Oleh : Muh Munawwir Wahab
(Ketua Bidang Kader PC IMM Maros 2025-2026)
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah kembali disambut dengan penuh antusias oleh umat Islam di berbagai daerah. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, jalan santai dan pawai ta’aruf digelar, serta berbagai kegiatan keagamaan dan sosial dilaksanakan untuk menyemarakkan datangnya tahun baru dalam kalender Islam.
Pemandangan ini tentu menghadirkan optimisme tersendiri. Di tengah berbagai dinamika sosial yang sering kali memperlihatkan perbedaan pandangan, kepentingan, bahkan perpecahan, momentum 1 Muharram justru menunjukkan bahwa umat Islam masih memiliki semangat kebersamaan yang kuat. Berbagai kelompok, organisasi, dan lapisan masyarakat dapat berkumpul dalam satu tujuan, menyambut tahun baru Hijriah dan menghidupkan syiar Islam dengan penuh kegembiraan.
Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa persatuan sesungguhnya bukan sesuatu yang sulit diwujudkan. Ketika umat mampu berjalan bersama dalam kegiatan-kegiatan yang membawa nilai kebaikan, maka semangat yang sama seharusnya juga dapat diwujudkan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjatuhkan, melainkan menjadi ruang untuk saling melengkapi dan menguatkan.
Persatuan menjadi semakin penting di tengah tantangan zaman yang terus berkembang. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, persaingan global, hingga berbagai persoalan yang dihadapi bangsa menuntut hadirnya masyarakat yang tidak hanya kuat secara individu, tetapi juga kokoh dalam kebersamaan. Sebab tidak ada kemajuan yang dapat dicapai tanpa persatuan, dan tidak ada peradaban besar yang lahir dari masyarakat yang gemar berpecah belah.
Namun, Tahun Baru Hijriah tidak boleh dimaknai hanya sebagai perayaan tahunan atau pergantian angka dalam kalender. Di balik peristiwa hijrah Rasulullah SAW tersimpan pesan besar tentang keberanian untuk berubah, memperbaiki diri, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah transformasi. Ia mengajarkan bagaimana sebuah perubahan besar dimulai dari keberanian meninggalkan keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik. Dari kelemahan menuju kekuatan, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari keterpecahan menuju persatuan.
Karena itu, setiap pergantian tahun Hijriah seharusnya menjadi momentum muhasabah bagi setiap individu. Kita diajak untuk melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, mengevaluasi kekurangan yang masih ada, sekaligus menyusun langkah-langkah perbaikan untuk masa depan. Sebab sejatinya kehidupan adalah proses pertumbuhan yang tidak pernah berhenti.
Sebagai Ketua Bidang Kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maros, saya memandang bahwa semangat hijrah memiliki relevansi yang sangat kuat dengan proses pembentukan manusia yang unggul. Dalam kaderisasi, setiap tahapan pembinaan bertujuan melahirkan pertumbuhan. Seseorang tidak boleh berhenti pada satu titik, melainkan harus terus meningkatkan kualitas dirinya, memperluas wawasan, memperkuat karakter, dan memperbesar kontribusinya bagi masyarakat.
Namun nilai tersebut tidak hanya berlaku dalam dunia kaderisasi. Semangat bertumbuh merupakan kebutuhan setiap manusia. Seorang pelajar harus bertumbuh dalam ilmunya. Seorang pendidik harus bertumbuh dalam dedikasinya. Seorang pemimpin harus bertumbuh dalam kualitas kepemimpinannya. Seorang pekerja harus bertumbuh dalam profesionalismenya. Dan masyarakat secara keseluruhan harus bertumbuh dalam kepedulian sosial, solidaritas, serta semangat gotong royong.
Nilai ini sejalan dengan sebuah nasihat yang sangat populer di kalangan umat Islam:
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.”
Pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia terbaik bukanlah mereka yang merasa telah mencapai puncak kesempurnaan, melainkan mereka yang terus berusaha memperbaiki dirinya dari waktu ke waktu. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Sebab pertumbuhan adalah tanda kehidupan, sedangkan berhenti berkembang adalah awal dari kemunduran.
Lebih jauh lagi, semangat hijrah tidak hanya berbicara tentang perubahan pada tingkat individu, tetapi juga tentang pembangunan peradaban. Sejarah mencatat bahwa hijrah Rasulullah SAW melahirkan masyarakat Madinah yang dibangun di atas fondasi persaudaraan, keadilan, ilmu pengetahuan, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Dari kota itulah lahir peradaban Islam yang kemudian memberikan pengaruh besar bagi perkembangan dunia.
Pelajaran tersebut tetap relevan hingga hari ini. Peradaban yang maju tidak lahir begitu saja. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bekerja sama dalam kebaikan. Peradaban tidak dibangun oleh orang-orang yang sibuk memperbesar perbedaan, tetapi oleh mereka yang mampu menyatukan potensi untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Karena itu, semangat hijriah yang hari ini terlihat dalam berbagai kegiatan masyarakat hendaknya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Semangat tersebut harus diterjemahkan dalam tindakan nyata; memperkuat persaudaraan, meningkatkan kualitas pendidikan, membangun budaya literasi, menghidupkan kepedulian sosial, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi umat dan bangsa.
Membangun peradaban bukanlah pekerjaan satu generasi, apalagi satu kelompok. Ia adalah kerja panjang yang membutuhkan kesadaran kolektif, semangat persatuan, dan komitmen untuk terus bertumbuh. Peradaban yang kuat lahir dari individu-individu yang terus memperbaiki diri, keluarga yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, masyarakat yang menjaga persaudaraan, serta generasi muda yang berani belajar, berkarya, dan mengabdi.
Tahun Baru Hijriah 1448 H menjadi momentum yang tepat untuk memperbarui komitmen tersebut. Bukan hanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang lebih kuat dan lebih bermanfaat.
Sebab pada akhirnya, hakikat hijrah bukan hanya berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain. Hijrah adalah perjalanan menuju kualitas diri yang lebih baik, menuju persatuan yang lebih kokoh, dan menuju peradaban yang lebih berkemajuan.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Mari menjadikan momentum ini sebagai awal untuk terus bertumbuh, menjaga persatuan, dan bersama-sama membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kemajuan.







































