Home Mimbar Ide Menyeru “Intelektual”: Sebuah Catatan Awal

Menyeru “Intelektual”: Sebuah Catatan Awal

0

Nama :  Tarmizi Abbas

Sungguh, saya ingin mengawali tulisan perdana di media ini dengan tidak menyoal hal-hal yang berat. Menulis tema-tema yang cukup padu seperti politik, isu-isu agama, dan etika publik membutuhkan analisis mendalam juga turut memuat tanggung jawab yang besar. Selain itu jika boleh menyebut diri saya sebagai seorang penulis—saya juga dituntut untuk membahasakan gagasan dengan cermat, tidak bertele-tele, berikut memastikan bahwa pembaca dapat menangkap pesan di balik tulisan ini.

Itu sebabnya, tulisan ini lebih dimaksudkan sebagai kritik, barangkali juga sebuah refleksi diri yang hendak memberi gambaran-gambaran (meski tidak seluruhnya) tentang bagaimana semestinya menanggapi realitas yang terjadi di sekitar kita.

Beberapa penulis, untuk itu, seringkali dianggap orang cerdas karena sanggup menuangkan gagasannya dalam beberapa lembar tulisan—yang, memang, tidak semua orang bisa melakukannya. Pembaca juga seringkali menganggap bahwa orang cerdas, atau katakanlah penulis, atau juga mereka yang—dalam lingkup lebih besar—bekerja sebagai dosen dan akademisi adalah intelektual. Tapi, apakah tidak terlalu cepat untuk kita mengikat definisi “intelektual” itu?

Kata ‘intelektual’ itu, bagi seorang marxis Raymond Williams berciri ganda. Intelektual sering diasosiasikan sebagai dengan metafora ‘menara gading’ lantaran sukarnya menjangkau ide yang mereka kemukakan; juga sebagai ‘cemoohan’ karena apa yang dikatakan mereka adalah sesuatu yang melampaui batas. Demikianlah mereka, para intelektual, yang omongannya—meskipun dilengkapi dengan argumen-argumen yang ciamik—seringkali kalah ketika diperhadapkan dengan dogma, atau ide-ide spekulatif yang tak berdasar.

Bagi saya, penyematan term intelektual pada sekelompok orang itu sebenarnya terlalu cepat. Antonio Gramsci, seorang filsuf berkebangsaan Italia pernah menulis dalam Prison Notebooks bahwa “orang dapat mengatakan: semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual.” Mengapa? Karena di dalam definisi “intelektual” itu sendiri memuat peran yang terlalu besar. Intelektual sebagai definisi itu, pendeknya, terlalu pelik untuk dijelaskan.

Namun bagi Gramsci, intelektual itu dapat dikelompokkan menjadi dua jenis. Pertama, intelektual tradisional, yakni mereka yang di dalamnya bekerja sebagai penulis (semoga saya berada di dalam formasi ini), dosen, akademisi, guru, bahkan ulama sekalipun yang konsisten mendidik generasi ke generasi. Sedang kedua, yakni intelektual organik, yang dimaksud Gramsci sebagai kalangan yang berhubungan langsung dengan kelas atau perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan mereka untuk berbagai kepentingan demi memperbesar kontrol dan kekuasaan.
Kita dapat memberi potret yang cukup mudah terhadap jenis intelektual pertama (tradisional) yang dikemukakan Gramsci. Namun untuk jenis kedua, agaknya, lebih sedikit serius. Sebab di dalamnya memuat jalinan yang rumit dan berkait kelindan satu sama lain.

Untuk memahami apa yang dimaksud Gramsci soal hubungan intelektual organik yang syarat dengan kekuasaan itu, kita dapat melihatnya dalam tragedi Holocaust (1960). Ketika puluhan intelektual cemerlang berkomplot dengan Hitler untuk menciptakan senjata pemusnah masal, yang, pada akhirnya menewaskan lebih dari 6 juta umat Yahudi di kamp-kamp konsentrasi seperti Auschwitz dan Treblingka.

Atau, lebih dekat, adalah C. Snouck Hurgronje, salah seorang intelektual paling cemerlang di abad ke 19, yang pada waktu itu bertugas sebagai Pengawas Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Belanda. Berkat ketelatenan dan pengetahuan Horgronje yang mumpuni soal Islam dan kebudayaan, ia berhasil mendekati ulama-ulama Aceh dan menciptakan malapetaka (devide et impera) agar perang antara Aceh dan Belanda yang berlarut-larut akhirnya berakhir dengan kemenangan Belanda.

Ada sederet bukti lagi terkait bagaimana intelektual ternyata memiliki peran aktif dalam menyokong kekuasaan. Namun dari dua penggal paragraf di atas alhasil membuat kita mahfum, bahwa hubungan intelektual dan kekuasaan dapat menciptakan ketegangan, peperangan, dan alienasi. Dalam scope atau level yang berbeda, Anda boleh-boleh saja mencurigai bahwa misalnya berbagai penindasan yang terjadi saat ini, seperti ambil alih lahan, penindasan kelas, dan penyelewengan hak-hak minoritas, bisa jadi didalangi para intelektual yang berkomplot dengan para penguasa.

Lantas, apakah kerja-kerja intelektual memang didesain untuk membantu para korporat atau pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan untuk kepentingan mereka? Saya kira juga tidak. Hubungan intelektual dengan para penguasa bisa jadi juga amat dialektis, bahkan kadang-kadang juga saling membakar.

Mereka, para intelektual, sebagaimana ungkap Edward Said dalam Peran Intelektual (1993) adalah representasi bagi kaum yang tertindas. Tugas-tugas intelektual itu berkaitan dengan upaya menembus kategori-kategori stereotip dan reduktif yang membatasi pikiran dan komunikasi manusia. Intelektual sejati tetap dengan jati dirinya, digerakkan oleh prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran. Mereka memerangi korupsi, melindungi si lemah, menentang otoritas yang menyimpang, dan kepemimpinan yang despotik.

Dalam hal ini, posisi intelektual seharusnya dekat dan berdampingan dengan para penguasa. Bukan dipanggil untuk memimpin, apalagi bersekutu dan berkomplot membantu mereka memperlebar kekuasaan. Tugas para intelektual adalah untuk memantapkan kebijakan. Untuk memastikan bahwa kekuasaan tidak boleh lepas kendali, tidak boleh memperkaya sebagian pihak, sedang pihak lainnya meregang sakit yang tak tertahankan. Bagi para intelektual, tak ada kekuasaan yang terlalu besar untuk dikritik. Dan mengkritiknya, adalah tugas mereka.
Di level bawah, peran intelektual adalah berada sedekat mungkin dengan masyarakat. Mereka adalah figur representatif dari persoalan-persoalan tentang kemisikan, pendidikan, pendindasan kelas, Hak Asasi Manusia (HAM), hingga pendampingan terhadap mereka yang lemah dan seringkali dicakar sejarah. Mereka harus menjadi simpul, yang tanpa tedeng aling-aling, berbicara lewat tulisan, radio, dan televisi. Pendek kata, meminjam Isaiah Berlin, seorang filsuf politik asal Riga, Latvia, tugas intelektual di menyadarkan panggung publik bahwa mereka sedang diuji.

Tetapi, seringkali kita dapati para intelektual yang memiliki intensi demikian kerap kali dikucilkan. Jauh dari kemapanan, para intelektual hidup dalam pengasingan ditemani sepi dan temaram cahaya lilin dari sesedikit mungkin orang yang mengagumi gagasan-gagasan mereka. Mungkin begitu berat upaya ini, itu sebabnya Julian Benda, menyatakan dalam The Treason of the Intellectuals, tempat para intelektual yang sesungguhnya adalah di tinga gantung, dibakar, dan disalib.

Seiring bergeraknya zaman, fungsi intelektual juga menjadi begitu spesifik, meninggalkan nilai-nilai universal yang semestinya menjadi tanggung jawabnya, dan beralih fungsi menjadi anggota kelas yang hanya berkompeten pada bidangnya saja. Namun, yang saya maksud dengan nilai universal adalah kesadaran mereka terhadap prinsip kebenaran. Sebuah prinsip kebenaran, adalah sesuatu yang bahkan tidak terkelompokkan dalam katagori atau bidang-bidang tertentu. Pendek kata, kaum intelektual, apapun profesi dan spesifikasi keilmuannya mestinya memainkan peran tunggal: semua manusia berhak mengharapkan standar perilaku yang layak berkaitan dengan kebebasan dan keadilan dari pemerintah.

Persoalan lain yang kita temukan hari ini adalah matinya kepakaran. Bayangkan sejenak profesi seorang pengamat sepak bola tiga atau empat dekade silam begitu diminati. Mereka dipercaya lantaran dalam setiap performa, para pengamat mampu mendiskusikan opini-opini yang mengguncang-guncang para penonton. Bahkan, setiap pekan atau sebelum laga tandang dimulai, kurang ngeh apabila kita tidak menerima informasi-informasi cekatan dari para pengamat itu.

Namun lihat sekarang, ketika perkembangan teknologi informasi begitu membuncah, orang-orang terkoneksi satu sama lain, hingga lunturnya sekat-sekat di antara mereka. Para penonton sepak bola tidak memerlukan lagi komentator atau pengamat sepak bola. Karena bagi mereka, itu buang-buang waktu. Daripada menyaksikan para aktor berdasi memberi ceramah tentang pertandingan sepak bola, lebih baik mereka saja yang memberi komentar—walau kita tahu, kadang isinya lebih banyak spekulasi. Sehingga, dari 50 ribu supporter yang berkumpul dan memenuhi stadium, bisa dipastikan, ada 50 ribu pengamat sepak bola yang muncul dan berbagi informasi terkait pertandingan tepat saat itu juga.

Itu terjadi di ranah olah raga, bagaimana jika hal serupa terjadi di ruang publik kita? Bagaimana jika orang yang tidak memiliki kapasitas sebagai intelektual, atau katakanlah mereka yang dipenuhi spekulasi menjelaskan ekonomi, politik, agama, demokrasi—justru tampil dan membentuk citra publik masyarakat kita? Tentu saja, di titik itu, peran intelektual menjadi tak ada gunanya. Bahkan, boleh jadi argumen-argumen ilmiah mereka secara langsung terbantahkan dengan figur-figur baru yang bisanya berdalih lewat teori konspirasi dan konservatisme keagamaan yang meletup-letup.

Matinya kepakaran adalah sebuah metafora untuk menjelaskan adanya kelas sosial yang baru. Sebuah formasi masyarakat yang isinya sok tahu, bebal, dan bicara tanpa dasar keilmuan yang memadai, namun dapat menggerakkan dan membentuk ruang publik kita.

Lantas, adakah jalan keluar bagi para intelektual? Tentu saja. Pengaruh intelektual boleh saja redup, namun posisi mereka tidak mungkin tergantikan. Satu-satunya yang tersisa dan terus mengalami perkembangan hanyalah intensi—sebuah kesadaran yang mengajak setiap orang untuk merefleksi dirinya sendiri. Intensi tidak selalu hitam dan putih. Ia justru bergerak jauh lebih tinggi, melampaui kecerdasan, mencuatkan impuls-impuls diskursif agar manusia tidak berhenti bergumul dengan realitas sosialnya masing-masing.
Intensi memberikan semacam dorongan agar intelektual tidak hanya meng-upgrade bacaannya, melainkan juga kesadarannya. Bahwa mereka sedang berada dalam ruang yang serba “melampaui”. Tugas intelektual akan tetap menjadi simpul yang menjembatani tugas-tugas pemerintah terhadap masyarakat. Mereka, sampai kapanpun, adalah representasi dari keadilan dan kebenaran yang tidak pernah berakhir. Namun dengan diri yang terus berkebang dan belajar dari pengalaman-pengalaman.

Memahami bahwa kesadaran itu bertingkat, dapat menarik para intelektual agar tidak terjerat fanatisme buta, agar mereka tidak ceroboh menentukan pilihan-pilihan. Bagi para intelektual, hal ini mungkin cukup lumrah, namun sebenarnya juga begitu sulit untuk dilakukan. Saya sedang mengajak diri saya sendiri, mengajak Anda para pembaca, apapun formasi intelektual Anda, untuk merenungkan hal ini. Merenungkan betapa sulitnya mengemban peran sebagai intelektual.

 

*) Penulis penggiat literasi Gorontalo serta anggota Lakpesdam NU Kota Gorontalo

Facebook Comments