Home Lensa Dua Keadaan Hanya Berbatas Jeruji Besi

Dua Keadaan Hanya Berbatas Jeruji Besi

0
ADVERTISEMENT

Oleh : Suci Sasmita*

Setiap hari menyonsong matahari pagi hingga matahari pulang ke peraduan. Dan menanti gelap mecabik malam berharap esok akan kembali ke aktivitas yang sama. Hari-hari selalu dinantikan dengan suka cita. bagaimana tidak, selama dua pekan lamanya saya menghabiskan banyak waktu bertemu dengan orang-orang pada garis kesehatan berada pada golongan sindrom prilaku,sindrom pola psikologi, distress dan disabilitas. Kataku bertemu orang gila memiliki magnet tersendiri. rasa haru,heran,tawa dan tangis, berkumpul pada ruang dinding hati yang sama.

Menjelang hari terakhir dinas, saya bertemu dengan dua pasien pada hari yang sama, prilaku yang sama hingga didiagnosis dengan gangguan yang sama,  yaitu Skizofrenia Ytt.

Advertisemen

Skizofrenia Ytt pada pasien tersebut ditandai dengan adanya gangguan persepsi dalam artian gangguan dalam menilai realita yaitu halusinasi auditorik. Dengan kooperatif pasien menjawab setiap pertanyaan dari saya. “Bapak kenapa mengamuk?” kataku. ” saya mengamuk karena disuruh Allah dokter” jawabnya. “Kenapa Allah suruh bapak mengamuk, bapak tau alasannya?”. tanya ku lagi. ” karena ini dokter di negara ta ini banyak kasus suap,kriminal, banyak orang sombong” jawabnya tanpa terbatah.

Lautan manusia mengira mereka ini orang tak waras, kata-kata yang diucapkannya pun tidak ada kebenarannya dan tak layak untuk dipercaya. Tapi, bagaikan satwa dalam lautan yang terancam punah, dengan tulus melepas garis pemisah antara gila dan waras, untuk sekedar merenungi perkataan orang gila tersebut. Tidak ada yang salah dalam ucapannya, namun, kita memungkiri kebenaran tersebut dan memilih hidup nyaman di area “wajar-wajar saja”.

Lantas, siapa sebenarnya yang memiliki gangguan dalam menilai realitas?

Pertanyaan yang menipu!

Saya tidak berada pada kedua kondisi tersebut, saya memilih berada di atas gunungan sampah dengan tatapan pilu pada gedung-gedung mewah.

Jikalau manusia kesepian harus dilabeli pada dia yang memilih berada pada benang perbatas waras dan gila, antara kata mutiara dan umpatan durjana. Dengan hati terbuka menerima itu, paling tidak dengan kesepian itu, adalah lautan kegelisahan yang siap saya sebrangi dengan perahu kesadaran.

*) Penulis adalah seorang dokter dan Penulis buku Perempuan & Keadilan.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT