Home Literasi Game Online dan Kekerasan Anak*

Game Online dan Kekerasan Anak*

27

Oleh : Ayu Friska Amelia*

Game kini menjadi salah satu wujud aktifitas yang dilakukan anak-anak dan remaja sebagai hal yang menyenangkan dan menjadi kebiasaan bagi mereka sehingga muncul keinginan untuk terus bermain dan pada akhirnya menjadi kecanduan. Seiring berjalannya waktu, perkembangan jenis game kian makin modern salah satunya ialah Game Online. Menurut Eddy Liem, Direktur Indonesia Gamer, Komunitas Pecinta Games di Indonesia, dalam Kompas Cyber Media (14 November 2013), Game Online merupakan sebuah game atau permainan yang dimainkan secara online via internet, bisa menggunakan PC (Personal Computer) atau Konsul Game biasa seperti PS2 ,X-Box dan sejenisnya.

Bermain game online tentu memiliki dampak bagi para gamers khususnya anak-anak dan remaja baik berupa dampak positif maupun dampak negatif. Menurut Jan Nehemiah, dampak positif bermain game online dapat mengajarkan bahasa inggris secara tidak langsung, memiliki banyak teman walaupun hanya sebatas dunia maya, dapat menghasilan uang dengan mengikuti berbagai turnamen dan kompetisi game online yang berhadiah uang serta sebagai refreshing. Dan menurut Tom Watson, salah seorang Menteri Sekretaris Kabinet di Inggris menyebukan bahwa dengan bermain video game, anak-anak dapat melatih pikiran, konsentrasi, menjawab tantangan, dan beradaptasi terhadap perubahan di sekitar mereka.

Adapun dampak negatif game online timbul karena sebanyak 89 % dari game mengandung beberapa konten kekerasan (Childern Now, 2001). Game online yang bersifat kekerasan dapat memicu anak-anak untuk meningkatkan pikiran agresif, perasaan, perilaku, dan penurunan prososial membantu bahkan melakukan tindak kekerasan yang berujung kematian. Misalnya kasus Daniel Petric, remaja dari negara Inggris berusia 17 tahun membunuh Ibunya dan melukai Ayahnya setelah keduanya menolak untuk membiarkan si anak bermain Halo 3. Sebelum membunuh Ibunya, Petric mendatangi kamar orang tuanya dan berkata, “Maukah kalian menutup mata? Saya memiliki kejutan untuk kalian berdua,” sebelum menembak Ayahnya” (Segi Empat.com,2016). Kasus selanjutnya berasal dari dalam negeri, Rizaldin (16 tahun), siswa SMK swasta di Kota Makassar yang tewas di depan game center, diduga menurut saksi mata kejadian ini terjadi setalah  Rizaldin dan rombongannya keluar dari game center disusul oleh beberapa rombongan anak lainnya. Kemudian, terjadi perkelahian antara kedua rombongan tersebut, Rizaldin kena tusukan benda tajam dan meninggal dunia karena kehabisan darah. Walaupun, pelaku melarikan diri dan tidak diketahui jelas alasan perkelahian yang menewaskan Rizaldin, tapi kasus ini menyeret pemilik game center dan keluarga korban untuk memberikan keterangan di Kepolisian Resort Makassar (Detik.com,2016).

Pengaruh game memicu peningkatan agresivitas anak-anak dan remaja dibuktikan melalui beberapa penelitian terdahulu. Hasil penelitian Musthafa (2015) mengemukakan bahwa intensitas bermain game online mempunyai pengaruh positif antara intensitas bermain game online dengan perilaku agresif pada anak. Semakin tinggi intensitas bermain game online, maka semakin tinggi perilaku agresif anak. Dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Syahran (2015) menjelaskan bahwa dampak behavioral yang muncul dari bermain game online dalam bentuk perilaku dan tindakan. Anak-anak berusaha meniru keadaan dirinya sesuai dengan game yang dimainkannya sehingga hal ini dapat mendidik anak menjadi keras kepala, susah mendengar siapa saja bahkan orang tua, asosial, bahkan menjadi lebih agresif dalam pergaulan.

PKM Penelitian Sosial Humaniora Dana Hibah Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melaksanakan penelitian yang berjudul “Pengaruh game online terhadap tingkat kekerasan oleh anak-anak dan remaja di Kota Makassar :Studi Kasus tingkat angresivitas anak-anak dan remaja di Kecamatan Tallo”. Penelitian yang dilaksanakan mulai dari 3 April 2017 sampai dengan tanggal 10 Juni 2017 ini mengambil lokasi di lebih dari 20 game center yang ada di Kecamatan Tallo. Objek dari penelitian ini adalah anak-anak dan remaja yang bermain game di game center dengan alasan jangkauan dan data yang didapatkan lebih akurat. Tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intensitas bermain game online bertema kekerasan terhadap tingkat agresivitas anak-anak dan remaja di Kota Makassar. Data yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu tidak ada pengaruh langsung dari jenis game online terhadap agresivitas oleh anak-anak dan remaja. Akan tetapi, jenis game online yang bertemakan kekerasan berpengaruh sesuai dengan tingkat intensitas dimainkan. Sehingga, anak-anak dan remaja meniru apa yang mereka lihat ketika bermain game online. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan ditemui fakta mengenai adanya indikasi pengaruh intensitas anak-anak dan remaja bermain game online bertema kekerasan yang mendorong perilaku agresivitas oleh anak-anak dan remaja di Kecamatan Tallo.

Berkaitan dengan hal ini, Negara dan Pemerintah telah mengembangkan kebijakan, program dan kegiatan-kegiatan sebagai langkah untuk memberikan perlindungan terhadap anak dari tindak kekerasan. Pada tahun 1974 Indonesia menerbitkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Kesejahteraan Sosial Anak. Pada tahun 1989, Indonesia merativitasi Konvensi Hak Anak (KHA), Pada tahun 2002, diterbitkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hal ini, memberikan gambaran bahwa ada respon pemerintah terkait persoalan kekerasan anak. Hanya saja pemerintah masih bersifat terlalu umum membahas perlindungan anak dalam semua tatanan, sedangkan, belum ada regulasi yang lebih spesifik dari Negara dan Pemerintah terkait pengaruh intensitas bermain game online terhadap agresivitas anak-anak dan remaja.

Dari hal tersebut ditawarkan solusi yakni dengan mengontrol game center yang ada agar pemeritah dapat membuat aturan perizinan game center berupa surat kontrak yang membahas mengenai aturan waktu beroperasi dan jarak antar game center.   Dan sesungguhnya peran orang tua dalam pengawasan yang lebih selektif terhadap anak-anak sangatlah penting agar dapat mencegah bibit kenakalan remaja, perilaku menyimpang oleh anak-anak dan remaja, serta penurunan prestasi belajar yang dapat membunuh karakter anak bangsa.

*) Tulisan ini merupakan intisari dari PKM Penelitian Sosial Humaniora Dana Hibah Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang berjudul “Pengaruh game online terhadap tingkat kekerasan oleh anak-anak dan remaja di Kota Makassar :Studi Kasus tingkat angresivitas anak-anak dan remaja di Kecamatan Tallo”.

**)Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Administrasi FISIP Unhas

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here