MataKita.co, Makassar — Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulawesi Selatan terus mendorong keterlibatan generasi muda lintas iman dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui aksi nyata. Salah satunya dengan menggelar kegiatan Eco Action: Pelatihan Ecobrick yang berlangsung di Red Corner Makassar, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wadah edukasi bagi pemuda dari berbagai latar belakang agama untuk membangun kesadaran bersama dalam mengatasi persoalan sampah plastik yang kian mengkhawatirkan. Melalui pendekatan kolaboratif dan nilai-nilai spiritual, peserta diajak untuk bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan melalui metode ecobrick.
Focal Point Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulsel, Elbu Bachtiar, mengatakan bahwa gerakan ini merupakan inisiatif yang digagas oleh Abdul Mu’ti sebagai upaya menyatukan anak muda lintas iman dalam menjaga lingkungan hidup.
Menurut Elbu, program Eco Bhinneka Muhammadiyah telah berjalan selama satu tahun di Sulawesi Selatan dan menghasilkan berbagai kegiatan strategis, mulai dari pengorganisasian pemuda, diskusi, riset hingga diseminasi hasil kajian kepada pemerintah.
“Banyak agenda yang telah dikerjakan, mulai dari penggalangan anak muda, diskusi, riset hingga diseminasi. Salah satu hasil diseminasi bahkan telah menjadi rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Gowa terkait pengelolaan wisata pendakian,” ujarnya.
Melalui kegiatan Eco Action tersebut, pihaknya ingin mendorong perubahan perilaku yang dimulai dari diri sendiri, khususnya dalam mengelola sampah plastik rumah tangga.
“Kami menekankan agar semua anak muda membangun kebiasaan baik mengurus sampah plastik sendiri, salah satunya dengan memanfaatkannya menjadi ecobrick,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Arifuddin Ahmad menegaskan bahwa seluruh agama memiliki nilai dasar yang sama dalam menjaga lingkungan hidup.
Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar itu menjelaskan bahwa manusia diberi kewenangan untuk memanfaatkan alam, namun tidak untuk mengeksploitasinya secara berlebihan.
“Kita sebagai manusia memang diberikan kewenangan untuk mengeksplorasi, tetapi tidak untuk mengeksploitasi. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia,” kata Arifuddin.
Ia mencontohkan berbagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan melalui kreativitas dan ilmu pengetahuan, seperti batang pisang yang dapat diolah menjadi pakan ternak sehingga memiliki nilai tambah.
Menurutnya, menjaga lingkungan membutuhkan pola pikir yang menempatkan alam sebagai mitra kehidupan, bukan sekadar objek eksploitasi. Ia juga mengkritik berbagai gerakan lingkungan yang hanya bersifat seremonial tanpa tindak lanjut yang berkelanjutan.
“Yang penting sudah difoto, selesai. Jatuhnya hanya seremonial, tetapi tidak menyentuh substansi,” ujarnya.
Arifuddin berharap generasi muda yang tergabung dalam Eco Bhinneka Sulsel mampu menjadi motor penggerak perubahan dalam upaya pelestarian lingkungan di masa depan.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan ecobrick yang dipandu oleh instruktur Aliansi Ecobrick Global (Global Ecobrick Alliance/GEA), Hilman.
Dalam pemaparannya, Hilman menjelaskan bahwa ancaman sampah plastik kini tidak hanya terlihat dari tumpukan limbah di tempat pembuangan akhir, tetapi juga dari munculnya mikroplastik yang telah mencemari lingkungan dan rantai makanan manusia.
Menurutnya, metode ecobrick merupakan salah satu langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi kebocoran sampah plastik ke lingkungan.
“Gerakan ini strategis diterapkan di tingkat rumah tangga, sekolah, dan komunitas pemuda. Sebagian besar sumber mikroplastik di perairan Indonesia berasal dari sampah plastik domestik yang tidak terkelola dengan baik,” jelasnya.
Hilman menambahkan bahwa edukasi ecobrick bertujuan membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab setiap individu.
“Jika setiap rumah tangga mampu mengamankan plastik saset dan kresek mereka ke dalam wadah ecobrick, kita dapat menekan laju akumulasi mikroplastik di alam secara signifikan,” katanya.
Pelatihan tersebut diikuti oleh perwakilan berbagai organisasi kepemudaan lintas iman, di antaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Permabudhi, Pemuda Muhammadiyah, Perdik, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Nasyiatul Aisyiyah.
Melalui kegiatan ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulsel berharap dapat memperkuat kesadaran ekologis generasi muda sekaligus membangun kolaborasi lintas iman dalam menghadapi krisis sampah plastik dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.







































