Matakita.co, Gorontalo – Rangkaian kegiatan Baitul Arqam Dasar yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Gorontalo semakin semarak dengan pelaksanaan dialog panel bertajuk “Negarawan Muda: Merawat Nalar Etika Politik dan Suksesi Kepemimpinan 2029.” Forum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas intelektual kader dalam merespons dinamika politik nasional menuju tahun politik 2029.
Dialog menghadirkan Ketua Fokal IMM Provinsi Gorontalo, Ir. H. Anas Jusuf, serta akademisi dan praktisi komunikasi politik Erwin Ismail sebagai narasumber. Kegiatan dipandu langsung oleh Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Gorontalo, Zainuddin.
Dalam pengantarnya, Zainuddin menegaskan bahwa Baitul Arqam tidak hanya berorientasi pada penguatan ideologi kader, tetapi juga menjadi ruang membangun nalar kritis generasi muda Muhammadiyah dalam membaca arah politik bangsa.
“Dialog ini menjadi ruang strategis untuk menyiapkan kader sebagai calon pemimpin masa depan yang memiliki integritas dan visi kebangsaan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Anas Jusuf menekankan bahwa konsep negarawan muda tidak berhenti pada kemampuan politik praktis semata, melainkan harus dibangun di atas fondasi integritas, etika, dan komitmen terhadap kepentingan umat dan bangsa.
“Negarawan adalah mereka yang mampu melampaui kepentingan sesaat dan menghadirkan kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan,” katanya.
Sementara itu, Erwin Ismail mengangkat berbagai tantangan demokrasi di era digital menjelang suksesi kepemimpinan 2029. Ia menyoroti menguatnya polarisasi, disinformasi, serta krisis etika politik di tengah dominasi media sosial.
Menurutnya, tantangan politik ke depan tidak hanya berkaitan dengan perebutan kekuasaan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas demokrasi agar tetap sehat dan berintegritas.
“Politik harus mengedepankan gagasan dan menjadi penyejuk demokrasi. Pemuda harus menghindari praktik politik kebencian yang justru merusak tatanan sosial,” ujarnya.
Dari perspektif ilmu komunikasi, Erwin menilai komunikasi politik harus bersifat edukatif, menjunjung tinggi kebenaran, serta menolak hoaks dan manipulasi informasi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga nilai kejujuran, transparansi, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap perbedaan sebagai fondasi demokrasi yang sehat.
Dalam momentum dialog tersebut, Erwin Ismail juga menunjukkan dukungannya terhadap pengembangan sumber daya kader dengan memberikan beasiswa pendidikan S2 kepada salah satu kader Muhammadiyah bernama Agung yang berprofesi sebagai karyawan swasta. Langkah tersebut mendapat apresiasi peserta sebagai bentuk nyata penguatan kapasitas kader melalui aksi konkret.
Dialog berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan terkait etika politik, tantangan demokrasi digital, hingga strategi regenerasi kepemimpinan nasional ke depan.
Melalui forum ini, Baitul Arqam Dasar tidak hanya menjadi ruang penguatan ideologi, tetapi juga wahana pembentukan kesadaran kritis dan kepemimpinan visioner bagi kader muda Muhammadiyah di Provinsi Gorontalo dalam menyongsong suksesi kepemimpinan 2029 yang lebih berintegritas dan berkemajuan.









































