Home Literasi Aksioma

Aksioma

55
0
@firmanbado8

Oleh : firman bado*

Sungguh…
Diantara pergi atau pulangnya orang-orang
Tidak kutemukan kamu dengan senyuman-senyuman peletup rindu.
Antara senja dan malam tak ada kamu yang menawarkan gemintangmu.
Sekali lagi….
Aku ingin menyaksikan tubuhmu tepat sejajar pandang
Menawarkan tubuh ini lagi,  sekali lagi.
Tubuh yang pernah jadi segenap peluk sempurnamu
Bahu yang paling kokoh untuk sandarkan keluhmu.

Sudah berulang kali kita menunda pertemuan,  menghindari tegur sapa,  apalagi memulai cerita.
Langkahmu telah ratusan kilometer menjauh dari tempat terakhir kita mengucap selamat tinggal.

Ku kira hanya malam yang mampu khianat
Nyatanya pagi,  dan sore juga ikut ingkar..
Seutuhnya apa yang ku temui terlalu banyak bersabda hingga tak melakukan apa-apa,
Jalan semakin sunyi,  lampu-lampu sudah padam,  orang-orang telah berlomba untuk seporsi mimpi indah.

Aku tau…
Setiap inci dari ratusan kilometer yang kau tempuh telah berhasil melepas satu demi satu ingatanmu.
Hingga tiba di perhentianmu nafasmu lega,  tubuhmu lepaskan beban,  dan 1 inci pun tak ada lagi namaku.

Dan kau juga harus tau,  setiap rindu dari kenangan-kenangan yang kau lepas  adalah keping keping tubuhku.
Yang hancur di penghujung malam kemudian esoknya tersusun jadi utuh.

*) Penulis adalah Anggota Selasar Puisi Gorontalo

Facebook Comments