Home Mimbar Ide Ruang yang Berbeda

Ruang yang Berbeda

0
Ermansyah R. Hindi
ADVERTISEMENT

Oleh : Ermansyah R. Hindi*

Cukup sulit dilupakan, bahwa salah satu tantangan besar dunia di abad dua puluh dengan segala kepenuhan dan patahan, ketumpang-tindihan dan kenetralan, ketidakstabilan dan keterbalikan, permukaan dan kedalaman, keteracakan dan rangkaian menjadi pernyataan atau tema yang tidak terelakkan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ruang yang berbeda memengaruhi kedekatan-kedekatan, yang selanjutnya akan berubah pada perbedaan yang lebih jelas. Tatanan representasi dari apa yang dilihat oleh seseorang tidak dapat dipisahkan dengan peniruan, kemiripan, cermin, dan benda-benda lainnya melintasi garis-garis permukaan gambar. Di sekitar permukaan kata-kata dan benda-benda disusun dengan tanda dan akhir dari bentuk representasi yang mendekati ruang, wujud yang disusun sesuai ciri-ciri dan nama berbeda saling silang dengan identitas dan jenis yang mirip. Apa yang mirip dan yang berbeda dalam ruang?

Meskipun secara tidak langsung mengarah pada berbagai paradoks secara diam-diam telah kita kenali, tetapi tanda-tanda muncul dalam ruang yang tidak terpikirkan menandai lebih di luar dirinya sebuah ketidakhadiran pembatasan, menggantikan kedudukan benda-benda yang berbeda dan yang mirip. Ruang yang tidak terpikirkan dimaksudkan adalah tanda dan jejak tanpa hirarki ruang yang distel sedemikian rupa. Despasialisasi ruang adalah ruang yang tidak terpikirkan dan merupakan titik tolak pergerakan dari utopia ke heterotopia ruang. Ruang yang hanya dilihat dari permukaan benda-benda secara telanjang merupakan ruang yang diinderai atau ruang perseptual. Tetapi, ruang murni yang membuat seseorang terus-menerus bergairah untuk berpikir yang tidak terpusat hingga mempertimbangkan kembali tentang kemungkinan ruang heterogen dan berbeda muncul diantara ruang yang mirip dan benda-benda menyatu dalam satu identitas disebut dengan ruang intelektual. Keduanya, ruang perseptual dan ruang intelektual, tetapi mengarah pada suatu pembentukan ruang pengetahuan. Dalam pembagian ruang yang membuat ketidakjarakan ruang umum dan ruang pribadi, meninggalkan ruang yang homogen dan tunggal lebih dilibatkan suatu lapisan bahasa atau jaringan pembicaraan secara intim yang masih merujuk pada ruang libidinal. Semuanya itu sebagai akibat dari perbedaan yang bersifat internal, tetapi bukan ruang konseptual (seperti ditunjukkan dengan tatanan paradoks dari objek atau benda-benda asimetris menopengi benda-benda simetris). Berbeda halnya dengan kenampakan ruang dinamis lebih ditentukan dari masing-masing sudut pandang pengamat yang terikat pada ruang tertentu, bukan dari kedudukan eksternal yang menandai obyek.

ADVERTISEMENT

Ruang tanda melibatkan dirinya melalui heterogenitas setidaknya dalam cara yang berbeda: pertama, pada objek dan benda-benda yang memancarkan dan membentuknya yang lain. Tentu saja, pada tingkat yang berbeda seakan-akan orang-orang mengalami peristiwa dari benda-benda berada dalam urutan ukuran atau ruangnya sendiri yang berbeda di mana tanda muncul sekejap; kedua, dalam diri mereka sendiri, karena suatu tanda yang menempati ruang akan menyelubungi ‘objeknya sendiri’, bukan obyek lain. Dalam batas-batas objek yang dimilikinya, dan menjelma menjadi kekuatan alam; dan terakhir, dalam perbedaan yang mereka peroleh, dalam tanda-tanda bergerak ke arah tanda-tanda baru. Karena itu, setiap pergerakan benda-benda hanya menanggapi pada apa yang ‘menyerupai’ tanda yang sesudahnya muncul dalam peristiwa. Kita hanya dapat mengisi ruang, bukan ‘membentuk’ atau ‘menyebarkannya’. Dalam pengulangan peristiwa yang berbeda. Setiap saat kita mengisi ruang, maka ruang yang silih berganti segera membentuk dan menyebarkan dirinya. Heterogenitas yang membantu ruang untuk membentuk dan menyebarkan dirinya agar keluar dari sisi dalam dirinya, yang membuat seseorang akan mengisi dan memadati dalam keadaan telah tersebar. Ruang tanda yang menggantikan dan membentuk dirinya memang berbeda dengan ruang menyebarkan dirinya, keluar dari batas-batas pengamatan. Seseorang tidak akan mengigau hanya karena eksistensi dari penampakan wujud bergerak seiring dengan ruang yang bergerak secara otomatis dalam dirinya sendiri.

Sejauh ini, individu perlu mengungkapkan bagaimana perbedaan berlipat ganda dalam ruang yang berbeda bukanlah kontradiksi yang melekat pada eksistensi, tetapi, bahwa perbedaan tidak dapat direduksi kembali dalam perbedaan. Sisi perbedaan yang berlipat ganda dalam ruang yang berbeda mengatasi kontradiksi, karena sisi perbedaan akan menjelaskan pengukuran kedalaman dan permukaan benda-benda. Perbedaan berlipat ganda dalam ruang yang berbeda menuju ruang kosong dari kemiripan permukaan gambar yang terbalik. Selanjutnya, ruang persepsi kita yang terakhir bekerja menurut perbedaan yang diproyeksikan ke ruang yang curam, bergelombang dan datar. Batas-batas pengulangan dari permukaan wujud berbagai benda-benda dan diatasi dengan rangkaian pengulangan imajinasi tanpa batas-batas sekaligus melanggar ruang yang juga tanpa batas di luar dirinya. Ketika perbedaan berlipat ganda dalam ruang yang berbeda pada akhirnya digiring menjadi kekuatan identitas yang sebelumnya ditetapkan. Ruang yang tinggi, dari ruang yang berada di atas puncak tidak memengaruhi suatu tempat yang diletakkan dalam kemiripan yang identik. Sebaliknya, ruang tanda yang membuatnya mencerminkan kejelasan identitas dan tentu membawanya ke mana identitas; ingin ke arah mana identitas tidak menentukan ruang yang berada di bawah, sebuah ruang yang berada di dasar jurang tanpa kedalaman.

Ruang internal betul-betul menggambarkan apa-apa yang berada di luar sisi pemikiran dan pembicaraan kita. Pemikiran dan pembicaran yang direfleksikan diganti oleh pengulangan yang berbeda yang tidak membingungkan bagi individu yang berada dalam ruang perseptual dengan ‘permukaan yang sama’ yang menopang eksistensi. Ruang permukaan “kota baru” berdasarkan ruang perseptual akan dikacaukan dengan apa yang direfeksikan. Mulut yang berbicara berbeda dengan tindakan yang berulang-ulang dalam ruang pemikiran. Seseorang berbicara, berkarya dan bermain bukan hanya melibatkan ruang pemikiran, tetapi juga ruang imajinasi. Kedua ruang itu dijamin ruang yang dibentuknya tanpa batas. Pemikiran dan pembicaraan merupakan ruang yang berbeda antara pengulangan dan kemiripan ruang lainnya yang berada dari ruang yang berada di luar. Ruang yang berbeda yang berada di luar merupakan ruang keluarga dan ruang sosial, ruang bumi dan ruang antariksa, ruang atmosfir dan ruang hampa udara, ruang santai dan ruang kerja. Semuanya bisa saja berada dalam pengulangan imajiner sebagai ruang tanpa batas. Pengulangan imajiner bukanlah permasalahan pengulangan peristiwa yang nyata atau bukan. Tanda-tanda dan jejak-jejak direpresentasikan tidak lebih dari pengulangan yang memungkinkan bergerak melalui ruang internal dengan segala macam gambar yang mampu direfleksikannya ke luar. Mereka ada karena pengulangan imajiner betul-betul nyata dalam ruang internal. Demikian pula, ruang yang berbeda yang berlipat ganda dari perbedaan menjadi pengulangan yang berbeda dan berulang-ulang secara nyata terjadi dalam imajinasi. Seseorang berimajinasi dalam ruang gedung pencakar langit, berada di benua antartika bahkan menginjakkan kakinya di planet lain karena ruang yang dikenalnya merupakan penyilangan antara ruang internal dan ruang yang berada di luar. Ruang yang berbeda yang terjalin dalam relasi dengan pengulangan bukan hanya tidak pernah berhenti untuk mengungkap dirinya sendiri, tetapi juga pengulangan lebih dari cukup pembentukan ruang pengetahuan. Satu muslihat perbedaan yang dikerahkan bagi kita dalam ruang representasi tidak ada yang tunggal dan menyerupai benda-benda imajiner. Perbedaan yang berlipat ganda dalam ruang yang berbeda mendiami pengulangan yang tidak bertempat, ia dipisahkan dari perbedaan di ruang yang sama. Sebaliknya, ruang imajiner yang berbeda menyediakan penampakan wujud yang datar, memanjang, cekung atau cembung dibuka melalui ruang yang berbeda. Di bawah pengulangan yang bergelimang dengan ruang yang berbeda memungkinkan kita untuk bergerak dari satu urutan pengulangan ke urutan yang lain, yang memungkinkan pemikiran tentang bumi, antariksa, taman, rumah, dan ruang kosong memiliki kedalaman yang tidak ditarik kembali ke bentuk pengulangan yang terakhir. Individu mesti kembali pada pengulangan dimana ditemukan dari titik tolak. Semuanya perlu kembali pada pembagian ruang yang berbeda yang menunjukkan sisi kemiripan dan perbedaan mereka. Dalam keadaan ruang yang saling silang, jejak-jejak dan benda-benda tertuju pada ruang imajiner yang tiba-tiba muncul dalam pengulangan; benda-benda diletakkan dan dibentuk dalam ruang yang berbeda, dari pengulangan seketika yang menyingkap selubung kemiripan sendiri ke pengulangan yang ditandai dengan ruang kesenangan pada taman yang dipenuhi oleh aneka bunga atau kota-kota yang tertata rapi. Perbedaan memungkinkan kita untuk beralih dari satu pengulangan tanda ke tanda yang lain. Setelah mereka memberikan nama-nama yang mudah dikenang kembali untuk membangun kalimat-kalimat, perbedaan-perbedaan yang belum jelas, ruang yang berbeda menuju gambar yang diimajinasi dari belakang.

Karena itu, seseorang memungkinkan untuk mengulangi kenangan dalam ruang yang intim dan berbeda di hadapan penampakan wujud sebelum kehancuran kemiripan nama-nama dan cara untuk memisahkan mitos dari ruang geometri yang menyatukan kota dengan tamannya.

Dunia adalah ruang, tetapi ruang menuju sebuah teater. Perbedaan adalah kenampakan teater dalam ruang yang berbeda sama sekali tidak kelihatan di lokasi, tetapi ruang internal dipentaskan dimana perannya menggantikan aktor dengan ruang yang kosong. Ruang mendominasi peran dan tanda mendematerialisasi ruang. Berikut, menurut kompleksitas tanda dan hubungannya dengan ruang lain, kekerasan melebihi penataan benda-benda dalam ruang yang kosong, dimainkan pada beberapa suara malapetaka ruang. Tetapi juga cara dimana penulisan ruang-ruang yang berbeda meluas ke permukaan benda-benda, menempati sebuah wilayah materi. Suatu kata-kata tertulis didasarkan pada ruang yang menampakkan mode wujudnya dalam ketidakhadiran kontradiksi, tetapi dalam perbedaan. Sebagai contoh, ruang internal warna tidak harus tunggal dengan cara dimana ia menempati suatu ekstensitas, dimana ia masuk dalam perbedaan terhadap warna lain, apa pun afinitas antara kedua proses pembentukan ruang. Ia telah dijanjikan pada makhluk hidup tidak hanya didefinisikan secara genetis, tetapi dinamisme yang menentukan lingkungan internal, lagi pula secara ekologis meninggalkan jejaknya dalam ensiklopedia dan planetorium. Dari jejak-jejak petualangan ekologis merupakan perbedaan tanda-tanda diantara benda-benda atau tatanan alam lainnya. Titik pergerakan eksternal yang memimpin distribusinya dalam suatu ekstensitas. Sebuah penulisan benda-benda yang berdekatan, tanpa menyerupai penampakan wujud lainnya; kata-kata yang tertulis memasuki proses geografis mungkin tidak kurang terbentuk dari spesies daripada variasi genetik internal dan kadang-kadang lebih mendahului yang terakhir. Semuanya bahkan lebih rumit ketika kita menganggap bahwa ruang internal itu sendiri terdiri dari beberapa ruang yang kosong harus terintegrasi secara lokal dan terhubung. Bahwa keterhubungan tanda-tanda representasi merupakan perbedaan yang tidak terelakkan, yang dapat diarahkan dengan banyak cara, yaitu diantaranya mengosongkan kemiripan penampakan wujud, mendorong benda-benda atau kata-kata ke batas alfabetiknya sendiri. Semuanya berhubungan dengan eksterior dan bahwa keterhubungan dengan eksterior untuk membatasi penampakan wujud dengan perbedaan ilusif yang ia sendiri perkenalkan menjadi sesuatu kecuali ruang eksternal yang memikat. Karena itu, dalam penulisan ruang-ruang selalu dikaitkan dengan benda-benda yang tidak tunggal dan homogen. Teks tunggal menyiratkan pada pergiliran titik keterhubungan dan integrasi jejak yang berbeda dalam satu jenis dari kemiripan sebelumnya. Dimana-mana kenampakan teater mengisi ruang yang kosong. Beberapa level, tanda-tanda tidak lagi tertidur dalam ruang kata-kata tertulis.

Seseorang memiliki pemikiran tentang ruang teater, kekosongan ruang, cara di mana ia diisi dan ditentukan oleh tanda-tanda dan topeng. Ruang dimana setiap aktor memainkan peran yang memainkan peran lain dalam malapetaka ruang. Mode berpikir sesuai malapetaka ruang adalah tanda-tanda dan jejak-jejak terbengkalai pembacaannya di saat bagaimana pengulangan dibentuk dari satu titik berbeda ke titik lainnya, termasuk ruang perbedaan yang melekat padanya.

Ruang tanda menghadirkan peristiwa benda-benda yang disisipi dan didinamisasi oleh teater pengulangan bertentangan dengan akhir dari teater representasi. Perhatian kita pada tanda-tanda yang memola pergerakan, yang menentang konsep dan representasi dan merujuknya kembali ke konsep tersebut. Dalam teater pengulangan, kita mengalami kekuatan murni, garis dinamis dalam ruang yang bertindak tanpa perantara pada tanda-tanda yang menelan perbedaan antara gambar dan pantulan di bawah cahaya ruang yang kosong. Perbedaan dan heterogenitas ruang internal menghubungkannya langsung dengan teks tertulis dan ruang yang kosong bagi suara kebenaran, dengan bahasa yang berbicara sebelum kata-kata, dengan pergerakan yang berkembang sebelum tubuh yang terorganisir, dengan topeng di depan wajah, dan dengan bayangan gelap dan hantu di depan di bawah cahaya siang hari di ruang yang kosong. Seluruh rangkaian pengulangan sebagai ‘kekuatan membentuk malapetaka ruang’. Sayangnya, kita masih melihat rangkaian miniaturisasi malapetaka ruang seiring dengan ruang geometri. Mungkin juga, garis-garis dari ruang geometri merupakan garis-garis dinamis dalam kehidupan.

Bagaimana perhatian pada pemikiran bergerak dari arus tema besar ke tema kecil, tetapi, dia merefleksikan dirinya, dibandingkan menjawab seluruh pertanyaan. Misalnya, adakah titik jenuh sentuhan psikologi klinis dalam menyembuhkan pasien atau terpidana, atau memenuhi seluruh permintaan konsumen pasar sebelum model teoritis disusun kembali berdasarkan petunjuk dasar dari pengetahuan? Subyek di luar teks bukan memposisikan dirinya sebagai peletak dasar model pengenalan asal-usul kuno atau pemiripan gen bawaan, tetapi, aliran model teoritis dari berbagai disiplin ilmu bergerak terus menerus, diisi ulang dan diperbaharui. Singkatnya, kita mesti keluar dari segala penjuru dari ruang pengetahuan yang tidak becus pada tema tentang dirinya sendiri, sekalipun predikatnya tidak berada didalamnya. Model teoritis sekedar berjuang untuk melawan keluhan dan rasa sakit, berarti diberkahi sebagai sesuatu yang mulia di dalam ingatan yang sulit untuk dilupakan dan dirawankan dengan rangkaian relasi. Tanda-tanda akan muncul, tatkala kita keluar dari segala hal yang membelenggu dibalik penetapan asal-usul dengan tematik besar yang dibentuk oleh gagasan, bahwa kesenangan merupakan wilayah kejahatan yang berbahaya. Bukan kebutuhan atau produksi terlepas dari nilai guna dan nilai tambah menjadi masalah besar, tetapi, hilangnya tema dan konsep tentang bagaimana praktek kesetiaan pada monogami, pedagogisasi sebelum berkeluarga atau pendidikan seks anak sejak dini. Sampai di sini, menerima penggunaan bentuk-bentuk relasi perbedaan, keperpihakan dan lompatan jauh kedepan dari kekuatan filsafat atau ilmu pengetahuan, bukan mencari rangkaian luar, samar dan bertolak belakang dengan titik ingatan sebagai jejak-jejaknya yang ditinggalkan oleh konsep tentang tubuh dan teks, kekerasan dan pembungkusan, ketidakhadiran dan kekosongan. Misalnya, relasi antara keadaan, kebenaran, dan penanganan kesenangan yang terlokalisir. Ruang di balik rangkaian peristiwa baru melebihi fenomena-fenomena yang tidak pernah muncul sebelumnya, tidak peduli apakah bergerak linier, sekular, spiral atau tidak. Rangkaian dan peristiwa tidak berdasar pada bentuk permukaan belaka; bukan pula sesuatu hal yang tidak perlu dijenuhkan dalam penantian panjang. Peristiwa bukanlah drama serial, yang di dalamnya dapat saja bergaya aneh, lawakan, dan menyebalkan, tetapi, tidak untuk mengaburkan ingatan terhadap satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Setiap ada peristiwa bukanlah “alur”, “ganti rugi”, “proses”, “kebetulan”, “eksklusifitas”, “inti” atau “substansi” dari alam. Apa yang kita saksikan sendiri tentang peristiwa hanyalah sisi pergerakan aksiomatik dari immaterialitas ke materialitas. Me tidak menampilkan dirinya di tempat yang sama, tetapi, dalam ruang yang berbeda di luar dirinya. Karena jaringan ruang teater mengisi ingatan dengan dirinya sendiri; disamping immaterialitas, tempat dimana pengaruh akan dimunculkan secara beriringan. Sehingga, suatu peristiwa tidak berusaha membawa momentum-momentum sebagai penampakan biasa untuk kembali kepada rangkaian dan peristiwa yang sama. Tetapi, sebaliknya, ia tetap tidak berhenti untuk membentangkan ingatan kita memasuki jantung wilayah kemunculan peristiwa-peristiwa; dari pembentukan relasi-relasi dengan bergerak maju kembali dan sampai memberikan peluang perjuangan tidak henti-hentinya. Jika tidak, ia tidak lebih monumen yang dicanangkan untuk dibaca atau dilintasi ulang. Titik relasi antara permikiran dan teks, akhirnya, tidak mampu mengisolasikan dirinya dalam menyimpan jumlah buku dari ingatan individu. Kadangkala, suatu proposisi tidak lagi bersifat psikopatologis, tetapi, ia cenderung memilih tinjauan ekstra ilmiah, seperti mitologi atas orang kesurupan akan dipandang sebagai bentuk ketidakseimbangan antara logika dan kalimat, ia tidak muncul menjadi gejala pikiran di dalam susunan yang teracak-acak atau tidak seimbang dalam motif, ruang dan waktu dari peristiwa yang berbeda dan pada gejala yang sama. Layak untuk disuarakan, bahwa tidak akan pernah bertahan lama pantulan sekunder, karena hal-hal yang primer dari gagasan selalu tidak terpisah dengan jumlah keadaan yang tidak terhitung dari peristiwa. Geometri, mitologi dan kedokteran muncul diantara pengujian konsep-konsep lama menjadi bidang ilmu pengetahuan atau disiplin ilmu tidak akan pernah lengkap apa yang dimilikinya, tanpa berkesudahan untuk menangani keadaan pikiran yang muncul tenggelam dalam peristiwa yang berbeda. Tidaklah terburu-buru diingat kembali, bahwa filsafat tidak untuk dipertentangkan dengan disiplin ilmu yang bersifat medis. Begitu pula peristiwa dan rangkaian dari skandal, korban kausalitas dan rencana jahat, nampaknya tidak sebanding dengan anak-anak setiap saat terancam oleh penampakan gadis yang cepat tumbuh menjadi dewasa, pendidik serta siswa yang puber, pebisnis dan bujang yang karuan, suami otoriter atau kejam, seorang sableng (murni) dikurung, rumah tangga yang berantakan dan sebagainya tidak terpaksa untuk memasuki peristiwa tanda menjadi saksi sekaligus hakim dalam peristiwa-peristiwa berikutnya. Materialitas kesenangan yang meruang begitu sulit untuk dihakimi, kecuali ketidaksalurannya pada sesuatu.

Dalam ruang pengetahuan memungkinkan ketidakhadiran miniaturisasi pada benda-benda di sekitar kita yang menyimpan jalinan relasi antara perbedaan dan heterogenitas muncul di tengah penemuan virus tertentu dalam butiran air saat seseorang mengidap flu. Dari sinilah, malapetaka ruang penyakit menerima ruang pengetahuan bagi penemuan lain yang sama sekali tidak terduga. Tetapi, tanda itu dapat lebih mudah ditemukan dari seseorang yang berpenyakit yang berbeda. Bukanlah ruang mikrobiologis sebagai sumber pandemi, tetapi ketidakhadiran ruang pembebasan dari bahaya tanda-tanda kehidupan. Ruang pengetahuan seiring dengan ruang pandemi dan ruang yang kosong menghilang dalam ruang geometri. Ruang tidak lebih dari jaringan orgastik, dimana seseorang dapat menyalurkan beban imajinasi, pikiran dan kesenangan yang memberi sekaligus membuat ruang lainnya. Ruang yang semacam ini tidak dibentuk atau dibuat oleh eksistensi atau ruang eskternal, melainkan ruang yang dibuat oleh imajinasi atau kesenangan. Terhadap jaringan orgastik tidak bertentangan dengan ruang geometris selama garis-garis menjadi sintesis obyektif yang menyelimuti ruang mikroorganisme patogen sebagai penanda atas perbedaan dalam ruang pandemi dan ruang non pandemi, ruang penularan kata-kata tertulis dan ruang teks tidak tertulis.

Pada bagian dalamnya, tanda-tanda malapetaka alam sebagai keseluruhan menutupi apa-apa yang terlihat hanyalah malapetaka ruang sebagai bagian dari garis-garis yang tidak kencang atau kerutan yang ada pada kulit tubuh manusia. Setelah Cogito Cartesian, bagaimana seseorang bisa mengetahui berapa derajat garis kepala ketika sedang membaca atau menulis benda-benda atau ruang-ruang yang kosong dari warna, ukuran dan selera. Bagaimana tanda-tanda nampak dalam jaringan malapetaka ruang yang kehilangan pesonanya? Jaringan malapetaka ruang secara kreatif tidak memiliki keterkaitan dengan Cogito Cartesian apabila hanya terpaku pada kedalaman ruang berdasarkan sensasi luar. Dalam pemikiran modern, kedalaman ruang menurut ikatan badaniah ditinggalkan oleh jaringan kedalaman dan perluasan kesenangan, imajinasi atau selera. Jaringan kedalaman ruang menurut persepsi diubah dengan kedalaman hasrat melebihi ruang yang kosong dari tanda-tanda malapetaka alam. Seseorang akan melihat rangkaian peristiwa kausal menurut teks Descartes dalam Discourse on Method berada di luar tanda-tanda malapetaka ruang ketika pada orang yang sama yang melihat ruang yang kosong dengan cahaya yang memancar dari mata seperti gelap gulitanya dunia. Kekuatan jaringan tanda malapetaka ruang terlihat dari ruang yang kosong ketika seseorang berada dalam peristiwa pembunuhan. Dalam cara yang serupa dan dari ruang yang berbeda tangan dan wajah yang terpancar cahaya dari mata seseorang setelah berbuat jahat nampak mencerminkan jiwa yang ada didalamnya sebagai ruang internal yang telah redup. Disanalah pengenalan jejak, tanda, huruf atau kata-kata tertulis mengakhiri penularannya sesuai dengan penularan wabah dalam peristiwa yang berbeda lapisan bahasa yang digunakan. Jaringan tanda apapun yang ada pada malapetaka ruang meninggalkan ruang yang kosong seiring dengan pemikiran Descartes (1960 : 201). Akhirnya, kita tidak mengetahui kembali tanda-tanda bahwa telah terjadi kehancuran berbicara atau mengungkapkan kebenaran dalam ruang publik. Dari sini, tanda-tanda malapetaka ruang diiringi dengan ketidakhadiran ruang kebenaran. Karena hal lain, seseorang masih mengetahui jika berbicara atau menuliskan kebenaran berarti menuliskan ruang yang kosong, yang berlipat ganda ruang dusta dalam jaringan ruang yang berbeda.

Ketidakhadiran ruang kebenaran dari subyek sebagai ‘ruang dusta’ atau ‘ruang yang kosong’ berbeda dengan ‘proses menjadi’ tidak lagi memancarkan cahaya yang akan menerangi pancaran ruang yang lain sebagaimana bintang menerangi kegelapan bumi dan langit di malam hari. Orang buta tidak selamanya bertahan memegang tongkat, sekalipun tubuhnya masih kuat untuk melepas semua beban analogi padanya. Seakan-akan ruang yang kosong menolak untuk dimiripkan pada ‘memberi mereka ruang’ atau ‘membuat ruang’ menurut pemikiran Martin Heidegger (Being and Time, 1962 : 146). Tanda-tanda malapetaka ruang terkesan sebagai kiasan nampak bertentangan dengan dengan latar belakang ‘membuat ruang’ justeru ‘membuat ruang yang lain’ tidak lebih dari proses pembentuk ruang kebenaran ilusif sesuai cara membuat ruang yang kosong. Bintang menerangi kegelapan bumi dan langit di malam hari betul-betul merupakan akhir dari perjalanan ‘membuat ruang’ yang dicampur-adukan dengan pemikiran rasional. Suatu pengetahuan tentang ruang-ruang telah ditemukan oleh ahli planologi dan penulis atau filsuf Yunani dan Romawi.

Konsep paling penting untuk diwaspadai dalam kaitannya dengan peristiwa-peristiwa besar yang disodorkan kepada kita, di tengah pembentukan relasi-relasi adalah kelimpahan, kecantikan dan teritorialitas. Ada dua bentuk kelimpahan yang saling berinteraksi sebesar tanda kuasa, yaitu kelimpahan konsumsi dan kelimpahan konsep. Dalam ruang yang kosong, kelompok figur yang diorganisasikan dengan susunan-susunan yang tidak pernah diubah dan diisi oleh produksi, arus dimana kelimpahan tidak lebih sebagai kedangkalan dan kekosongan. Hasrat bukanlah suatu arus dari kelimpahan, tetapi, tingkat jelajah konsumsi yang memiliki kemampuan untuk menyebarkan peristiwa-peristiwa baru menjadi penemuan produksi kekerasan dari hiperealitas. Suatu produksi murni dalam peristiwa sehari-hari tidak lebih pantulan konsumsi atas citra sebagai kesenangan yang tertulis dan tergambar, misalnya, citra sinema atau televisi terlepas dari makna yang diberi efek oleh produksi hasrat. Unit-unit penandaan yang tercitrakan tersebut diselendupkan di dalam peristiwa akibat pilihan program, pembingkaian, rancangan, dan cara teknik. Ia bukanlah bagian dari pembentukan analogi; kesenangan mengkonsumsi memiliki ereksisasi makna melintasi tema dan posisi dari tata bahasa dan proposisi. Titik celah dari konsep tersebut terletak pada saat tema dan rangkaian yang telah tersusun telah dituangkan kedalam obyek hasrat menjadi rantai “erektor kedudukan”, bukan dari keadaan dan wilayah pembentukaan relasi-relasi, seperti, relasi ekonomi di dalam produk parfum atau sabun. Dunia nyata yang melimpah dari relasi-relasi tidak dibentuk dengan tatanan konsep dan sesuatu yang merayu tidak muncul di balik obyek, melainkan dengan mata telanjang melalui relasi konsumsi dan kesenangan yang teracak dan terintegrasi. Ia tidak disebarkan antara tubuh dan penanda, tetapi diantara keduanya yang berakhir kepusingan, yakni kesenangan. Jadi, membaca teks dan ketidaksadaran bukanlah bonus alam, tetapi dalam kesatuan pembentukan relasi-relasi; bukan dalam produksi, tetapi, dari dalam keresahan atau kegelisahan. Keresahan melupakan produksi kebenaran. Jika terbentuk relasi antara keresahan dan hiperteori, produksi tontonan tanpa ruang menghilang dalam dirinya sendiri. Produksi tontonan tidak lebih kuat dari malapetaka ruang tanpa teori yang penting dibentuk dalam tema pusat keseimbangan. Ketidakhadiran atas kedangkalan dan kekosongan, berarti, peristiwa kesenangan berbeda dengan hasrat selama memanfaatkan tubuh sebagai tontonan tanpa ruang yang tunggal dan homogen. Produksi tontonan tanpa perbedaan ruang tidak memiliki keadaan yang jelas, dari keadaan ruang diterima di luar peristiwa. Tetapi, ruang penyingkapan sekaligus penggiringan dan penghasutan, karena kualitas yang melekat pada dirinya dapat dikuantitaskan di dalam jumlah orang gelisah berpikir setengah puyem menuju lompatan-lompatan baru.

Arus khayalan menyatu dalam arus kalimat dan proposisi yang berbeda-beda. Kini, kita berharap seluruh puisi, lukisan, nyanyian, teka-teki, gagasan, dan kartu ingatan yang beredar menimbulkan malapetaka ruang datang dari penjuru alam. Anda menyenangi segala sesuatu yang bernuansa alami dari benda-benda yang terlihat. Jenis, nama dan spesies makhluk hidup cukup menantang untuk dibaca atau ditulis sebelum kehendak muncul di tengah-tengah hingar bingar penampakan, tempat dimana rentetan peristiwa dilangsungkan. Tanda-tanda malapetaka ruang bukanlah teks yang tertulis atau membaca sesuatu yang terkait dengan relasi-relasi pengetahuan dan perbedaan ruang yang dapat diterima menurut aksioma kuantitas. Setiap wilayah perbedaan yang muncul ditengah-tengah pembacaan atau tulisan tentang benda-benda dan tentang berapa panjang, lebar atau diameternya di luar organisme tumbuh-tumbuhan dan binatang merupakan ciri-ciri umum dari benda-benda yang mereka tandai atau catat. Tetapi, benda-benda yang berada dalam jaringan malapetaka ruang cepat terlupakan dalam rangkaian kalimat dan proposisi baru. Oleh karena transformasi berlangsung dari kata-kata tertulis ke arus aksioma ditantang oleh arus kesenangan yang tidak terpikirkan. Sesuatu yang berlawanan di dalam rangkaian peristiwa yang ada keterkaitannya dengan arus modal akan selalu didampingi atau bahkan melekat di dalam arus hasrat, jika adegan tidak diartikan sebagai suatu hal yang merangsang malapetaka ruang atau ketidakseimbangan alam, sebagaimana petualangan tanda-tanda dan kata-kata menelan paragraf melebihi lapisan cogito. “Saya berpikir, maka saya menantang arus”. Karena itu, arus uang hanyalah efek atau implikasi arus proposisi atau aksioma menyangkut relasi-relasi material yang diukur menurut kuantitas yang dibentuknya. Ruang bukan lagi seperti aksioma kuantitas, tetapi, serangan balik dari logika perjuangan untuk membebaskan relasi-relasi yang telah dibentuk oleh cara atau arus produksi nyata akibat muncul di balik kekosongan atau ketidakhadiran nalar kritis yang tidak mampu memancarkan kalimat dan proposisi mengenai titik kesenangan sebagai ruang kekerasan, justeru ditantang oleh kebenaran lain, seperti, logika kebutuhan diri seakan-akan tidak ada ujung pangkalnya. Menyangkut logika kebutuhan selalu dikaitkan dengan arus modal dan arus hasrat, tidak terlepas dari pembentukan kuantitas. Dalam rangkaian peristiwa benda-benda yang ditandai setelah ketidakhadiran kembali suatu perkabungan, imajinasi tanpa batas dan kesenagan yang meluap-luap atas sesuatu direproduksi oleh permukaan merupakan ambang batas antara kesenangan atas ruang pustaka dan kematian persepsi atas ruang. Mungkin dematerialisasi ruang, berarti arus kata-kata tertulis tidak keluar darisumbu yang sama dengan ruang kesenangan sebagai tempat dimana konsep yang beragam datang padanya, seperti tubuh untuk menegaskan fungsi dan tema kesenangan. Kehadiran aktor, ‘sang Lain’, penonton-pinggiran, dan pembacaan pada benda-benda dalam ruang yang berbeda.

Pada satu hal, pertukaran atas ‘permukaan benda-benda’ dan ‘obyek merujuk pada tubuh’. Hal lainnya, titik permukaan tersebut dari asal-usulnya tidak berkedok melaui penampilan luar, melainkan permukaan dirinya sendiri. Tabir tersingkap melalui sisi gelap dan kosong dari ruang. Pergerakan ganda dari tidak nyata, sisi gelap dan kosong menjadi transisi bagi kesenangan pada yang nyata. Ruang transisi memisahkan antara kecanduan dan kesenangan pada sesuatu yang bersifat eksternal. Orang-orang akan melihat gambaran kesenangan dengan apa-apa yang ada dalam benaknya terhadap suatu yang telah mengalami pertukaran obyek sekaligus benda-benda. Hasrat dan nafsu melintasi ruang tanpa bergerak di luar benda-benda menjadi pemenuhan obyek pengetahuan. Keduanya berbeda saat kekuatan untuk kata-kata semakin berhubungan dengan sisi gelap dan kosong dalam ingatan dan fantasi. Parfum atau lipstik tidak dapat dipisahkan dengan pertukaran kesenangan antara pikiran dan warna, fantasi dan aroma, hasrat dan suara mendesah dibalik tubuh non organik (pengulangan-simulakra). Lain lagi, prinsip pengulangan internal yang bergerak dari ruang-ruang imajinasi, fantasi, ingatan, dan kenikmatan ke ketidaksadaran lainnya jika tidak ada pengendalian atas kontaminasi bagian batin akan mengarah pada kedalaman yang gelap dan kosong, sehingga membuat kemunduran sedikit demi sedikit.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Facebook Comments
ADVERTISEMENT