Home Mimbar Ide Penjual Buah Musiman “Jujur” dan Ketidakberdayaan Pemerintah

Penjual Buah Musiman “Jujur” dan Ketidakberdayaan Pemerintah

177
0
SHARE
Rizal Pauzi

Oleh : Rizal Pauzi*

Penjual langsat, rambutan dan durian mewarnai beberapa ruas jalan protokol kota. Mereka memang tak selalu ada, biasanya hanya di bulan Januari sampai Maret. Kira – kira bertepatan dengan musih buah – buahan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan dan Barat. Jalan protokol yang ramai akan penjual buah – buahan ini diantaranya Jalan Sultan Alauddin, jalan Perintis kemerdekaan. Bahkan mereka seperti telah janjian untuk berjejer bersama – sama. Fenomena ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, selain dampak positifnya masyarakat bis mendapatkan buah – buahan dengan harga murah. Namun disisi lain cenderung menambah kesemrautan kota.

Pemandangan ini menjadi makanan sehari hari bagi pengendara. Baik itu yang akan memasuki kota Makassar maupun yang akan meninggalkan kota. Secara sepintas, hal ini memberi manfaat bagi pengendara karena memudahkan untuk membeli buah – buahan dengan harga murah. Namun disisi lain, ternyata para penjual ini menjadi bagian dari penyumbang kemacetan dan penyumbang sampah di perkotaan. Tentu ini sebuah masalah, dari beberapa media online kita bisa menemukan upaya penertiban oleh pihak kelurahan terkait yang di bantu satuan polisi pamong praja. Namun sepertinya nihil, tetap saja tiap hari para penjual ini ramai berjualan.

Satu lagi yang paling membuat kita sepertinya tidak nyaman. Tulisan “timbangan jujur” yang di pajang beberapa pedagang buah – buahan. Dimana penjual lainnya sedang gencr memajang tulisan Rp.15.000,- / 2 Kg. Ini menandakan bahwa ada perang “kepercayaan” publik yang tidak sehat diantara para pedagang. Disatu sisi, mencoba menampilkan wajah “harga murah” buah – buahan. Ini kontras dengan wajah “timbangan jujur” yang di tampilkan pedagang lainnya. Penggunaan diksi “timbangan jujur” adalah penegasan bahwa ada pedagang lain yang tidak jujur. Jika demikian halnya, berarti persaingan tidak sehat sebenarnya telah berlangsung. Namun yang patut menjadi perhatian kita semua adalah bahwa pedagang buah – buahan musiman ini sedang merasakan rendahnya kepercayaan publik akan kejujuran timbangan para pedagang.

Kesemrautan dan persaingan pasar tidak sehat di kota dunia tentu harus dihilangkan. Karena kota dunia mengharuskan masyarakatnya modernis dan tentu saja berperadaban. Namun fenomena penjual buah musiman ini menandakan ketidak berdayaan pemerintah. Apa lagi dua masalah ini sebenarnya telah memiliki aturan yang jelas. Pertama, Sebut saja kesemrautan jalan akibat pedagang kaki lima sudah diatur dalam Peraturan daerah No 10 tahun 1990 kota Makassar tentang Pembinaan Pedagang kaki lima. Regulasi ini jika dibarengi komitmen pemerintah dalam melaksanakannya maka kesemrautan ini bisa di selesaikan. Namun nyatanya, penertiban tidak memberikan efek jerah. Belum lagi pemerintah tidak memiliki terobosan inovatif dalam menyiapkan ruang bagi pedagang buah – buahan musiman. Kedua, terkait persaingan tidak sehat antar pedagang ini tentu pemerintah harus turun tangan memberikan pembinaan. Pasar tidak boleh di biarkan berjalan sendiri, seperti yang ditegaskan John Maynard Keynes bahwa perlu campur tangan pemerintah dalam persaingan pasar.

Berbagai regulasi pun menjadi pedoman kuat bagi pemerintah kota Makassar dalam mengambil langkah menangani hal ini. apa lagi ini persoalan pertaruhan kepercayaan publik akan pedagang lokal di kota Makassar. Kota dunia tentu bukan sesuatu hal yang mudah. Setidaknya langkah berani pemkot Makassar mencanangkan hal demikian patut di apresiasi. Namun masih perlu langkah yag lebih kongkrit dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Tak semua publik bisa membaca angka – angka prestasi pemerintah, sehingga persoalan didepan mata masyarakat harus segera mendapatkan perhatian serius. Kita tunggu aksi nyata pemkot Makassar. Jangan tunggu walikota baru terpilih, karena musih buah hampir berlalu. Mereka pasti akan membubarkan diri dengan sendirinya.

*) Penulis adalah Direktur Public Policy Network

 

Facebook Comments