Home Mimbar Ide Corona, Menguji Nalar Kita

Corona, Menguji Nalar Kita

0
Ilustrasi

Oleh : Idham Malik*

Tampaknya, Corona menjadi tantangan terbesar bagi nalar manusia, dalam beberapa dekade ini. Melebihi perang, melebihi politik. Asumsi-asumsi pencerahan, yang disuarakan oleh Steven Pinker melalui “Enlightenment Now”, maupun cita-cita manusia untuk menjadi dewa, melalui “Homo Deus” Yuval Noah Harari, seperti terpelanting.

Corona telah membawa kita pada situasi yang asing, hingga nalar kita terhalangi dan tak berhasil memberikan arahan yang benar. Bahkan, sebagian dari kita telah menunjukkan gerak-gerak anti nalar.

Pemerintah, ilmuan, sampai dokter, yang merupakan agen-agen pencerahan, sejak pencerahan itu dirumuskan pada abad ke-17, melalui para filsuf dan gerakan-gerakan yang menentang mitos maupun tahayul dan mengedepankan objektivitas, hingga gerakan politik yang memberi kebebasan pada kesadaran universal masing-masing individu, tak begitu dipercaya.

Kita lebih peduli sama logika akal kita yang lain. Bahwa Corona itu hanya mahluk, hanyalah tentara yang diutus oleh Tuhan untuk memilih siapa-siapa yang dijemput, sebagai bentuk peringatan kepada ummat manusia. Untuk itu, buat apa takut sama Corona, yang mestinya ketakutan itu hanya ditujukan pada Tuhan.

Memang berat untuk menuruti perintah nalar. Bukan hanya mereka yang tampak mabok religiusitas saja yang begitu tak peduli, bahkan kita-kita ini ,yang biasa-biasa saja, begitu berat rasanya tinggal di rumah, seharian. Panggilan untuk ngenet di warkop begitu menggoda. Pikiran masih selalu melayang-layang ke luar. Pada akhirnya, nalar dan emosi bertarung satu sama lain, dan menemukan jalur kompromi, yaitu keluar rumah, tapi tetap menjaga jarak, serta mengurangi kumpul-kumpul dengan banyak orang.

Corona pun menjadi bukti bahwa manusia bukan sekadar agen rasional, tapi juga kebalikan dari itu, bahwa manusia dipenuhi oleh gairah-gairah irasional.

Nah, apakah corona adalah bentukan nalar? Yah, corona adalah buah dari nalar kemajuan manusia. Corona adalah hantu yang dilepas oleh manusia itu sendiri, dalam hal ini efek dari kesadarannya terhadap kemajuan zaman.

Seperti peristiwa lahirnya virus-virus atau penyakit yang lain, campak, cacar, sampar, flu burung dan lain-lain, murni adalah hasil prakondisi manusia tercerahkan. Dalam hal ini homo ekonomicus.

Hal ini ditunjukkan demikian jelas dalam buku Jared Diamond, “Gun, Germs, and Steel”, bahwa virus yang sebenarnya kesulitan untuk bermutasi untuk mempertahankan eksistensi dirinya itu, justru dipermudah oleh manusia melalui praktek-praktek domestifikasi/penjinakan hewan-hewan secara monokultur. Praktek monokultur ini untuk kepentingan produktivitas. Produktivitas itu sendiri untuk memenuhi kepentingan atau hasrat manusia atas keberlebihan.

Sebut saja campak, tuberkulosis, dan cacar lahir dari praktek monokultur ternak sapi. flu dari peternakan unggas dan babi. Sedangkan penyakit-penyakit lain akibat keserakahan pasar dan tidak peduli lingkungan, melahirkan sampar akibat melimpahnya limbah-limbah kotoran rumah tangga. Sedangkan Corona, praktik makan-memakan hewan secara bringas, yang tidak peduli bagaimana uniknya hewan tersebut. Ataupun relasi antara manusia dengan hewan, yang dalam hal ini kalelawar yang tak lagi seimbang (sesuai dengan kondisi natural hewan kalelawar). Meski asal usul Corona belum jelas, tapi itu sudah membuktikan bahwa Corona lahir dari ketidakpedulian manusia terhadap hewan-hewan maupun lingkungan. Dan menunjukkan bahwa manusia lebih mementingkan dirinya sendiri.

Apa yang terjadi, Corona merajalela, Corona tampak lebih cerdas dari manusia. Dia memaksa kita untuk bersin, agar dirinya pindah dan hidup di inang yang baru. Dia menekan kita untuk mengeluarkan cairan, yang dari cairan itu Siti Corona mencari mangsa baru.

Lantas, seperti apa kita harus bersikap? Hal pertama yaitu kita tak dapat lagi memisahkan diri kita dari sains. Sebab, intervensi manusia terhadap alam ini mengharuskan kita untuk terus menerus mencari jalan keluar dari ketidak seimbangan alam, langkah praktisnya yaitu melalui sains. Contohnya berupa penemuan vaksin untuk virus-virus menular dan berbahaya. Langkah kedua adalah mengikuti perintah nalar untuk mawas diri dan melindungi diri, mengikuti perintah ahli untuk tinggal di rumah.

Tapi, jika kita ingin mengantisipasi datangnya Corona-Corona baru, otomatis langkah fundamental yang harus kita lakukan yaitu tidak lagi menerapkan model budidaya atau peternakan yang bersifat eksploitatif. Kita harus mematuhi perintah nalar yang kuno, bahwa manusia hidup bersama hewan-hewan, tumbuhan-tumbuhan dalam alam raya. Manusia tidak dapat lagi semena-mena terhadap mahluk-mahluk lain.

Sebab, menurut Masanobu Fukuoka, pemuka pertanian organik dari Jepang mengatakan, hadirnya penyakit menandakan kita telah menjauh dari alam. Corona tak lain adalah interupsi alam terhadap keganasan kita, yang telah mengobrak-abriknya, dengan segala kepenuhan kewarasan kita.

*) Penulis adalah Aktivis Muda Muhamamdiyah dan penggiat lingkungan

Facebook Comments