Oleh : Adam Malik
(Peneliti Profetik Institute)
Fatherless itu adalah kondisi ketika figur ayah absen, baik secara fisik maupun emosional, sehingga anak tumbuh tanpa kehadiran nyata sosok yang semestinya menjadi penopang, teladan, sekaligus pembentuk arah. Istilah ini bukan sekadar label sosial, melainkan fenomena psikologis yang berdampak langsung pada perkembangan identitas, emosi, dan relasi individu. Dalam banyak kasus, fatherless tidak selalu berarti kehilangan karena kematian atau perceraian, tetapi juga kehadiran yang kosong secara emosional.
Di Indonesia, fenomena ini bukan hal baru. Data menunjukkan sekitar 15,9 juta anak hidup tanpa keterlibatan ayah yang aktif. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,4 juta anak benar-benar tidak tinggal bersama ayahnya, sementara sisanya tumbuh bersama ayah yang secara fisik ada, tetapi tidak hadir secara emosional. Mereka hidup dalam satu rumah, tetapi tanpa relasi yang bermakna.
Ini penting ditegaskan bahwa fatherless sering kali bukan tentang kepergian, melainkan tentang ketidakpedulian yang dianggap normal. Ayah hanya menuangkan hasrat lalu pergi tanpa tanggung jawab. Bahkan tanggung jawab nafkah materil juga tidak di pedulikan lagi.
Dalam banyaak keluarga, peran ayah direduksi menjadi penyedia kebutuhan ekonomi. Selama kebutuhan materi terpenuhi, peran dianggap selesai. Perspektif ini bermasalah karena perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik, tetapi juga oleh interaksi emosional yang konsisten. Anak tidak tumbuh dari uang. Ia tumbuh dari keterlibatan, dari komunikasi, dari validasi, dan dari kehadiran yang utuh.
Secara psikologis, absennya ayah berdampak pada struktur dasar kepribadian anak. Teori ekologi perkembangan yang dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner menekankan bahwa lingkungan keluarga inti merupakan sistem mikro yang paling berpengaruh dalam pembentukan identitas. Ketika salah satu elemen utama dalam sistem ini, yaitu ayah, tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka keseimbangan lingkungan terganggu.
Akibatnya, anak kehilangan salah satu sumber orientasi dalam memahami dunia. Anak kehilangan kompas kehidupan yang sebenarnya sangat ia butuhkan.
John Bowlby melalui teori attachment menjelaskan bahwa hubungan emosional antara anak dan orang tua membentuk pola keterikatan yang akan memengaruhi seluruh relasi di masa depan. Dalam kondisi fatherless, pola attachment cenderung berkembang menjadi tidak aman. Anak dapat mengalami anxious attachment, yaitu ketakutan berlebihan akan ditinggalkan, atau avoidant attachment, yaitu kecenderungan menghindari kedekatan emosional.
Dampaknya tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Pola ini terbawa hingga dewasa, memengaruhi cara individu membangun hubungan, mempercayai orang lain, dan memahami dirinya sendiri.
Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Cakrawala menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga fatherless cenderung memiliki pola interaksi sosial yang tidak stabil. Mereka lebih mudah menunjukkan perilaku agresif atau justru menarik diri. Dalam konteks pendidikan, guru sering kali menemukan siswa dengan masalah disiplin, kesulitan fokus, atau konflik dengan teman sebaya. Namun, akar masalahnya jarang ditelusuri hingga ke struktur keluarga.
Padahal, dalam banyak kasus, masalah tersebut berawal dari absennya figur ayah. Studi lain menunjukkan bahwa anak perempuan dengan pengalaman fatherless sering mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan terhadap laki-laki. Mereka bisa menjadi sangat waspada, atau sebaliknya, terlalu cepat terikat dalam hubungan yang tidak sehat. Ini bukan sekadar persoalan emosional, tetapi berkaitan dengan kebutuhan dasar akan rasa aman yang tidak terpenuhi.
Sementara itu, anak laki-laki yang tumbuh tanpa figur ayah menghadapi tantangan berbeda. Mereka kehilangan model peran dalam memahami identitas maskulinitas. Akibatnya, mereka cenderung mencari figur pengganti di luar rumah, seperti teman sebaya, tokoh publik, atau kelompok sosial tertentu. Pencarian ini tidak selalu berakhir positif. Dalam banyak kasus, mereka justru terpapar pada perilaku destruktif seperti penyalahgunaan zat, kekerasan, atau kenakalan remaja.
Penelitian dari Universitas Negeri Surabaya menemukan bahwa siswa dengan latar belakang fatherless lebih rentan terlibat dalam perkelahian, bolos sekolah, dan kesulitan dalam mengikuti aturan. Hal ini sejalan dengan teori perkembangan Erik Erikson yang menyatakan bahwa masa remaja adalah fase krisis identitas. Tanpa figur ayah, proses ini menjadi lebih kompleks dan sering kali berakhir dengan kebingungan, bukan kematangan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa kehadiran ayah secara fisik tidak selalu menjamin keterlibatan emosional. Banyak anak tumbuh bersama ayah yang dingin, otoriter, atau tidak komunikatif. Dalam kondisi ini, anak tetap mengalami fatherless secara psikologis. Mereka hidup bersama seseorang yang secara struktural adalah ayah, tetapi tidak berfungsi sebagai figur yang memberi dukungan emosional. Fenomena ini sering disebut sebagai “ayah biologis, bukan ayah emosional.”
Dampaknya tidak kalah serius. Anak dalam situasi ini cenderung mengalami kebingungan emosional. Mereka tidak tahu apakah harus mendekat atau menjaga jarak. Mereka tidak memahami apakah ketidakpedulian yang mereka rasakan berasal dari diri mereka sendiri atau dari hubungan yang memang tidak sehat.
Erik Erikson dalam teorinya tentang tahap perkembangan menekankan pentingnya pembentukan basic trust pada masa awal kehidupan. Ketika ayah tidak berperan dalam proses ini, anak cenderung tumbuh dengan masalah kepercayaan. Mereka sulit mempercayai orang lain, bahkan dalam beberapa kasus, tidak percaya pada diri sendiri.
Masalah ini sering kali tidak terlihat secara langsung. Ia berkembang secara perlahan dan menjadi bagian dari pola hidup individu.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak memiliki figur ayah cenderung lebih sulit beradaptasi secara sosial. Mereka lebih mudah cemas, lebih sering menangis, dan menunjukkan ketergantungan yang tinggi. Ini bukan sekadar perilaku manja, melainkan indikasi dari gangguan pada sistem keterikatan emosional.
Meski demikian, tidak semua anak dalam kondisi fatherless mengalami kegagalan perkembangan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya faktor resiliensi yang memungkinkan anak tetap tumbuh secara sehat. Dukungan dari ibu, keluarga besar, atau lingkungan sosial dapat menjadi pengganti parsial dari peran ayah.
Anak-anak dengan dukungan emosional yang konsisten cenderung mampu mengembangkan kepercayaan diri, empati, dan kemandirian. Mereka belajar menghadapi kesulitan sejak dini, dan dalam beberapa kasus, mampu membangun identitas yang kuat.
Namun, penting untuk dipahami bahwa resiliensi bukanlah solusi, melainkan respons terhadap masalah. Keberhasilan sebagian anak dalam kondisi fatherless tidak dapat dijadikan pembenaran atas kegagalan peran ayah. Ini bukan tentang anak yang berhasil bertahan, tetapi tentang sistem keluarga yang gagal menjalankan fungsinya secara utuh.
Dalam masyarakat, kritik terhadap absennya peran ayah masih relatif minim. Ibu sering kali dibebani tanggung jawab ganda, sementara ayah tetap diposisikan sebagai kepala keluarga meskipun tidak menjalankan peran secara menyeluruh. Standar ini menciptakan ketimpangan dalam ekspektasi sosial.
Seorang ayah tidak cukup hanya hadir sebagai penyedia ekonomi. Ia memiliki tanggung jawab psikologis yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh pihak lain. Ayah berperan dalam membentuk rasa aman, memberi validasi, dan menjadi referensi dalam memahami dunia sosial. Ketika peran ini diabaikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas.
Anak-anak yang tumbuh tanpa arah cenderung membawa ketidakstabilan ke dalam lingkungan sosial. Mereka kesulitan membangun hubungan yang sehat, menghadapi konflik, dan mengambil keputusan yang matang. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, fatherless bukan hanya isu keluarga, tetapi juga isu sosial.
Fenomena ini mencerminkan kegagalan kolektif dalam memahami peran ayah secara utuh. Budaya yang menempatkan ayah sebagai figur otoritas tanpa menuntut keterlibatan emosional perlu dikaji ulang. Tanggung jawab tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga dari kualitas hubungan yang dibangun.
Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan ayah yang ada, tetapi ayah yang hadir. Kehadiran ini bukan sekadar fisik, tetapi juga emosional, kognitif, dan sosial. Ayah yang hadir adalah ayah yang mendengar, memahami, dan terlibat dalam proses tumbuh kembang anak. Tanpa itu, anak tidak hanya kehilangan figur. Mereka kehilangan arah.







































