Home Mimbar Ide Fantasi akan Politik Kuasa

Fantasi akan Politik Kuasa

102
0
Pasangan capres dan cawapres 2019. Sumber foto : suara.com

(Catatan untuk Pemilu 17 April 2019)

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Sebagaimana telah diketahui, secara harfiah, fantasi berarti khayalan. Pemikiran tidak akan berhenti tatkala dibangun lebih kokoh bersama fantasi. Karena itu, pemikiran meliputi fantasi melalui tanda-tanda dan daya pikat pengetahuan. Dapat dikatakan di sini, pemikiran mengenai fantasi yang cair, teliti dan tidak terbatas melampaui masa, dimana benda-benda dan kata-kata akan dirujuknya hanyalah ketidakhadiran analisis yang ditawarkan oleh rezim diskursus atau rezim kuasa. Titik inilah, ketidakhadiran kata-kata seiring berbolak-baliknya benda-benda menggambarkan suatu wilayah netral yang mengembalikan secara diam-diam titik rujukan dan diskursus yang dilampauinya tanpa pikiran dan pengalaman hidup.

Sejalan dengan fantasi yang berada pada taraf kegilaan sebagai cara untuk melangkah kembali pada diskursus demi memperoleh bentuk-bentuk yang belum tercipta dan bentuk-bentuk yang sedang berjalan kedepan melingkari representasi yang pernah ada. Kita masih ada sekalipun representasi dan simulasi muncul dan lenyap, setidaknya kita masih dapat bertahan hidup diantara diskursus yang membuat kata-kata, angka-angka atau huruf lebih hidup dibanding hanya berupa bayang-bayang. Jelaslah dalam alur ini, fantasi bukanlah bayang-bayang yang ditempelkan didalamnya kata-kata atau logika matematis yang memiliki daya pikat dalam kehidupan dan pemikiran. Diskursus tentang bentuk-bentuk yang belum tercipta dan ada di depan kita ditawarkan untuk menggantikan representasi dan simulasi lebih mengokohkan fantasi yang dapat digambar dan dipikirkan. Fantasi begitu dekat dengan benda-benda yang tidak tersusun secara teratur dan stabil, melainkan terjalin secara acak sekaligus hilir mudik.

Benda-benda menuju obyek yang dibentuk diskursus menghargai representasi hingga titik terakhir kemunculannya. Pemikiran menjalin interaksi langsung dengan benda-benda yang telah ditentukan oleh tanda-tanda sejauh diskursus melepaskannya di tempat terasing dan bentuk-bentuk yang sama sekali tidak terlihat. Dalam hal ini, fantasi tidak mencoba untuk memantul, menukik dan menjelaskan bentuk-bentuk apa yang dinginkan dari sesuatu yang belum tercipta, kecuali representasi yang tersisa di hadapan diskursus sekaligus pemikiran. Setelah memberinya kehidupan nyata, pemikiran atau diskursus tentang politik yang tidak terelakkan. Kembali pada representasi, bahwa disamping pikiran, ingatan, tanda, tiruan, dan imajinasi, fantasi merupakan representasi yang diserap dan dilepaskan. Representasi pikiran tidak memerlukan model analisis dan hirarki, kecuali mode wujud dan bentuk yang ingin dirahi. Tetapi, fantasi bukanlah jenis proyeksi pertumbuhan akan sesuatu; ia bukanlah tabel data atau matriks. Pada saat pikiran direbah, fantasi mendatanginya dengan penuh kejutan dan teka-teki dengan mengisinya benda-benda yang dapat berbicara dan menjelaskan pada kita. Dalam taraf penggambaran pikiran itulah, fantasi muncul di sisi pinggiran permukaan yang tidak selebar jendela rumah dibanding luas jendela dunia tidak terhingga.

Sejauh yang kita pikirkan, tanda-tanda telah menyembunyikan dan muncul kembali benda-benda lain dari biasanya dalam wujud aktual dan wujud virtual, sehingga kita masih meraba-raba rahasia dan hakikatnya. Hal ini tidak berarti manusia telah memiliki tanda dan saat-saat tertentu melupakannya. Katakanlah, jika dihubungkan antara tanda produktivitas dan tanda kesejahteraan ternyata memerlukan diskursus politik untuk melampaui analisis diskursus itu sendiri. Dari gambaran fantasi yang berbeda-beda itulah menjadi tanda-tanda muncul dalam realitas dan melepaskan seketika. Sementara, kehidupan yang tidak tercabik-cabik ditandai oleh seseorang atau masyarakat ingin terpilih dan menguasai kembali atau mengganti sosok ideal merupakan fantasi pada (i) lapisan terluar dan nyata yang terlokalisir dalam representasi, bukan diskursus. Sedangkan, jika kita bandingkan pernyataan tentang pemerintahan yang bersih dari korupsi, adil dan makmur menjadi fantasi pada (ii) lapisan tanda senyap dan tersembunyi.

Tanda-tanda yang terakhir disebutkan menghubungkannya dengan kata-kata dan benda-benda nampaknya berbeda dari yang sebelumnya; ia bukanlah jenis fantasi atau penanda kosong dan suatu gagasan yang tidak masuk akal. Kita mencoba untuk menjelaskan secara terbuka tanpa terburuh-buruh, dimana tanda-tanda yang tercipta dari fantasi menegaskan bukanlah titik-fantasi nol. Apalagi dikatakan “bentuk kepenuhan” dari pengetahuan kita tentang fantasi yang terlepas dari pergerakan hasrat yang menguasai pergerakan politik massa untuk menentang utopia sebagai fantasi menjadi rezim kebenaran yang dianalisis oleh Michel Foucault (The Order of Things) dan Slavoj Zizek (The Flague of Fantasies) dengan “Tujuh Tabir Fantasi”.

Bagaimanapun juga, semakin sering fantasi bekerja dengan caranya sendiri, membuat tanda-tanda semakin terbuka untuk diingat telah dibagikan oleh realitas sebelum dirinya menemukan kekosongan. Supaya tidak mengalami kekosongan, realitas ditarik kembali ke atas tanpa garis permukaan melalui “tanda” untuk mengungkap satu dan lebih banyak lagi bahasa. Tidak menjadi hal yang menggelikan, pada saat tanda-tanda menuju kemenangan diawali dengan mobilisasi dukungan melalui jaringan kontrol beroperasi dalam celah ketidaksadaran suara-pilihan akan terbius dengan retorika rapat, sosialisasi dan pertunjukan yang terorganisir. Rezim diskursus tidak melupakan peran jaringan kontrol dan mekanisme yang tersembunyi dalam rezim kuasa dengan mata-mata yang efektif menjangkau sengaja disediakan untuk mengembangbiakkan pilihan polos dari tanda-tanda yang menghubungkannya dengan ‘dunia yang lebih nyata’.

Dalam pengetahuan modern, fantasi tidak lagi diasuh oleh pikiran yang tidak memiliki kekuatan untuk melintasi pikiran itu sendiri jauh sebelum fantasi bertugas dalam pembentukan obyek-obyek dengan cara mengatasi realitas. Misalnya, sejauh pengetahuan ilmiah, titik nol dan kembali ke titik nol tidak lebih dari pikiran, tempat dimana fantasi melampauinya jika dihubungkan dengan realitas. Hanya tanda-tanda waktulah yang mengungkapkan hakiki dan mengakhiri seluruh representasi. Pemikiran tidak lantas menyalin dirinya sendiri dari dunia luar sebagaimana mengambil sebagian dari keseluruhan fantasi yang membingungkan. Sekali pemikiran yang tidak tercatat dalam naskah, arsip, panggung, berita tertulis, jejak digital, dan opini media dalam rangka memasuki kembali rezim kuasa dengan fantasi yang terpolitisasi sedemikian rupa membuat pemikiran tidak mengambil suatu tayangan tunda.

Pemikiran tidak kembali pada bahasa dan diskursus akibat kekosongan tidak terduga menyeretnya ke tengah pusaran hasrat termaterialisasi melalui tubuh politik. “Anda ingin bayar berapa, saya dukung Anda untuk kedua kalinya. Jika tidak, saya memilih yang lain”. Seluruh godaan yang pernah kita dengar dan bicarakan terdapat logika dalam kelenyapan struktur-“sang Lain” secara pelan-pelan namun pasti memasuki “titik kekosongan logika matematis” yang merajalela. (Secara vukgar) mereka mengatakan: “Uang yang saya terima bukanlah nilai tukar atau nilai tanda, melainkan tanda-tanda yang orang lain tidak dimiliki”. Ditambahkan, uang yang disaksikan tidak dinyatakan dalam hukum sebab dan akibat, kecuali kata-kata yang meluluhkan yang keras. Ia bukan juga tanda ketidakberdayaan menghadapi keadaan yang terjepit disaat bujuk rayu membahana menerobos benda-benda dengan cara memfantasikan logika formal secara klasik (angka nol membulati sudut pandang) terpadu dengan fantasi akan kelopak bunga yang sedang mekar secara alami dan virtual memiliki kemiripan simbolik dari politik kuasa secara institusional dalam membujuk masyarakat untuk mengikuti rezim diskursus yang dibuat oleh rezim kuasa itu sendiri.

Teknik kuasa berbeda dengan teknik membuat suatu Fantasyland atau “negeri yang aman, maju, adil, dan makmur” serta merta diproyeksikan melalui daftar janji-janji politik yang memikat memasuki tanda-tanda yang membuat fantasi tidak berada dalam tiruan.

Di sudut lain, seseorang sedang memanggil banyak orang untuk membicarakan tema-tema yang cukup serius tiba-tiba penampilan mereka berubah total setelah menikmati menu makanan di salah ruangan yang tertata apik. Di sebelahnya lagi terdapat buah-buahan gaya tropis, satu hingga dua ikat duren. Sesungguhnya pandangan tidak tertuju pada ruangan asri nan sejuk seakan-akan menghilang beban hidup yang menekan dicairkan dengan nuansa “belah duren” membuat mata tidak mampu berkedip sejenak dan insting kehidupan mulai menemukan catatan kelahirannya setelah pikiran dikosongkan dari tanda-tanda kenikmatan. Khayalan sama nikmatnya sebelum dan setelah makan menuju poros anal untuk dilepas dan dibuang sebagai ampas. Tetapi, tiruan itu menjungkirbalikkan cahaya dari siangnya malam disaat penampilan buah yang memancing selera dan hasrat nampak lebih waspada untuk menghadapi bentuk ‘daging buah segar’ secara alami memancarkan warna keputih-putihan yang dikelilingi garis berbentuk oval seperti bentuknya memiliki kemiripan dengan ruangan gedung di sebelah jalan.

Semakin dinikmati gambar yang ditandai kemajuan dari probalitas menuju kepastian, membuat kemiripan dan tiruan gambar buah yang terbelah mengangkasa melebihi perbincangan tentang wakil-wakil rakyat di parlemen dan anak seniman melukis tarian telanjang yang dimainkan seseorang di atas kanvas. Kemiripan dalam imajinasi akan tersembunyi sejauh fantasi atas kuasa dengan seni beradu dalam politik hasrat, bercampur-aduk dengan gambaran masa depan yang sama sekali tidak ditemukan bentuk-bentuk atau obyek-obyek nyatanya. Dari sinilah, teknik kesantaian kadangkala lebih efektif dibanding ketegangan politik terjadi tanpa fantasi. Dalam suasana terbuka, kemiripan khayalan yang ditolak oleh cogito-Cartesian sekarang menemukan momen untuk membangkitkan kembali hal-hal baru yang mampu memainkan permukaan tubuh memiliki daya pikat yang khas melebihi kesadaran dan kehendak. Tanda-tanda masih selalu berganti dengan tanda lainnya selama logika kemiripan yang memudahkan untuk memahami seuatu yang belum terlintas dalam pemikiran tanpa fantasi birahi.

Fantasi mengakhiri perannya dalam tanda kehidupan sejauh kekuatan lainya direbut energi yang dipancarkannya secara kreatif dan hidup oleh kekuatan tanda-tanda waktu yang menentukan ada kemungkinan menuju kepastian bahkan melampauinya seiring tanda-tanda yang akan terjadi. Politik kuasa pada akhirnya menjadi salah satu energi yang kreatif dan hidup yang dikonsolidasikan melalui fantasi benar-benar mampu membebaskan dirinya dari jenis fantasi kosong yang membuatnya menyatu dalam kehidupan. Sekiranya kita dapat menggali lebih dalam melalui ruang kosong, alur dimana pemikiran ditata ulang untuk meletakkan analisis politik atau kuasa itu sendiri yang lebih menarik dimungkinkan menjadi obyek diskursus tersendiri. Hal serupa juga terjadi untuk menandakan masuknya diskursus tentang fantasi dalam kehidupan atau sebaliknya melalui tanda produktivitas dan tanda kesejahteraan dengan analisis yang menyertainya. Mungkin masih perlu kita tekankan, fantasi berbeda dengan visi dan mimpi dengan tubuh atau mesin yang melekat didalamnya. Suatu hal yang masih perlu dijelaskan, bahwa fantasi tidak dapat dilepaskan dengan tanda-tanda hasrat dan pikiran yang menopang terwujudnya tujuan yang ingin dicapai dalam rentang waktu tertentu. Mekanisme kuasa akan bekerja sesuai apa-apa yang belum ditemukan bentuk-bentuk nyata melalui kekuatan pemikiran dan pergolakan-pergolakannya meminjam tubuh yang dapat dikontrol secara efektif dalam kelembagaan politik kuasa. Kemiripan juga merasuki mekanisme ditandai aliran produksi hasrat melebihi konsep fantasi tentang lingkaran putih yang mengelilingi titik gelap akan digantikan dengan fantasi yang benar-benar kreatif seperti pengetahuan baru tentang kuasa itu sendiri.

Di sela-sela waktu, seseorang tidak hanya cukup berpikir rumit mengenai kenyataan yang mengelilingi kita, dimana kita dapat menikmati kehidupan normal. Satu pihak, orang-orang ingin memiliki rumah nan megah berhadapan dengan pantai dan pemandangannya yang eksotis. Bagi negara-negara berkembang, mereka memperoleh fantasi melalui hasrat untuk menabung di bank. Gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi nampak tidak lebih bangunan-bangunan seperti tiang pancang gaya modern melumat bangunan lain yang di bagian bawahnya menjalar pipa saluran pembuangan tinja atau sampah. Sarapan di rumah dan pelepasan kotoran isi perut di gedung. Bersama kuasa administratif, semuanya diatur melalu kode anggaran kegiatan lembaga atau satuan kerja pemerintah yang penuh konsekuensi menjalankan tugas secara teknis didukung citra-citra virtual yang menciptakan kenikmatan melalui fantasi busana seragam, sistem layanan dan sistem pelaporan kegiatan yang serba siap saji disalurkan bersama pelepasan kotoran yang ditampung oleh gedung-gedung yang berdiri perkasa.

Pada saat tanda kuasa sebagai rezim kebenaran menyebarkan jaringan kontrol dengan mekanisme yang telah berjalan sedemikian rupa, aparatur negara bukan hanya melayani setiap tuntutan masyarakat, tetapi juga mereka bagian dari hasrat-hasrat subyek. Tembok-tembok raksasa suatu saat memanggil momok menakutkan karena gedung teknologi terbangun bersama bayang-bayang masa depan yang tidak menciptakan sesuatu agar orang lebih bergairah. Satu-satunya jalan adalah tidak hanya menggandakan dan melintasi, tetapi juga menciptakan titik pengulangan fantasi. Lebih khusus lagi, sekolah memiliki mekanisme kontrol kuasa atas lembaga pendidikan yang membebani pemikiran secara individual dan sosial. Fantasi pelajar ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan berprestasi luar biasa. Dari usia anak-anak hingga usia dewasa berada dalam pemenuhan kesejahteraan umum, diantaranya pendidikan dan kesehatan berkualitas, senam kebugaran, dan kawasan hijau menjadi tanda kehidupan yang ditandai oleh tanda-tanda kesenangan yang tidak terkhayalkan. Mereka tidak ingin menikmati keringat dan dahi berkerut tanpa hasil apa-apa.

Dalam perkembangannya oral, lingkaran putih yang dipuja-puja hingga kita dewasa telah lenyap bersama kesadaran yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan fantasi setelah tahap perkembangan rezim diskursus yang berbeda dari tahap sebelumnya menyatu dalam bahasa dan rezim kuasa. Karena itu, kesadaran ditandai sebagai ilusi. Di pihak lain, secara institusional, penyelenggara negara atau tokoh politik lebih berkeinginan memiliki pertimbangan rasional untuk melanjutkan apa-apa yang telah dirahi ditandai kinerja yang tinggi dengan susah payah demi tujuan kuasa yang samar-samar bentuknya. Tanda-tanda bukanlah untuk menciptakan teks yang membelenggu nasib orang banyak atau orang berkeinginan untuk mengubah keadaan dengan jalan melakukan suksesi kepemimpinan nasional. Seluruh tanda tersebut akan tetap diuapi tanpa fantasi dan tanpa pikiran yang tiba-tiba muncul dan menghilang kembali seiring dengan rahasia kuasa yang memasuki kehidupan.

*) Penulis adalah ASN Bappeda Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments