Oleh : M. Azhar
(Guru dan Pegiat Literasi Kampus Gagasan)
Organisation For Economic Co- operation and Development (OECD) baru-baru ini merilis hasil PISA 2025 pada tanggal 8 september 2026 kemarin. PISA sendiri merupakan Programe For International Student Assesment, dimana hasilnya memberikan gambaran tentang kemampuan murid yang berumur 15 tahun pada aspek membaca, matematika, dan sains di berbagai negara. Terdapat 760.000 siswa dari 91 negara yang diukur (Kompasiana,18/09/2026). Dilansir dari laman kompas.com, Indonesia sendiri memperoleh nilai 389 untuk sains, 364 matematika, dan 365 dalam aspek membaca .
Capaian ini memposisikan Indonesia masih dibawah Malaysia, thailand, dan Vietnam (OECD,2026). Sekaligus memberikan potret wajah pendidikan Indonesia yang masih mengalami tantangan yang serius. Murid di Indonesia masih kesulitan dalam memahami bacaan yang kompleks, menggunakan konsep matematika dalam kehidupan nyata, serta mengaitkan pengetahuan sains dengan fenomena sehari-hari. Hal tersebut tentunya masih sangat jauh dari cita-cita Presiden Prabowo yang menarasikan pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk mempersiapan murid dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Presiden prabowo disebuah acara wawancara bersama para wartawan senior di istana Negara menyatakan bahwa pendidikan sebagai investasi jangka panjang,dimana guru sebagai ujung tombak harus diberdayakan dan terbebas dari beban administratif, serta kurikulum harus relevan dengan kebutuhan zaman. Namun, pada prakteknya kita masih melihat guru-guru yang masih disibukkan oleh persoalan adminstratif di sekolah. Beban mata pelajaran yang banyak dan padat, serta pembelajaran yang berorientasi pada hasil semata. Jika persoalan-persoalan tersebut belum dapat kita tuntaskan. Maka rasanya mustahil, pendidikan dinegara ini akan maju dan berkembang.
Hasil PISA tahun 2025 sejatinya dijadikan sebagai refleksi untuk menata kembali pendidikan di negara kita. Guru yang sejatinya berperan sebagai agen utama harus dimerdekakan dari beban administratif sehingga bisa lebih fokus dalam mengajar. Perangkat pembelajaran harus lebih disederhanakan dan memuat hal-hal yang lebih esensial. Alokasi anggaran pendidikan perlu dimaksimalkan untuk peningkatan kompetensi guru terutama yang berada di daerah-daerah terpencil. Akses pengembangan kompetensi harus dibuka secara adil dan merata
Selain itu, kurikulum yang berlaku selama ini perlu ditinjau kembali. Mata pelajaran tidak boleh terlalu banyak sehingga membebani murid disekolah. Jika memungkinkan, perlu dirumuskan ulang formulasi materi setiap pelajaran agar fokus pada literasi, numerasi dan sains. Perubahan kurikulum juga harus diatur secara ketat namun tetap fleksibel. Jangan lagi muncul istilah ganti menteri ganti kurikulum. Sebab perubahan kurikulum berpotensi membingungkan guru dan juga siswa selaku subjek dan objek pembelajaran. Assesmen hasil belajar jangan lagi menitikberatkan pada aspek kognitif semata, tetapi lebih kepada bagaimana murid mengimplementasikan pengetahuan pada kehidupan nyata di lingkungannya. Hal lainnya yang juga penting adalah menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini. Lingkungan keluarga harus didorong untuk menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan dan memupuk budaya membaca pada murid.








































