Home Berita Lebaran Ketupat di Boalemo pengunjung di Beri Oleh-oleh Ketupat Bukan Nasi Bulu

Lebaran Ketupat di Boalemo pengunjung di Beri Oleh-oleh Ketupat Bukan Nasi Bulu

0

Matakita.co (Gorontalo) – Pasca lebaran Idul fitri biasanya masyarakat Jawa melaksanakan Lebaran ketupat. Sebagian besar masyarakat Gorontalo mungkin lebih mengenal tradisi ketupat di kawasan kampung Jawa kabupaten Gorontalo, namun perayaan yang tidak kalah ramainya juga ada di bagian barat Provinsi Gorontalo, tepatnya Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo.

Masyarakat Mananggu mengenal tradisi ini melalui Komunitas Jawa Tondano yang berada di sana. Tradisi ini tidak jauh berbeda dengan yang dilaksanakan di kampung Jawa Kabupaten Gorontalo.

Salah seorang tokoh Jawa Tondano Hasan Suronoto (51) menyampaikan kepada Matakita.co , masuknya tradisi ini dibawa oleh masyarakat Jawa Tondano berpuluh tahun lalu, berasal dari Kampung Jawa Rekso.

Lanjutnya, Oleh masyarakat Gorontalo khususnya Mananggu, karena ini tidak bertentangan dengan agama, tidak menggeser nilai budaya Suku Gorontalo,serta untuk menjalin silaturahim antar sesama, maka perayaan ini bisa dilaksanakan dan masih tetap bertahan hingga sekarang dikarenakan Lebaran ketupat ialah salah satu perayaan yang bermakna sebagai momentum silaturahmi

“Jadi perayaan ketupat di Mananggu ini sudah puluhan tahun dilaksanakan turun temurun oleh masyarakat Mananggu, kira – kira sekitar tahun 1950-an dilaksanakan. Dahulunya belum kecamatan mananggu namun masih kecamatan Paguat, tepatnya masih desa Salilama. Karena ini tidak menggeser nilai budaya masyarakat Gorontalo dan ini juga salah satu bentuk ukhuwah islamiyah, tradisi ini bertahan hingga sekarang. ” Ungkap Hasan Suronoto

Selain itu, ia pun menjelaskan, pada awalnya inti Tradisi  ini menampilkan kesenian Hadra ( Budaya Jaton )  dirangkaikan dengan Khitanan massal, sekarang oleh masyarakat Gorontalo sudah dikolaborasikan dengan hiburan rakyat lain berupa Panjat pinang, tarik tambang, lari karung dan kegiatan menghibur lainnya. Hadra sendiri merupakan Seni dan Budaya masyarakat Jaton.

“awalnya hanya Hadra dan khitanan, oleh masyarakat sini, Hadra itu sama dengan zikir, namun dia dalam bentuk gerakan seni.” tukasnya Rabu (12/6/2019)

Menariknya, ketika berkunjung ke Mananggu saat perayaan tersebut, bukan hanya masyarakat sekitar yang mendominasi, namun pengunjung dari luar daerah pun tak kalah mendominasi perayaan itu.

Ditambahkannya, Ketika pulang, pengunjung biasanya akan diberikan Oleh-oleh berbagai jenis makanan, semisal sering terlihat dijalan ialah nasi bulu. Hal ini Berbeda dengan yang ada di Mananggu, pengunjung diberikan oleh-oleh berupa ketupat karena masyarakat yang ada di mananggu lebih dominan membuat ketupat yang rasanya tak kalah enak dari yang lainnya.

” kalau intinya kan Ketupat , yang jelas harus ketupat sama lauknya. jadi kalau nasi Bulu kurang dominan di Mananggu” tandasnya.

Tokoh Pemuda Gorontalo, Kasim Maliu (37) berharap Lebaran ketupat ini tetap terjaga dan dipertahankan. karena perayaan ini bukan hanya sebuah simbol, namun bagaimana memaknai secara spritual demi kedamaian, karena hakekatnya ketupat ialah bagaimana kita saling bergandengan tangan dan saling menjaga.

” kami berharap tradisi ini tetap terjaga, karena pada intinya ini bukan sekedar simbolitas, tapi bagaimana kita memaknai ketupat secara spritual untuk kedamaian” Tutup Kasim. ***( Didin)**

Facebook Comments