Home Mimbar Ide Teruslah Berjuang, Tolak Omnibus Law

Teruslah Berjuang, Tolak Omnibus Law

0
Ilustrasi : aksi mahasiswa Makassar tolak UU Cipta Kerja
Advertisement

Oleh : Idham Malik*

Halo para mahasiswa, dan juga rekan-rekan lain yang sedang berjuang di jalanan atau dimana pun tempatnya. Jangan takut. Hari-hari ini kita sedang diuji, untuk belajar berkata tidak, belajar berujar tolak, diantara sepanjang hari-hari sebelumnya, yang kita terlalu sering berkata iya.

Universitas, sekolah, keluarga, kampung, dan bahkan agama kita, lalu orang tua, guru, sahabat, dan bahkan imam agama kita, semua mengajarkan pada kita untuk patuh pada sesuatu. Pada negara, pada budaya, pada aturan sekolah, dan juga pada agama. Lantas, kita menjadi penurut, lalu, lantaran itu, kita yang orang banyak ini pun dikibuli, dan terus menerus dimanfaatkan oleh segelintir orang.

Tahu kah teman-teman dari mana kita berasal? Asal muasal kita dari ketidakpatuhan. Adam dan Hawa, memperoleh individualitasnya sebagai manusia setelah melanggar aturan. Promotheus dalam mitos Yunani akhirnya mewariskan kepada manusia pengetahuan, setelah mencuri api pengetahuan dari para dewa. Kata Promotheus, “lebih baik aku dirantai di batu besar ini, daripada harus menjadi budak manut para dewa”.

Teman-teman mahasiswa dan para aktivis di mana pun berada. Ketidakpatuhan kita, pembangkangan sipil kita ini bukan karena kita benci pada Dewan Perwakilan Rakyat, bukan tak senang dipimpin sama Jokowi, tapi, hal-hal yang telah diperbuat oleh mereka di rumah rakyat sana, telah bertentangan dengan semangat kemanusiaan kita. Undang-undang itu, telah menggores luka kemanusiaan kita.

Apa mau dikata, ketika prinsip-prinsip dasar kemanusiaan kita telah tercoreng, mau tak mau kita harus memilih, dan kali ini kita memilih untuk berkata tidak. Apalagi, jika semangat intelektual masih ada dalam diri kita, dimana adagium “de omnibus est dubitandum – apa pun itu, orang harus meragukannya” masih bersemayam dalam hati kita.

Saya yakin, keringat teman-teman, membasuh jiwa kita, mengantarkan kita ke kedewasaan dan menemukan diri kita yang otentik di sana. Katakan tidak akan menjadikan kita manusia yang lebih bebas, untuk tetap setia pada kebenaran. Teruslah berjuang, tolak Omnibus Law.

*) Penulis adalah koordinator Kader Hijau Muhammadiyah Sulsel

Facebook Comments
ADVERTISEMENT