Home Mimbar Ide Plastik dan Mangrove

Plastik dan Mangrove

0

Oleh : Idham Malik*

Mulanya, Saya hanya menduga-duga hubungan antara limbah plastik dan mangrove. Ketika seorang teman yang menangani plastik sempat bertanya, apakah ada dampak? Saya hanya bilang, pasti ada dampak, sebab plastik nempel di batang dan akar mangrove, dan kemungkinan dapat mengganggu sistem perakaran mangrove.

Pada Sabtu, 22 Juni 2019 lalu, Saya bersama seorang teman dari WWF-ID dan seorang teman dari WWF-Japan,  mengunjungi lokasi penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kab. Pinrang. Begitu terkejutnya kami menemukan sebagian bibit yang ditanam pada November lalu telah terlilit limbah plastik. Bahkan, beberapa tak dapat melanjutkan hidup.

Pemandangan pilu itu, begitu menyayat, sebab, musuh bibit bakau ternyata tidak hanya ombak keras, tidak hanya kambing dan sapi, tapi juga sampah-sampah yang tak dapat punah, yaitu plastik.

Bahan yang hingga saat ini dinilai masih sangat bermanfaat bagi ummat manusia ini pun pelan-pelan menjadi boomerang, yang jika tidak diantisipasi, dampaknya kian membesar. Plastik bukan saja membunuh hewan-hewan di laut, seperti burung albatros, ikan paus, penyu. Tapi juga, terbukti dapat membunuh bibit-bibit mangrove yang sedang kami perjuangkan untuk hidup.

Saya tak dapat membayangkan jika laju plastik terus berlangsung, apalagi berdasarkan laporan-laporan ilmiah, jumlah plastik di perairan bumi bertambah 8 juta ton setiap tahunnya. Plastik-plastik ini, sudah mengancam mahluk hidup sudah sejak mendaratnya di pesisir, apalagi setelah bertahun-tahun ditempa panas dan dinginnya lautan, kemudian menjadi butiran-butiran, yang kita kenal sebagai mikroplastik. Kita sudah tahu dampak dari mikroplastik ini, bukan?

Apa yang harus kita lakukan? Menunggu perubahan kebijakan dari pemerintah dan juga ketegasannya, ibaratnya seperti menunggu Godot, dalam lakon Samuel Beckett. Kita tak bisa berlama-lama menanti, dalam kecemasan dan kebingungan.

Karena itu, langkah berat yang harus dimulai saat ini adalah dengan tidak menambah beban plastik. Mulai tidak menggunakan plastik kemasan, membawa tumbler sendiri, tidak menggunakan pipet jika memesan jus di caffee.

Ikhtiar ini tampak terjal, kita dihadapkan oleh hasrat psikologis kita sendiri, yaitu kenyamanan dan kemudahan, serta higienisitas. Kita pun akan belajar kembali untuk menahan diri untuk tidak menggunakan fasilitas plastik. Dan belajar untuk mengganti plastik dengan bahan-bahan lain yang dapat diurai oleh alam.

Jika tak begitu, kita tinggal menunggu, plastik kemasan kita, akan berlabuh di pesisir pantai, dan membunuh satu persatu tanaman bakau yang telah kita tanam sendiri.

*) Penulis adalah Aquaculture Staff, WWF-Indonesia

Facebook Comments