Home Mimbar Ide Tangisan Alam Merindukan Nurani

Tangisan Alam Merindukan Nurani

0

Oleh : Abd Ghani*

Suara-suara itu begitu bising, melihat si badut yang saling mengutuk, berkompetisi atas nama ambisi bukan solusi. dimana untung diraih disitu kepala mengekor.

Sang jawara tampil di singgasana, bak pahlawan tak berdosa, begitu manusiawi menurut momentum demokrasi, lalu hilang demi menanti lima tahun lagi untuk hadir kembali

Sementara,
di kaki gunung gerombolan monyet menangis kehilangan rumah, akibat ulah sang jelata yang menginginkan hak tapi serakah.
bagaimana bisa cukup.?

Bagaimana bisa, mengharap kesejukan bila alam kau rusak, dikala musim panas tiba kepala terbakar, gunung dikerok oleh tangan raksasa air laut jadi tercemar, pohon ditebang banjir menghantam, lalu merengek mengharap bantuan pemerintah.

Paradigma merusak terlanjur kuat tertanam, toh nanti akan banyak manusia pencitraan cocok dengan kebutuhan. Satu kali japret dengan senyuman eksploitasi cukup sebagai ganti.
Topeng ilusi kini telah akrab bertebaran dimana-mana.

Sementara kau,
yang duduk dalam kelas tertata rapi
yang hanya sibuk menuntut orang lain melayani egomu,
perlu untuk diketahui, sekalipun dunia sudah di pangkuan, tetap saja itu takan pernah cukup

tundukanlah ego itu demi kebijaksanaan
memahami diri dan menerima orang lain
Karena engkau masih memiliki PR besar,
Yaitu,berdamai dari dalam diri, lalu kepada manusia dan ALAM.

Ini adalah tentang tangisan alam merindukan nurani,
monyetnya menangis tikusnya menari
Keawaman pribumi untung bagi politisi
Manusia sadar hanya menjadi penonton sejati
sibuk menghiasi diri demi legitimasi, atau mungkin telah buta sama-sekali.

Seandainya saja gunung-gunung tak dijadikan senjata demi singgasana,
Seandainya saja hutan tak jadi korban keserakahan
mungkin alam ku tak semenderita ini.

Ini adalah suara dari kampung-kampung pinggiran negeri, yang hampir tak terdengar oleh telinga kota, entah !
mungkin jaraknya yang begitu jauh.

Lalu,
kenapa suara macetnya deretaan kendaraan kota terasa dekat menyambar telinga desa.?

Itu selamanya menjadi misteri..!!!

Makasar 18 november 2019

*) Penulis adalah Pengurus DPD IMM Sulsel

Facebook Comments