Home Lensa Manusia Diciptakan Tidak Setara: Menuju Ketidaksempurnaan

Manusia Diciptakan Tidak Setara: Menuju Ketidaksempurnaan

0
Muhammad Syarif Hidayatullah
ADVERTISEMENT

Oleh : Muhammad Syarif Hidayatullah*

“Mengapa dunia ini dipenuhi kebencian, sikap culas, kebiadaban, dan budaya sosial yang tumpang tindih yang tidak setara? Aku muak dan memilih mengasingkan diri saja!”. Begitulah kira-kira kalimat keluh yang terucap dari seorang pengembara di ujung sebuah desa. Ia mengkritik sana-sini ketidakbecusan realita yang ada di hadapannya sembari cenderung merendahkan semangat sebab tak puas dengan sistem sosial, pendidikan, dunia kerja, budaya, ekonomi, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya.

Bagi si pengembara itu, apalagi ia baru selesai wisuda dari sebuah perguruan tinggi tersebut mengkritik dan meludahi kenyataan adalah sebuah keharusan demi mengubah keadaan. Ia mencintai cita-cita ideal dan mengharapkan intan demi intan kemilau masa depan; intan kehidupan yang terbaik dan indah jika dipandang dan dipakai (dijalani sebagai hidup).

Sore tadi, saat dia bertemu dengan saya di sebuah masjid di daerah Cinere, Depok. Ia mulai menyapa dan kemudian langsung bercakap,

Pengembara: “Syarif, betapa bangsatnya orang-orang di kampusku. Sistem pendidikan kita gila, proses rekrutmen tenaga pendidik kita juga culas dan jauh dari profesionalisme dan cita-cita. Kira-kira mengapa dunia sebangsat ini? Ia menutup dengan intonasi suara yang tinggi. Dan memang pembawaannya sudah seperti itu, jadi saya tidak kaget.

“Bukannya memang dari dulu sudah seperti itu? Kenapa harus kaget? Dunia tidak diciptakan setara. Manusia saja yang diciptakan sempurna jika diketahui caranya, tak elak pasti menjadi sempurna membutuhkan proses dan tempaan masa. Tidak usah terlalu panjang berpikir, kamu jalani saja. Selagi kita masih punya cita-cita ideal yang ada di jiwa itu.” Saya membalas.

Advertisemen

“Kenapa bisa begitu, Rif?” Tanyanya singkat.

“Memangnya semua orang itu sama dengan kamu? Punya pikiran, tabiat, tempaan sosial-budaya, kemampuan, dan sebagainya yang bahkan mirip dengan kita? Manusia itu makhluk yang terus menuju ketidaksempurnaan.” Sambung saya menimpali.

“Di awal kalimatmu tadi aku setuju. Tapi maksud kamu kita ini menuju ketidaksempurnaan? Ayolah, tidurmu terlalu miring Rif. Bangun, bangun. Hahaha”, Kawan saya tersebut menutup pertanyaannya sambil senyum menepuk-nepuk pelan lututku.

“Heterogenitas dunia itu sifat. Di dalam heterogen sifat itu terdapat pula homogen. Di dalam ketidakprofesionalan, kebiadaban, dan praktek culas di lingkungan atau di mana saja yang kamu saksikan itu jika direnungkan terdapat hikmah yang juga membawa manfaat dan pengajaran bagi kita. Bukankah karena adanya yang culas, tidak profesional, kebiadaban, dan konconya yang kamu sebutkan tadi kita bisa tahu dan belajar menjadi menuju berintegritas, disiplin, jujur dalam hidup?”.

“Saya tidak mengerti penjelasanmu. Analoginya terlalu tinggi dan melebar”. Ia menggeleng.

“Bukannya dunia memang tidak selebar daun kelor?” Tanyaku sambil tertawa.

“Maksudnya gimana, gimana? Aduuh. Perjelaslah”. Sahut ia

“Bukannya memang dunia dipenuhi ketidakjelasan yang sulit bisa diserap dan dipahami?” Saya langsung membalas lagi.

“You’re freak! Aneh deh”. Si kawan menjawab tanpa halus.

“Are you? Berarti kamu tidak aneh dong?” Jawabku.

“Yaa, tidak juga. Tapi, apa tadi masalahnya, poinnya dari penjelasannya?”. Ia sedikit agak serius bertanya sambil memperbaiki posisi duduk bersila yang kepalanya bertumpu pada kepalan tangan kiri agak miring.

“Begini. Saya bicara tadi tentang bahwa kita ini dianugerahi ketidaksamaan potensi dan perbuatan. Berbeda tingkat usaha dalam meningkatkan pola pikir dan pekerjaan-pekerjaan hidup. Kan kamu sebulan yang lalu bercerita jika ada kawanmu yang bertengkar dengan orang kampus. Itu sebabnya apa? Karena kawanmu mengkritisi kebijakan kampus dan yang pasti oleh orang yang tidak biasa dikritik akan anti dengan itu. Jadi, terkadang kita tidak bisa langsung memaksa apa yang kita inginkan sama orang lain. Karena tiap lembaga dan tempat memiliki sistem dan prosedur aturan masing-masing. Yaa, walaupun petinggi kampus tadi berbuat sesuatu yang jauh dari aturan yang berlaku di lembaga itu. Sikap culas itu dirasionalisasi bisa oleh siapa saja dan kapan saja, maka tugas kita hanya menyampaikan itu keliru dan salah. Apakah menyatakan kritik cukup dengan hanya menyampaikan semata tanpa cara? Jawabannya ketika anda ingin mengubah sesuatu maka niat mesti jujur dan baik, kemudian yang terpenting cara kita mesti sopan melalui bahasa dan santun melalui laku. Itu baru memenuhi syarat mengkritik. Hahaha”. Aku langsung saja tertawa karena paham saya hanya pandai berbicara. Padahal level saya masih sama dengan kawanku itu, masih sulit memelihara sopan juga santun jika ada saja hal yang membuatku mengkritik sesuatu.

“Alaah, kamu bukannya paling tenang tapi keras jika mengkritik orang atau sesuatu?”. Ia menimpali sambil memiring-miringkan letak alisnya.

“Emang iyaa. Hahahaha. Kan saya tidak sempurna. Tidak konsisten dan suka berimajinasi panjang tentang apa saja. Itu buktinya, kita tidak sempurna. Kalau kita semua manusia sempurna, maka 100% tidak ada ketimpangan sosial ekonomi, budaya, kesehatan, dan sebagainya. Tapi kata “sempurna” menginsyaratkan hadir juga ketidakbecusan, ketidakmampuan, ketidaknyamanan, kebiadaban, kesombongan, dan lain sebagainya. Kita ini manusia memang disuruh meneladani sifat-sifat Tuhan, tapi kota tidak bisa dan mampu mengkopi paste semua. Contoh, Tuhan maha kuasa, jika kita kuasa kita cenderung lalai dan menghardik orang di bawah, Tuhan maha mencipta dan berkehendak, namun jika kita terlalu berbangga pada pencapaian sesuatu maka kita akan cenderung menjadi sombong dan merasa paling mampu. Jika Tuhan maha kaya, manusia yang berharta akan cenderung dikendalikan oleh perasaan kepemilikan pada hartanya akhirnya menjadi kikir. Jika Tuhan Pengasih dan Pemberi, manusia yang suka terlalu berlebihan mengasihi sesuatu atau seseorang dan ia seorang dermawan maka ia kan cenderung merasa paling mengasihi dan paling dermawan. Jika Tuhan maha segalanya, maka bagian mana manusia itu kuat dan kokoh pada bidang-bidang kehidupannya itu? Tugas manusia hanya berusaha memiliki idealisme yang membebaskan sambil juga mesti realistis dengan kondisi hidup yang ada. Jalani saja dulu, berusaha keras di tengah hidup yang memang sudah keras, dan ubah sesuai cita-cita. Jika tidak sesuai cita-cita? Syukuri selagi baik dan masih bisa bernafas untuk beramal saleh”. Tutupku dengan seolah-olah serius menyampaikan gagasan di tengah situasi pertemuan formal.

“Demikianlah, kajian singkat dari kawan saya tadi. Mudah-mudahan jamaah sekalian mengambil hikmah dan pelajaran dari pengajian kita kali ini. Aamiin. Jangan ke mana-mana, tetap dii.. Kiyai blablablaa!”. Kami sama-sama tertawa lepas sambil berjabat tangan, tak lupa berpelukan tanda jiwa kami yang juga sama-sama masih rentan. Hahaha

*) Penulis pernah menjadi Tukang Cuci Piring di salah satu Hotel, Direktur Eksekutif Salaja Pustaka Institute

Facebook Comments
ADVERTISEMENT