Home Berdikari Curahan Hati Pemuda Malangke, Cerita Lama: Banjir dan Sembako

Curahan Hati Pemuda Malangke, Cerita Lama: Banjir dan Sembako

0
ADVERTISEMENT

Curahan Hati Pemuda Malangke, Cerita Lama: Banjir dan Sembako

Oleh: Kamal Jufr

MataKita.co, Opini – Ada cerita menarik sejak kepulanganku ke kampung halaman beberapa hari ini. Cerita lama yang terulang kembali dengannya. Ini bukanlah cerita tentang Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK), tapi ini persoalan tamu yang tak diundang datang menghantui tidur malamku dan menjadi mimpi buruk bagi masyarakat di kampung halamanku.

ADVERTISEMENT

Tamu itu bernama banjir. Semasa kecilku banjir itu mengasyikkan, yah tahulah anak kecil sukanya nyemplung – asal dapat senangnya – maklum belum mikir panjang. Namun, sekarang semua tak lagi sama karena dunia pendidikan telah mengajarkan tentang kepekaan. Kepekaan inilah yang mengantarkan jemariku menuliskan cerita tentang keresahan.

Masalah banjir adalah masalah klasik bagi kehidupan masyarakat Malangke. Meskipun banjir tak lagi menjadi momok menakutkan, namun tetap saja kedatangannya membawa banyak keresahan. Akses jalan yang tidak dapat dilalui, sekolah diliburkan, pasar tutup, petani gagal panen dan aktivitas masyarakat lainnya terhambat karena banjir tersebut.

Banjir yang sudah sejak lama melanda kini menjadi langganan yang tak terhindarkan hingga menggenangi rumah warga. Ketika musim hujan telah tiba, beberapa desa menjadi primadona bagi tamu tak diundang tersebut. Bahkan ada yang sudah bisa dikatakan zona merah seperti desa Pince Pute dan desa Malangke karena rentang tergenang setiap hujan mengguyur.

Meskipun telah menjadi persoalan krusial bagi warga Malangke dari tahun ke tahun, namun anehnya, belum ada langkah konkret yang dilakukan oleh pihak terkait untuk mengatasi masalah banjir tersebut. Padahal permasalahan banjir sudah berlangsung berpuluh tahun lamanya.

Ketika berbicara masalah banjir, saya kembali teringat bacaan buku biografi seorang tokoh yang kini menduduki jabatan sebagai Gubernur Sulawesi Selatan yaitu bapak Prof. Nurdin Abdullah. Ketika menjabat sebagai bupati permasalahan banjir di Bantaeng dapat teratasi dengan baik. Hal ini berkat upaya yang dilakukannya bersama pejabat dan staf Pemda Bantaeng menelusuri delapan jalur sungai untuk menemukan titik permasalahan dan jalan keluarnya.

Setelah melibatkan beberapa pihak seperti pakar dari kalangan akademisi untuk melakukan survey penyebab banjir, maka langkah strategis pun dilakukan dengan membangun cekdam multiguna yang diawali dengan melakukan normalisasi sungai dan drainase terlebih dahulu. Langkah ini pun berhasil dan mengubah mindset masyarakatnya bahwa hujan bukan lagi sebagai musibah melainkan sebagai keberkahan.

Lalu, Bagaimana dengan upaya Pemda Luwu Utara untuk mengatasi permasalahan banjir di Malangke? Karena penasaran akhirnya saya mencoba mencari tahu dengan membuka diskusi kecil dengan kawan mahasiswa di grup whatsapp. Tahun lalu beberapa rekan mahasiswa yang tergabung di PEMILAR telah melakukan dialog terbuka terkait transparansi kebijakan dan pengawasan pembangunan di kecamatan Malangke. Dialog ini dihadiri langsung oleh Bupati Luwu Utara sebagai narasumber dan beberapa pihak terkait lainnya seperti Anggota DPRD dapil III Luwu Utara, Kadis PUPR, Kepala Pelaksana BPBD, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan LH Luwu Utara.

Kesimpulan dari dialog tersebut adalah dibutuhkan langkah strategis pemerintah seperti normalisasi sungai (pengerukan dan penelusuran pada titik tertentu), dibutuhkan penanganan jangka pendek melalui pengadaan pompanisasi dan kajian-kajian lingkungan dan pengendalian banjir sungai masamba yang membelah wilayah malangke serta peran dan partisipasi masyarakat sebagai bentuk sinergitas dalam menyelesaikan permasalahan banjir tersebut.

Lantas bagaimana tindak lanjut pemerintah? Apakah sudah terlihat? Atau semua hanya berakhir dengan kesimpulan saja? Ruang diskusi diciptakan untuk mempertemukan banyak pikiran, menjadikannya satu pemikiran untuk menemukan solusi atas permasalahan yang didiskusikan. Hasil pemikiran abstrak harus disertai tindakan agar bersifat wujud, jika dibiarkan mengendap bisa menjadi beban pikiran saja bukan?

Ketika banjir datang ada-ada saja cara lama pemerintah untuk memberikan kebahagiaan sesaat. Kebahagiaan itu dikemas bersama bungkusan sembako. Setiap banjir datang, pembagian sembako selalu menjadi bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat yang terdampak. Patut disyukuri dan saya pun turut berterima kasih kepada bupati luwu utara karena beberapa hari setelah banjir bandang tanggal 2 April 2020 yang lalu, tepatnya pada Siang tanggal 11 April 2020 Ibu Bupati beserta Jajarannya turun langsung membagikan bantuan sembako kepada warganya yang terkena banjir.

Hanya saja, haruskah pemerintah terus bungkam dengan keresahan warganya? Apakah hanya terus-terusan ingin menenangkan kepanikan warga dengan turunnya pimpinan membagikan sembako? Sudahkah terpikirkan bahwa sembako itu hanya bisa bertahan dua hari? Bagaimana dengan para petani yang gagal panen menutupi kerugiannya? Lalu, apakah tanda tanya ini hanya akan jadi bahan renungan saja? Semoga saja tidak.

Perlu diketahui, ditengah kerumitan bangsa saat ini menghadapi wabah virus Covid-19, ditengah genangan banjir yang terus melanda, ditengah antrian pembagian sembako, ada harapan besar masyarakat yang dititipkan kepada pemimpinnya untuk menangani masalah banjir yang sampai detik ini mengintai warga malangke.

Terlepas dari kepentingan politis, tulisan ini dibuat hanya sebagai alarm untuk mengingatkan bahwa ada rakyat merasa resah ketika masa lalu ini terus mengusik kehidupannya. Keresahan rakyat tidak menuntut pihak terkait merasakan hal yang sama dengannya, tidak menuntut belas kasihan, apalagi hanya sekedar menjadi gaung politis semata. Yang terpenting adalah kehadiran pemerintah sebagai solusi atas permasalah yang dihadapi oleh masyarakatnya, bukan hanya sebatas hasil pemikiran yang bersifat teoretis, tapi implementasi teoretis yang menghasilkan wujud nyata menghindarkan masyarakat dari cerita lama yang terus-terusan terjadi.

Jika berdalih semua terjadi atas kehendak yang Maha Kuasa, Wallahu A’alam bis Shawwab

Facebook Comments
ADVERTISEMENT