukan miliknya. Koruptor tak bisa bahagia karena dambaan kebahagiaan selalu digantungkan pada hal-hal yang bukan miliknya, setelah memiliki yang satu masih ingin lagi yang lain sampai seterusnya tanpa batas. Selama kesadaran ini dipelihara maka selama itupula kegelisahan menyertai.

Istilah yang lumrah kita dengar happines dan pleasure, yaitu kebahagiaan dan kenikmatan. Anda boleh mengejar banyak kenikmatan tapi nikmat belum cukup membuatmu bahagia. Makan enak itu nikmat, tapi apa semua orang yang sedang makan enak bahagia? Hidup yang hanya ingin meraih sisi kenikmatan menjatuhkan martabat kemanusiaan ke level hayawan (sisi kebinatangan). Hewan tak dapat rasakan kebahagiaan, hidup berbagi (curhat) tentang cinta kasih, hewan hidup dengan insting mencari makan dan merasakan kenikmatan, kalau manusia hidup hanya untuk hal itu saja, lalu apa bedanya dengan (……)? Apa yang dikatakan Buyah Hamka kita hafal betul, ‘kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau kerja sekedar kerja kera pun bekerja’. Dalam diri manusia ada dua sisi itu insaniyah (baik, santun, pengasih) dan hayawaniyah (kerakusan dan kebuasan). Sisi mana yang lebih hidup tergantung yang mana yang engkau beri makan.

Sama halnya soal Mahabbah (cinta) ia tak bisa diukur dengan variabel material, karena cinta sifatnya kualitatif dan materi selalu kuantitatif (dapat dihitung). Orang yang tidak terlalu sanggup membuktikan cintanya dengan materi bukan berarti tidak lebih besar cintanya dari pada yang sanggup memberi dengan materi. Kalau ukuran material yang kuantitatif digunakan untuk mengukur cinta yang kualitatif maka hasilnya akan menjadi mitos, seoalah dianggap benar walau tak proporsional. Maka yang akan lahir adalah cinta-cinta materealistik yang sifatnya aksidental, apabila materinya hilang maka gugur pulalah cintanya. diperlukan kecerdasan untuk mengidentifikasi cinta agar ia tak menjebak benak.

Mari sejenak kita mengenali cinta dalam kerangka akademik bukan (romantic) supaya bisa sedikit objektiv, Jenis cinta dapat dikelompokkan ke beberapa istilah, Ada cinta jasmaniah (konotasi fisik/ada hubungan dengan seksualitas) yaitu keinginan untuk memiliki dan mencari suatu objek keindahan atau kebajikan demi kesenangan atau kepuasan diri. Maslow menyebutnya sebagai kebutuhan Fisiologis.

Ada cinta rasa persahabatan, Perasaan yang ditujukan kepada semua orang tanpa terkecuali, didorong oleh ketulusan hati, semata-mata demi kebahagiaan dan kesenangan orang lain tidak memandang jenis kelamin, tidak ada hasrat Fisiologis, yang ada adalah kasih pada sesama.

Dan ada Cinta ketuhanan, Yaitu Cintanya Tuhan pada kita yang kita tiru dengan mencintai seperti Tuhan mencintai alam semesta. kita bukan Tuhan tapi kita dapat meniru sifat-sifatnya, walau yang menyandang kata Maha hanyalah Tuhan. Inilah cinta transendental saling merangkul memperbaiki kualitas diri demi mengabdi pada Sang Ilahi. Kalau ada yang katakan aku cinta kamu, klarifikasi dulu cinta yang mana yang ia maksudkan.

Dari beberapa jenis yang disebutkan sifatnya adalah internal dalam diri secara kualitatif.

Kedua adalah Adil (equity) dan setara (Equality) : adil tak bisa disamakan dengan setara karena setara belum tentu adil. Jika anda sebagai orang tua memiliki lima orang anak, tentu uang belanja mereka tak boleh disamakan karena kebutuhan yang berbeda. pertanyaannya, apakan anda sebagai orang tua tidak adil.? Belum tentu karena itu anda lakukan berdasar analisa proporsional atas kebutuhan mereka. Justeru ketika belanjaan bayi 2 tahun disamakan dengan anak yang sudah mahasiswa itu yang tidak adil. Maka menyamaratakan dua hal berbeda sama tidak adilnya dengan membeda-bedakan dua hal-hal yang sama. Adil harus dipahami secara proporsional walau tak setara.

Kita sambung untuk menjawab pertanyaan diatas tentang keadilan Nabi. Secara leksikal pertanyaan ini mengusik keberpihakan individual, bagaimana mungkin kata tidak adil disandarkan kepada Nabi besar Muhammad saw. Kalau direspon secara emosional maka kita akan kehilangan rasionalitas.
Quran surah An-Nisa ayat 3 membahas konsep keadilan. Pertanyaanya keadilan seperti apa sehingga memperbolehkan lelaki memiliki isteri 2, 3, 4, dan 1 sebagai opsi terakhir kalau tak sanggup adil.! Sebagai laki-laki, memahami ini tak boleh pake hasrat karena anda akan kehilangan objektivitas dan justeru termotivasi untuk berpoligami.

Pada zaman pra-islam, orang bisa beristeri puluhan, tak tanggung-tanggung bisa sampai 40 bahkan lebih. Kalau suaminya mati maka isteri-isteri itu bisa diwariskan. Ketika datangnya islam keadaan berbanding terbalik, yang tadinya isteri diwariskan tapi oleh ajaran islam mereka menjadi berhak mendapat warisan. Yang tadinya isteri bisa 40 tapi oleh ajaran islam diminimalisir jadi 4 saja itupun kalau anda sanggup adil. Jadi An-Nisa ayat 3 bukan motivasi memperbanyak, pemaknaannya harus kita kontekstualisasikan yaitu mempersedikit atau meminimalisir isteri. Dulu 40 menjadi 4, sekarang 4 harus dimaknai jadi 1 saja, karena dasar menafsirkannya yaitu mempersedikit. Kalau anda masih memaknai dengan makna lama maka sudut pandang anda ketinggalan zaman. Kembali pada konsep adil, pada ayat tersebut membicarakan adil secara material (kuantitas), kalau merasa tak sanggup menafkahi lahir batin ya jangan serakah.

Lalu, bagaimana dengan An-Nisa ayat 129 yang dibahas diawal ‘wa lan Tastati’u an ta’diluu baina an-Nisa’i (kamu tidak akan dapat berlaku adil), kata ini berlaku universal bahwa para suami tak akan dapat berlaku adil (kata Lan) sebagai penegasan tak akan pernah. adil disini kalau disamakan dalam kerangka material maknanya akan kontradiksi dengan ayat 3, tentu saja kalau ada makna yang kontra dengan ayat lain berarti ada kekeliruan dalam pemaknaan yang dilakukan. Adil yang dimaksud ayat ini bukan kuantitas material melainkan kualitas Mahabbah (cinta).

Siapapun tak dapat adil (menyamaratakan) kualitas cintanya, dipertegas pada sambungan ayat 129 (walau harastum ) walaupun kamu ingin. karena soal hati ia selalu berpihak. Begitupun Nabi terhadap isteri yang sangat dicintainya. Khadijah walaupun sudah wafat, tapi asiyah selalu cemburu kepadanya karena kecintaan Nabi masih melekat kuat pada Khadijah. Hingga Nabi berdoa “Allahumma hadza qasmy fima amliku fala tulimni fima tamliku wala amliku” Ya Allah inilah pembagianku atas apa yang aku miliki (giliran kepada masing-masing isteri) tetapi, janganlah engkau mencelaku terhadap apa yang engkau miliki namun tak ku miliki (ketidak mampuan melawan kecenderungan hati).

Namun, hal tersebut tak boleh dibawa keluar konteks, yaitu menjadikannya sebagai argumentasi untuk membenarkan ketidak adilan dalam tindakan-tindakan lain. Dalam hal material Nabi sangat adil terhadap isteri-isterinya karena mereka mempunyai hak batin yang tetap dipenuhi. Walau pada realisasinya beberapa isteri ada yang memperuntukkan jatahnya kepada Asiyah karena factor usia dan lain-lain karena sudah bersepakat (berdamai) yang dijelaskan pada ayat 128.

Dalam hal yang lain, Nabi mengajarkan keadilan, bagaimana tidak, beliau adalah Sang Nabi. Kalau keadilan Nabi saja masih ada yang mau meragukan, lalu keadilan siapakah yang anda bisa percaya? Tapi, dalam konteks Cinta terhadap Isterinya, Manusia manapun tak sanggup berpaling dari kecenderungan hatinya..

Wallahu Alam.
Kalau ada kritik, tambahan, maupun saran Penulis akan sangat berterimakasih. Karena Kesempurnaan milik Allah.

Makassar, 8 april 2020

*) Penulis adalah aktivis Muda Muhammadiyah

Facebook Comments
ADVERTISEMENT