Home Mimbar Ide Catatan Udang Windu Tahun 2019

Catatan Udang Windu Tahun 2019

0

Oleh : Idham Malik*

Nurdin Abdullah, sebelum terpilih telah menyasar udang windu sebagai target pengembangan. Udang windu begitu menggiurkan jika kita melihat data ekspor dan devisa yang dihasilkan. Juga dampak ekonomi bagi masyarakat kecil kita di desa-desa pesisir.

Nah, sejauh mana kah geliat udang windu ini pada 2019?

Secara umum, udang windu pada tahun 2019 tak begitu didukung oleh kondisi alam. Musim kemarau panjang di tahun ini, mulai terasa pada Agustus, padahal tahun-tahun sebelumnya budidaya udang bisa sampai Oktober. Di tahun 2019, sudah banyak petambak yang mengeringkan lahannya pada Agustus, sehingga jeda pemeliharaan yang lama antara Agustus hingga November berpengaruh pada produksi. Hal positifnya, lahan mengalami pengeringan panjang (walau ada yang tidak kering betul karena masih ada air di caren), sehingga kemungkinan persiapan lahan makin mantap untuk siklus berikutnya. Musim kemarau ini juga membatasi pertumbuhan udang windu, disebabkan oleh salinitas yang tinggi.

Pada awal hingga pertengahan tahun, produksi udang windu terhambat oleh penyediaan benur, baik kuantitas maupun kualitas. Ada hatchery bahkan mengalami kegagalan panen hingga berkali-kali, hal itu tentu berpengaruh pada stok benur. Di samping itu, adanya keluhan-keluhan dari pelaku budidaya mengenai kualitas benur yang di bawah standar, ditandai dengan banyak tambak mengalami kematian dini.

Meski begitu, upaya pemerintah provinsi perlu diacungi jempol. Hatchery pemerintah yang berlokasi di Barru, mulai meningkatkan produktivitas dan membagikan bibit bantuan pada 100 hektar lahan budidaya yang tersebar di 10 kabupaten pesisir di Sulawesi Selatan. Bibit yang digunakan adalah bibit yang berasal dari induk udang windu yang ditangkap di perairan Sulawesi Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan induk lokal Sulsel cukup efektif, jika dibandingkan dengan induk Aceh, yang sebelumnya dianggap lebih unggul.

Induk Aceh malah di awal tahun mengalami persoalan karena kasus kematian induk aceh sebanyak 200 ekor akibat kekeliruan penanganan transportasi. Serta belum menunjukkan tingkat adaptasi baik pada induk maupun benur yang dihasilkan terhadap perubahan mutu kualitas air laut yang digunakan oleh hatchery udang windu.

Di samping itu, respon hatchery-hatchery di Sulawesi Selatan, yang sebelumnya windu dan beralih ke vannamei, belum menunjukkan gejala kebalikan, sehingga menjadi indikator bahwa masih terdapat keraguan dari pihak hatchery untuk memelihara udang windu. Meski jumlah permintaan benur dari petambak cukup tinggi. Sehingga, hal ini juga cukup menyulitkan karena terdapat kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan. Jalan pintas yang telah ditempuh yaitu terdapat penggelondong di Pinrang yang mendatangkan benur dari luar Sulsel. Hal ini tentu bukan jawaban, karena sebaiknya kita menghasilkan benur dari lokasi kita sendiri.

Pemeliharaan udang windu, tampak masih terseok-seok seperti tahun-tahun sebelumnya. Para petambak udang windu di Maros, Pinrang, maupun daerah Luwu dan Luwu Timur belum menunjukkan hasil berupa peningkatan. Daya hidup udang windu, khususnya di Pinrang, masih sekitar 10-20%, bahkan banyak pula di bawah 10%.

Walaupun seperti itu, telah ada upaya keras dari pemerintah untuk menstimulasi produksi udang windu. Pemberian bantuan pada 10 hektar lahan perkabupaten sangat membantu sebagai starting, dalam artian sebagai stimulus dan contoh bagi para pembudidaya sekelilingnya. Mungkin ke depan, perlu ada penyelenggaraan semacam pendidikan petambak satu kawasan pada lokasi tambak yang mendapat bantuan saprodi dari pemerintah. Sehingga, di samping pembinaan langsung di tambak, juga pelibatan petambak yang lain dalam bentuk sekolah tambak.

Pada tahun 2019, lokasi yang dianggap baik sebagai percontohan kawasan dalam pengembangan udang windu adalah Kecamatan Lanrisang, Kab. Pinrang. Di dukung oleh kualitas lingkungan beserta terdapatnya tokoh-tokoh masyarakat dalam budidaya udang, serta kelembagaan yang efektif. Hal-hal yang positif yang telah terlihat di Lanrisang, sebaiknya segera diadopsi atau dikloning ke daerah lain. Lanrisang Effect harus terwujud, demi kejayaan udang windu. Kegiatan panen yang melibatkan Gubernur Nurdin Abdullah pada 26 Desember lalu, sangat baik untuk memicu semangat petambak Lanrisang. Hanya saja, perlu upaya keras untuk pengembangan SDM dan kelembagaan di daerah lain harus didukung, agar memudahkan pencangkokkan teknologi tepat guna yang telah ditunjukkan Lanrisang.

Di tahun 2019, juga mulai gencar gerakan perbaikan lingkungan, seperti rehabilitasi mangrove. Didukung oleh organisasi WWF-Indonesia dan organisasi-organisasi pemuda dan perusahaan udang, penanaman mangrove massif dilakukan di daerah-daerah pesisir Sulsel (Maros, Takalar, Makassar, Pinrang, Pangkep), dalam satu tahun telah dilakukan penanaman seluas 12 hektar dengan jumlah bibit yang tertanam 75.200 bibit. Harapannya, mangrove-mangrove ini bermanfaat bagi perbaikan kondisi air dan pesisir di tahun-tahun mendatang.

Namun, di tahun 2019 ini juga terdapat keluhan-keluhan dari masyarakat, khususnya di Pinrang mengenai cemaran air sungai yang diakibatkan oleh buangan limbah pabrik rumput laut. Dan, sepertinya hingga akhir 2019, tidak menunjukkan resolusi. Sebaiknya, isu ini segera ditangani, sebab jika sudah berlarut-larut, ongkos sosial dan ekonomi sangat besar dan kita tak bisa lagi mengembalikan seperti kondisi semula. Selain itu, keluhan mengenai kondisi muara sungai yang tersumbat, khususnya untuk daerah Mattirosompe, Pinrang. Kurang baiknya muara-muara sungai ini sangat berpengaruh terhadap kualitas air, dan berdampak pada rendahnya produktivitas udang windu dalam satu kawasan.

Pada Desember ini, kami melakukan pendataan kecil-kecilan di daerah Maros, Pangkep, Barru, Takalar, Pinrang mengenai kondisi terkini budidaya udang windu. Di Maros, kami menemukan kondisi yang miris, setelah berkeliling kami hanya menemukan hanya empat tambak yang sudah size 100 ke atas. Banyak tambak yang mengalami kematian udang, khususnya di daerah Bontoa. Begitu halnya di Takalar, hanya tiga tambak yang berhasil ditemukan yang sudah size 100 ke atas, rata-rata masih kecil dan rentan akibat salinitas tinggi. Di Pinrang, hanya kecamatan Lanrisang yang produksinya baik. Kecamatan lain rata-rata baru tebar (terlambat tebar).

Tahun 2019 ini merupakan langkah awal yang cukup serius dari pemerintah, meski ditempuh dengan begitu banyak tantangan, baik dari alam, kondisi benur, infrastruktur muara dan irigasi, maupun dari sumberdaya manusia, yang terlihat dari manajemen pengorganisasian, kerjasama kawasan, yang masih rentan.

Semoga tahun 2020, udang windu menunjukkan geliat yang lebih mantap, dan masyarakat pembudidaya udang windu menjadi lebih sejahtera.

*) Penulis adalah Aquaculture Staff, WWF-Indonesia

Facebook Comments