Home Mimbar Ide Metamorfosis

Metamorfosis

0
Noor Anni

Oleh : Noor Anni*

Kamis hari yang baik. Tapi baik belum tentu semua orang menyukainya. Seperti faimiyyun, sisa pengikut nabi isa alaihisaalam di najran. Ia hanya menyukai hari ahad. Dihabiskanlah waktu bertahannus ditempat sepi dihari itu. Kebiasaan itu bertahan hingga umat nasrani mengenal trinitas.

Perihal suka, tidak suka adalah hak personal. Cukup kita memikirkan dan merasainya. Tak usah berlanjut mendebatnya.

Well, untuk menghindari basa basi membosankan.

Metamorfosis mengingatkan saya pada sastrawan mashyur franz kafka. Masterpiece yang amat disayangkan. Seperti azzahra di andalusia. Kemegahanya baru disaksikan saat penggagasnya telah tiada.

Kafka membuka metamorfosa dengan awal yang baik. Metode pengenalan itu mempengaruhi sastra dunia. Dalam fiksi itu, tokoh utama gregor samsa berubah menjadi binatang menjijikan. Berhari hari terasing dari keluarga. Lalu akhirnya mati.

Perjuangan kadang getir dengan hasil tak sesuai harapan. Tetapi bukan itu perhatian saya, novel itu terlalu tragis. Tidak lain dipengaruhi kondisi lahir batin penulis. Seorang ayah tiran. Hiruk pikuk kehidupan yang memaksanya kurang tidur. Alienasi identitas kedirian sebagai minoritas yahudi. Patah hati berkali kali disaat TBC menerpanya.

Hati hati pada jeritan luka, deritanya yang terlambat diamati akan mengguncangkan dunia. Begitulah yang terjadi pada kafka.

Walau demikian, saya khawatir akibat seringnya terpapar asap kegetiran novel itu. Pembaca akan menderita tragic sense of life. Penyakit dengan simptom menganggap hidup hanya keburaman dan kesuraman.

Metamorfosa yang lain saya tandai pada kisah cinta hamid dan zainab. Dalam novel dibawah lindungan kabbah. Pergolakan batin sebab perbedaan strata sosial. Berlanjut pada kondisi merindu kronis. Akhirnya, semua luka itu dibalur perihnya kematian. Tapi bukan buya hamka namanya, jika tak pandai menenangkan hati pengagumnya. Beliau menarasikan kepedihan hidup tokoh begitu indah. Dengan konsep kesabaran, tawakkal.

Yang unik adalah kafka dan hamka, mereka pernah sama terasing. Yang satu terasing di berbagai segi kehidupan. Yang lainnya sengaja diasingkan di jeruji besi. Mereka sama berkarya dalam kondisi itu. Tetapi berlainan dalam memandang hidup.

Dari kedua tokoh diatas saya belajar pada setiap keputusan yang mereka ambil dalam menghadapi kondisi kritis.

Metamorfosis itu menyakitkan. Tapi kamis sungguh hari yang baik, walau tak semua orang menyukainya. Tak usah mendebatnya, mengalahlah untuk sebuah kemenangan moral. Fokus pada bagian yang tak disentuh orang lain. Genangkan air itu meski kau harus membawanya setetes demi setetes.

*) Penulis adalah pengurus KNPI Maros

Facebook Comments