Home Mimbar Ide Membela Samuel Paty, Membela Kebebasan Berpendapat

Membela Samuel Paty, Membela Kebebasan Berpendapat

0

Oleh: Fatimah Ar-Rahma

MataKita.CO – Majelis Umum PBB mengumumkan “Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia” pada 10 Desember 1948. Pasal 19 berbunyi, “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan cara apa pun dan dengan tidak memandang batas-batas.”

Kebebasan berpendapat adalah hak setiap manusia. Pengekangan kebebasan berpendapat adalah penghinaan terhadap ilmu pengetahuan. Ia menghalangi perkembangan nalar kritis dan kemampuan literasi masyarakat.

Samuel Paty, seorang guru sejarah berusia 47 tahun, dibunuh setelah menunjukkan gambar karikatur Nabi Muhammad yang diterbitkan surat kabar Prancis, Charlie Hebdo, di dalam ruang kelas dalam rangka mendiskusikan mengenai kebebasan berbicara.

Ia berusaha memancing nalar kritis murid-muridnya dengan menunjukkan gambar kontroversial. Bahkan tidak ada intensi untuk menghina di sana.

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad adalah manusia teragung. Sehingga ada kehati-hatian dalam menggambarkan sosoknya. Penggambaran yang terlalu frontal, seperti karikatur, tentu akan memancing reaksi.

Namun apa yang perlu diperhatikan dalam hal ini bukanlah gambar yang diklaim sebagai gambar Nabi Muhammad itu. Namun reaksi umat Islam yang sudah tidak menggambarkan Islam itu sendiri sebagai agama yang seharusnya menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Pada titik ini, apa yang dilakukan oleh guru sejarah Samuel Paty adalah untuk menggelitik nalar sekaligus nurani murid-muridnya pada apa yang diklaim sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.

Apakah ia salah?

Saya sendiri berpandangan bahwa kebebasan berpendapat, terutama di ruang publik (kelas adalah ruang publik, tentu saja) adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada batasannya. Bahwa argumen harus selalu dibenturkan agar manusia tidak hidup dalam gelembung kebenarannya sendiri.

Bagaimanakah ilmu pengetahuan bisa berkembang dari masa ke masa?

Adanya orang-orang yang berani menyuarakan idenya meski itu sesuatu yang bertentangan dengan pandangan orang pada umumnya. Mereka adalah pahlawan bagi ilmu pengetahuan sekaligus korban dari masyarakat yang tidak memiliki kesadaran literasi.

Human Rights Watch menuliskan di webnya, kebebasan berpendapat adalah penunjuk arah: bagaimana sebuah masyarakat menoleransi kebebasan berpendapat bagi minoritas, hal yang tidak disukai, atau bahkan pandangan yang buruk akan sering dibicarakan sebagai bentuk hak asasi manusia secara umum.

Orang-orang tidak perlu membicarakan kebebasan berpendapat untuk hal-hal yang mereka sukai. Pembicaraan mengenai kebebasan berpendapat harus hadir ketika itu berkaitan dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Dan kebebasan berpendapat itu – sebagaimana kebebasan seharusnya – tidak ada batasnya.

Penulis adalah peserta kampus gagasan Korkom IMM Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT