Matakita.co, Makassar- Komunitas Etno Adventure sukses menyelenggarakan Workshop 2 EtnoColiving dengan tema “Pelatihan Teknis Insentif dalam Produksi dan Pengolahan Limbah Sisik Ikan Menjadi Bag Charm (Gantungan Tas)” pada Minggu, 24 Mei 2026, di Sekolah Pesisir Paotere, Makassar.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar interaktif bagi ibu-ibu pesisir untuk mengolah limbah perikanan menjadi produk kriya kreatif yang memiliki nilai estetika dan ekonomi. Melalui pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada seluruh proses pengolahan, mulai dari pengenalan bahan baku, teknik produksi, hingga pengembangan produk agar memiliki nilai jual.
Workshop ini merupakan langkah nyata Etno Adventure dalam mendorong pemberdayaan masyarakat pesisir agar lebih inovatif, mandiri, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Pada kesempatan ini, Etno Adventure menghadirkan Ade Miranti Devana dari Harsa Concept Store sebagai pemateri utama. Ade membimbing peserta secara langsung dalam mengolah sisik ikan menjadi bag charm yang modis dan bernilai jual. Antusiasme para peserta terlihat selama proses pelatihan berlangsung, terutama saat mempraktikkan setiap tahapan pembuatan produk.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala Bidang Pemberdayaan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel, Indriastuti Saggaf, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran perempuan dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
“Ibu-ibu merupakan pilar utama dalam menjaga ketahanan keluarga. Kami sangat mengapresiasi Etno Adventure yang telah menginisiasi kegiatan yang sangat baik ini. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan cara membuat produk kreatif, tetapi juga bagaimana menciptakan pasar dan memasarkannya. Kami mendorong masyarakat untuk menghasilkan produk yang layak jual dan dapat dikembangkan lebih luas, termasuk melalui pemanfaatan online store. Limbah sisik ikan ini terbukti dapat diubah menjadi produk kriya yang menarik dan bernilai komersial,” ujar Indriastuti Saggaf.
Founder Etno Adventure, Ahmad Yusuf Suandi, menjelaskan bahwa program ini mengusung misi untuk mengangkat potensi lokal yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai guna.
“Sisik ikan sebenarnya merupakan bagian dari identitas kultural dan geografis masyarakat Sulawesi yang hidup di wilayah pesisir. Melalui program EtnoColiving ini, kami ingin mengubah paradigma tersebut. Sisik ikan yang biasanya dibuang dan menjadi limbah kini dapat diolah menjadi produk kreatif bernilai estetika tinggi yang dapat diperjualbelikan serta menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat,” jelas Ahmad Yusuf Suandi.
Melalui Workshop 2 EtnoColiving, Etno Adventure menunjukkan bahwa sinergi antara kepedulian lingkungan, kreativitas, dan pemberdayaan komunitas mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Selain membantu mengurangi limbah lingkungan, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong kemandirian ekonomi keluarga melalui pengembangan produk lokal yang berkelanjutan. (**)








































