Home Mimbar Ide Nyanyian Jiwa yang Menderita

Nyanyian Jiwa yang Menderita

0
ADVERTISEMENT

Oleh : Abd Ghani*

Bagaimana mungkin engkau menajamkan orang lain bila kau sendiri tak tajam
Mengasah orang lain bila kau hanyalah batu asah
Meyakinkan orang lain bila kau penuh keraguan
Bagaimana kau mencerahkan orang lain bila kau merasa terselimuti kegelapan
Bagaimana bisa engkau tidur dengan lelap disaat jiwamu memberontak

Andai semua orang adalah pencari, mungkin ia akan mengerti tentang penderitaan.
Derita yang dirasakan Al-gazali atas dahaga pengetahuan yang tak tercukupkan.
Dahaga yang belum terpuaskan oleh seisi lautan
Semakin meneguk semakin kehausan,
Penderitaan yang menuntut jawaban.

ADVERTISEMENT

Derita yang dirasakan Hypatia ketia ia terkungkung oleh kejahilan alexandria.
Ia harus menunaikan keresahan walau ujungnya adalah kematian.

Derita yang dirasakan Galileo bila harus menundukkan ilmu diatas superioritas.
“Dialogue Concerning the Two Chief World Systems” yang menentang teori geosentris.
Ia harus menentang karena tak kuasa jika keresahan itu dibiarkan terkubur

Derita yang dirasakan Marx melihat kolaburasi Agama dan Kekuasan mengeksploitasi proletar.
Walau bagi kebanyakan orang, perjuangan Marx tentang sosialis atheistik layak untuk ditentang, tetap saja ia pernah berjuang.

Derita yang dirasakan syams bila tak menemukan pencariannya,
Hanya jika pencarian itu diperjumpakan yang dapat memenuhi jiwa yang resah
Walau ia tau, membebaskan penderitaan itu akan berhujung pada kematian.
Namun, adakah keadaan yang lebih menyakitkan dari penderitaan yang menikam jiwa

Derita yang dirasakan Muhammad melihat kejahiliyaan kafir Qurays didepan mata,
Dimusuhi dan diperangi tidaklah lebih menyakitkan dari pada kesakitan jika kejahiliyaan itu dibiarkan

Adakah peradaban bisa lahir bila tokoh revolusioner itu tak Menderita
Adakah kemerdekaan diraih bila para pahlawan itu merasa aman-aman saja
Adakah kecerdasan diraih bila guru dan cendekia tak menangisi keterbelakangan.

Mereka harus menderita,
Menderita bukan karena siksaan atau perlawanan,
itu belumlah seberapa.
Tapi penderitaan yang mereka rasakan adalah akibat kepekaan terhadap diri dan Realitas
Penderitaan demi menuntun kehidupan menemukan makna

Lalu,
Apakah engkau merasa baik-baik saja.? !!!
Ketika engkau tak meresahkan apa-apa maka selamanya kau takkan pernah berbuat apa-apa
Tidak menyadari penderitaan adalah keadaan paling menderita.
Dan menjadi pragmatis selalu lebih enteng dari pada perfectsionis..

Lantas, apa makna hidup dan kehidupan …?
Apakah Layaknya dedaunan,!
hidup, tumbuh
Lalu,
layu, lapuk, kering dan mati.?
Ceritapun berahir…

Makassar, 5 januari 2019

*) Penulis adalah Pengurus DPD IMM Sulsel

Facebook Comments
ADVERTISEMENT