Home Mimbar Ide Islam dan Kesetaraan Gender

Islam dan Kesetaraan Gender

0
Advertisement

Oleh : Roki Sugara*

MataKita.Co, OPINI –Istilah gender berasal dari Bahasa inggris “Gender” artinya kelompok kata yang mempunyai sifat maskulin, feminis, neutron (netral). Antara gender dan sex (perbedaan jenis kelamin) mempunyai perbedaan, dimana jenis kelamin (sex) antara perempuan dan laki-laki adalah kodrat dari Tuhan. Sedangkan gender adalah pandangan, keyakinan yang dibentuk masyarakat tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan bertingkah laku maupun berpikir, jadi gender pure merupakan bentukan budaya dan sejarah panjang umat manusia yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai kesadaran manusia.

Berbicara mengenai gender, sering kita mendengar isu “Kesetaraan Gender” yang secara umum menuntut persamaan hak antar manusia baik laki-laki ataupun perempuan. Dalam sejarahnya, banyak terjadi ketimpangan dan diskriminasi terhadap hak kemanusiaan, terkhusus perempuan.

Perempuan seringkali hanya dipandang sebagai manusia kelas dua, yang perannya hanya pada tataran domestik. Mengapa saya katakan demikian? kita bisa lihat semisal di Indonesia partisipasi perempuan dalam bidang politik masih sangat minim. Dalam ranah pengambilan keputusan, baik itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, laki-laki masih mendominasi. Bahkan kalau kita menelisik ke pedesaan, kita masih akan mendapati perempuan-perempuan yang harus mengubur mimpinya karena suburnya anggapan bahwa setinggi apapun pendidikan perempuan, tugasnya nanti tetap pada tataran melahirkan, menyusui, merawat dan urusan rumah tangga lainnya.

Perempuan juga seringkali hanya dianggap sebagai objek seksual sehingga banyak terjadi kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan. Sepanjang pandemi Covid 19 ini, misalnya. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menunjukkan adanya peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan bahkan dalam lingkup keluarga atau yang biasa dikenal dengan istilah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Per 1 januari hingga 6 November 2020 saja terdapat 5.573 kasus dan 3.419 di antaranya merupakan kasus KDRT. Angka yang sudah tinggi ini pun dikhawatirkan belum menunjukkan jumlah kasus sebenarnya karena tidak semua perempuan punya kesempatan dan keberanian untuk melapor.

Berbagai ketimpangan dan ketidakadilan ini sudah berlangsung berabad-abad yang lalu. Budaya patriarki yang tertanam dalam masyarakat kita turut melestarikan kesenjangan ini. Bahkan, para feminis barat menganggap bahwasanya agama juga punya andil dalam merawat patriarki, termasuk di dalamnya agama Islam. Islam dipandang sebagai agama misoginis yang tidak memberikan kebebasan terhadap perempuan.

Lantas benarkah Islam seperti itu? misoginis dan melegalkan patriarki?

Tentu sebagai umat Islam kita meyakini bahwa Islam adalah agama rahmat yang dibawa Nabi Muhammad untuk umat manusia. Kehadirannya bukan hanya memperbaiki tata cara beribadah kepada Tuhan, namun juga mengatur ulang tatanan sosial yang rancu pada masa pra-Islam (jahiliyah).

Menurut yang digambarkan dalam surah An-Nahl,  Masyarakat Arab pra Islam terkhususnya di Mekkah, mempunyai mindset bahwa anak perempuan adalah aib. Maka ketika lahir seorang anak perempuan dari mereka, sesegera mungkin dikubur hidup-hidup. Kebiasaan yang bertolak belakang dengan kemanusiaan inilah yang kemudiaan hari diperjuangkan oleh Nabi Muhammad di samping perjuangannya menegakkan kalimat Allah SWT.

Islam hadir membawa semangat persamaan hak, sebab dalam perspektif Islam, manusia diciptakan sama. Adapun yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah tingkat ketaqwaannya kepada Allah. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 13.

Islam mendorong hadirnya kerja sama antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek, baik dalam tataran internal rumah tangga maupun eksternal. Tidak ada superioritas dan subordinasi (diunggulkan dan direndahkan). Masing-masing punya potensi yang bisa dikembangkan.

Bahkan jika kita melirik pada sejarah perjuangan Umat Islam, akan banyak nama pejuang muslimah yang bisa ditemukan lantaran turut serta dalam membela agama di medan perang. Contohnya seperti Ummu Umarah atau yang dikenal dengan Nusaibah binti Ka’ab yang turut serta dalam perang Uhud, Khaulah binti Azur dalam perang Perang Yarmuk melawan bangsa Romawi, juga Hindun binti Utbah.

Tidak berhenti sampai di medan perang, banyak pula tokoh muslimah dalam Islam yang turut mendukung perjuangan melalui hartanya. Selain itu banyak pula yang turut menjadi perawi hadist.

Maka ketika melihat isu kesetaraan gender dari perspektif Islam tentu kita akan sadar bahwa jauh sebelum perjuangan feminis barat telah hadir agama Islam yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan mengangkat kedudukan perempuan.

Anggapan bahwa Islam melegalkan patriarki dan merupakan agama misoginis tidak bisa begitu saja dibenarkan sebab tidak sesuai dengan semangat hadirnya Islam untuk memperbaiki tatanan sosial.

*) Penulis adalah Sekretaris Umum PK IMM FAI Universitas Muslim Indonesia

Facebook Comments
ADVERTISEMENT