Oleh : Abdul Hafid Paronda*
Bangunan ikonik Kota Makassar. Demikian statemen yang cukup pantas untuk masjid yang berlokasi di Pantai Losari itu. Unik, karena adanya hanya di Makassar, juga karena Qubahnya yang berjumlah 99 buah.
Di hari ke-3 Lebaran, saya sempat menyaksikan wisatawan domestik yang hiruk pikuk. Berpose, bikin video, serta memastikan bahan dokumentasinya sudah tersimpan dalam file gadget. Juga, shalat yang oleh banyak pengunjung ditunaikan di situ.
Mungkin karena pembangunannya yang belum selesai, maka Standard Operational Procedure (SOP) nya belum lengkap. Begitu bangganya, tidak sedikit pengunjung yang berseliweran foto bersama, termasuk di bagian utama tempat shalat, walau busana mereka sangat bersahaja. Bagi komunitas tertentu, fenomena yang disebut terakhir ini bisa dianggap kurang pantas untuk sebuah masjid sebagai rumah ibadah. Begitulah faktanya, destinasi wisata lebih dominan ketimbang destinasi media ibadah.
Untuk memantik kualitas kehidupan warga Makassar, paling tidak, ada 2 aspek strategis yang perlu ditata ke depan. Pertama, menjadikan Masjid Qubah 99 sebagai Pusat Wisata Spiritual yang signifikan. Dengan begitu, maka setiap pengunjung diharapkan menyerap pencerahan kehambaan, khususnya terkait fungsi shalat sebagai media komunikasi dengan Allah SWT.
Kedua, mendudukkan secara logis nuansa Eko Spiritual yang hadir di Pantai Losari. Hal ini tidak bisa diabaikan, karena masjid QUBAH 99 itu berada di area mantan pantai Losari yang telah direklamasi, dalam kisaran Center Point of Indonesia (CPI). Di satu sisi, masjid adalah pusat spiritualitas, sementara pada sisi yang lain, reklamasi berdampak pada perusakan ekologis, khususnya kehancuran ekosistem di lokasi tersebut.
Al Qur’an sangat menekankan pentingnya aspek eko spiritual diwujudkan di seantero bumi sebagai Gerakan Kerahmatan Semesta. Alam semesta sebagai karunia Ilahi perlu ditata pelestariannya dalam harmoni kemanusiaan bermartabat. Alam adalah amanah pencerahan kehambaan, pengawal kesehatan, dan pemakmur kesejahteraan yang seyogianya direspons dengan sikap syukur aktual. Semoga Pemprov Sulsel bisa mendamaikan aspek tersebut secara adil, konstruktif, dan transformatif.
Pantai Losari, 4 Mei 2022
*) Penulis adalah alumni IMM Unhas








































