Beranda Kampus Mahasiswa KKN Unhas Digitalisasi Cagar Budaya Tosora, Peta Fisik Terhubung Informasi Sejarah

Mahasiswa KKN Unhas Digitalisasi Cagar Budaya Tosora, Peta Fisik Terhubung Informasi Sejarah

0

MataKita.co, Wajo — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116, Muh. Rifki Andika Pratama, mengembangkan digitalisasi cagar budaya di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo.

Program bertajuk “Digitalisasi Cagar Budaya Desa Tosora” tersebut memadukan peta fisik dan teknologi digital untuk memudahkan masyarakat, wisatawan, hingga peneliti memperoleh informasi mengenai situs-situs bersejarah di wilayah tersebut.

Salah satu produk yang dihasilkan berupa peta fisik berukuran 2 x 1 meter yang ditempatkan di kawasan sekitar Masjid Tua Tosora. Peta itu memuat persebaran sejumlah titik cagar budaya dan menjadi media informasi awal bagi masyarakat maupun pengunjung.

Penyusunan peta diawali dengan observasi dan dokumentasi langsung terhadap situs-situs cagar budaya. Mahasiswa juga melakukan wawancara dengan pemerintah desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, juru kunci, dan warga setempat.

Data yang dihimpun kemudian diolah menjadi informasi mengenai lokasi, dokumentasi visual, hingga sejarah masing-masing situs.

Untuk memperluas akses informasi, peta fisik dilengkapi QR Code yang dapat dipindai menggunakan telepon seluler. QR Code tersebut terhubung dengan peta digital cagar budaya Desa Tosora yang dikembangkan melalui Google My Maps dan ArcGIS.

Melalui peta digital itu, pengunjung dapat mengetahui persebaran situs sekaligus mengakses foto, deskripsi sejarah, dan informasi mengenai masing-masing cagar budaya. Fitur navigasi juga memungkinkan pengunjung menemukan lokasi situs yang ingin didatangi.

Muh. Rifki Andika Pratama mengatakan, digitalisasi tersebut dirancang untuk menjembatani informasi sejarah dengan kebutuhan masyarakat dan pengunjung ketika berada di kawasan cagar budaya Tosora.

“Program kerja ini bertujuan untuk memudahkan berbagai pihak yang ingin mengeksplorasi keberagaman cagar budaya di Desa Tosora, mulai dari masyarakat lokal, pendatang, hingga peneliti,” kata Rifki.

Menurut dia, keberadaan peta fisik dan digital memiliki fungsi yang saling melengkapi.

“Peta fisik menjadi media informasi di lokasi, sementara peta digital memberikan informasi yang lebih lengkap dan dapat membantu pengunjung menemukan situs secara langsung,” ujarnya.

Tak hanya terhubung dengan peta digital, peta fisik tersebut juga dilengkapi QR Code menuju Virtual Tour Cagar Budaya Desa Tosora. Virtual Tour merupakan program kerja utama kelompok KKN-T Unhas yang dikembangkan untuk memperkenalkan situs-situs bersejarah Tosora secara lebih visual.

Dengan skema tersebut, peta fisik menjadi penghubung antara program individual mahasiswa dengan produk digital yang dikembangkan kelompok KKN.

Dalam penyusunan informasi sejarah, mahasiswa turut menghimpun tradisi lisan, cerita sejarah, dan keterangan masyarakat setempat. Informasi tersebut kemudian disusun dengan membedakan sumber sejarah tertulis, hasil wawancara, serta cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

Perpaduan peta fisik, QR Code, peta digital, dan Virtual Tour diharapkan mempermudah masyarakat mengenali warisan budaya Tosora sekaligus memperluas akses terhadap informasi sejarah desa.

Digitalisasi tersebut juga diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kekayaan cagar budaya Tosora kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendukung dokumentasi warisan sejarah setempat.

Facebook Comments Box