Beranda Cerpen Kalimat Terakhir Untuk Laela (Bagian 2)

Kalimat Terakhir Untuk Laela (Bagian 2)

0
Esye Yusuf Lapimen

 Cimmeng

Suatu sore, Cimmeng sengaja menanti Laela di jembatan gantung, tempat terakhir dia melihatnya bersama Zakariah. Biasanya, Laela akan lewat sepulang sekolah. Dia akan meminta Laela untuk singgah. Tetapi, Penantian terlampau lama hingga membuatnya gundah. Langit telah memerah.

Saat dia hendak beranjak. Jembatan gantung bergerak. Spontan dia melirik. Laela baru saja balik.

“Laela, berhenti”. Mendengar itu, Laela tidak langsung berhenti. Berbahaya bila berhenti di tengah jembatan gantung yang terus menari. Sesampai di ujung, Laela berbalik, lalu memanggil “Cimmeng ke sini”. Yang dipanggil berlari-lari.

“Ada apa?”

“Hmmm… ada yang ingin aku katakan…” belum sempat dia lanjutkan, naluri keremajaan yang menggebu, berangsur-angsur memalu. Lama dia terdiam kaku. Lalu melanjutkan dengan kalimat yang aneh, “Aku hanya ingin mengatakan, bahwa kita dipisahkan oleh aliran sungai yang hendak membuang air ke muara,” suaranya parau.

Dahi Laela berkerut. Dimintanya penjelasan lebih lanjut. Cimmeng merasa tersudut. Malunya tidak mau surut. Pelipisnya berkeringat. Jantungnya berdenyut-denyut. Dia butuh penyemangat. Sesaat, keberanian Cimmeng kembali bangkit. Dia berkata lebih lanjut, “Aku menyukaimu sejak dahulu, hingga suatu saat”. Laela kaget. Serasa darahnya berhenti beberapa saat. Dipandanginya lelaki di depannya dengan sangat. “Bukankah kau tahu, aku dan Zakariah telah dekat sejak dahulu hingga beberapa saat,” Laela menyahut.

“Tidakkah kau mau berpaling darinya? Aku ragu dia dapat menyayangimu melebihi rasaku. Sebab, selama empat tahun lebih, Dia hanya melihatmu sekali setahun. Sedangkan, Aku melihatmu terkadang lebih sekali dalam sehari,” entah dari mana Cimmeng mempelajari kalimat itu, untuk anak lulusan sekolah menengah pertama, tentulah kalimat itu bernilai lebih.

“Cimmeng, aku tidak ingin membahas itu dalam-dalam. Lagi pula, aku anggap kau adikku yang hebat meski berkehidupan kelam,” Laela menimpali. Jelas kalimat itu membuat Cimmeng jatuh harga diri. Disebut adik oleh orang yang dicintai, adalah sebuah pengakuan yang jujur, sekaligus penolakan dengan cara damai.

“Aku kira, kita hanya dipisahkan oleh sungai ini. Ternyata, kita telah dipisahkan oleh rasa, oleh kekayaan, oleh pendidikan, oleh derajat orang tua,” ungkap Cimmeng.

“Aku kira, kau telah salah paham Cimmeng,” Laela menyanggah.

“Aku memang tidak melanjutkan sekolah. Aku hanya seorang nelayan papah. Pergi saat matahari berlabuh. Di laut mendengar petir bergemuruh. Hanya tahu melempar sauh. Kerap berpakaian lusuh. Berkehidupan susah. Lalu mereka menganggapku sebagai musuh.”

“Sekali lagi, Aku kira kau telah salah paham,” kali ini Laela lebih tegas.

Cimmeng tidak peduli, apakah dia salah paham atau tidak. Mulutnya tidak lagi kaku, bicaranya lancar sekehendak. Laela Muak. Cimmeng ditolak.

 Laela

  Di teras. Setelah membaca secarik kertas. Berisikan kalimat-kalimat yang tegas. Tentang ungkapan rasa yang memanas.

Sengaja aku menuliskan kalimat-kalimat ini, agar suaraku yang sering kau sebut cempreng tidak merusak gendang telingamu.

Laela, kau adalah bunga yang harum semerbak. Bunga, bunga desa, idola semua orang, termasuk diriku. Lantas aku bersyukur, sebab kau telah mengidolakanku. Terima kasih untuk itu.

Tetapi Laela, yang harus kau ketahui, setelah jarak memisahkan kita beberapa tahun lalu, meski hati kita tidaklah berpisah. Namun, rasa itu bak amanah yang berat. Aku berusaha membuatnya ringan tetapi sulit. Aku berharap kepadamu, sebagai bunga, tetaplah mekar, agar elok dipandang oleh semua orang. Kelak, jika seorang datang memetikmu kuharap kau bersiap.

Tetapi Laela, yang harus kau ketahui, aku masih bermimpi jikalau orang itu adalah Aku sendiri. Namun, akhir-akhir ini, mimpi itu menjelma menjadi amanah yang semakin berat. Aku berusaha membuatnya ringan tetapi sulit.

Tentunya, kau dan aku belum bisa memastikan keadaan ini. Tetapi, aku akan tetap berusaha untuk mengajakmu yakin akan keadaan. Berbahagialah, bila saat itu datang. Sebagai bunga, pengharapan terakhirku kepadamu, janganlah mencoba untuk layu.    

Sekonyong-konyong hati Laela terpaut. Menangkap makna tersurat maupun tersirat. Sayangnya, penafsiran Laela tidaklah tepat. Kesimpulannya terlalu cepat. Dalam benaknya, disangkanya Zakariah akan datang melamar dalam waktu dekat. Padahal, kalimat-kalimat itu adalah pengunduran diri dengan hormat.

Dalam kalimatnya, Zakariah merasa beban cinta adalah tanggung jawab yang semakin berat dan sulit untuk dijalani, makanya jalannya harus dihindari. Tetapi bagi Laela, kalimat itu berupa pujian yang hebat, karena sebagai hadiah yang telah tulus mencintai.

Membaca lebih lanjut kalimat Zakariah, Laela mengganggap, pujaan hatinya telah memimpikan saat terindah bersamanya. Mimpi itu akan segera diwujudkan apapun resikonya. Sekali lagi, Laela tentunya telah salah memaknainya. Sebab, kalimat itu adalah penegas, Zakariah tidak mampu lagi mempertahankan cinta dan tidak bisa memastikan, sampai kapan mereka akan tetap bersama. Olehnya, Zakariah hanya berharap agar Laela mampu menerima keadaaan dengan lapang dada. Apapun resikonya.

Di akhir kalimat pada tulisan Zakariah kepadanya. Semestinya dipahami Laela sebagai ajakan untuk tegar dalam menjalani perpisahan untuk selamanya. Tetapi lagi-lagi Laela salah, kalimat Zakariah yang berharap agar dirinya menjadi bunga yang tidak menjadi layu, dipahami hanya sebatas pujian atas dirinya.

Apalah daya, Laela hanya siswa sekolah menengah atas, sekaligus pecinta setia. Sedangkan, Zakariah adalah calon sarjana sastra yang mampu merangkai kata menjadi kalimat berwajah ganda. Laela memaknai kalimat perpisahan seindah-indahnya. Sementara Zakariah menuliskan kalimat kesedihan sehalus-halusnya.

Zakariah

Zakariah menemui Cimmeng di tepi sungai. Bulan memantulkan cahayanya dengan damai. Angin berdesir pelan, tapi pasti. Menyadarkan bahwa masalah tidak harus selesai di ujung belati.

Keduanya berusaha untuk berpikir jernih. Membicarakan kehidupan dan kematian yang tak berwajah. Mengumpulkan dan merajut kembali rasa sedih, senang, suka, duka, menjadi kisah. Tetapi, ketika hendak mengurai kisah tentang Laela, keduanya menjadi gerah. Kisah itu membuat segalanya berubah pedih.

Beberapa waktu lalu, setelah mendengar kehendak Zakariah untuk menikah dengan gadis teman kampusnya. Laela memilih jalan abadi. Sebuah  perahu nelayan dia bawa lari, dikemudikannya menyusuri muara dan membela lautan dalam sepi. Beberapa nelayan yang melihat mencoba memburunya, tetapi Laela memacu dengan cepat tak tertandingi. Perahu yang dipakainya hilang kendali lalu terbalik, Laela tak terlihat lagi. Dua hari pencarian, Laela ditemukan mati.

“Padahal aku telah menuliskan kalimat perpisahan. Aku kira dia telah paham dan tegar menerima keputusanku, sebab dia tidak membalas kalimat itu,” kata Zakariah.

“Kamu kira semuanya telah selesai?” Cimmeng menimpali sekadarnya, lalu melanjutkan dengan kalimat yang terasa lembut menyentuh gendang telinga, tetapi memantik api ketersinggungan, “Aku kira sekolah tinggi bisa membuat orang lebih dewasa dan menghargai perasaan orang.”

“Apa maksud kau Cimmeng,”

“Sederhana, kau telah melukai perasaan perempuan yang menaruh harapan terhadapmu. Jadi, kematiannya adalah dosamu,” Cimmeng berbicara sekenanya. Zakariah merasa terhina. Satu pukulan mendarat di pipi Cimmeng.

Tidak terima perlakuan Zakariah atas dirinya. Cimmeng membalas dengan cara lelaki. Mereka bergumul dalam sepi. Saling menghantam tiada henti. Kisah yang dirajutnya sedari tadi kembali mati. Bercerai berai.

Selesai (2/2)

*) Penulis adalah Sastrawan Muda Muhammadiyah

Facebook Comments
ADVERTISEMENT